Pengalaman belanja online dari Korea (+ sekilas tentang barang yang aku beli)

Berawal dari membaca review di sebuah blog tentang cleansing brush bermerk Tosowoong. Mungkin ada yang belum tau, cleansing brush adalah alat bantu buat cuci muka. Jadi kalo kita biasanya cuci muka dengan facial wash menggunakan telapak tangan aja, tapi dengan cleansing brush kita membersihkan wajah menggunakan sikat mikro yang lembut dan halus yang mampu membersihkan sampe ke dalam pori-pori. Dengan begitu, wajah kita menjadi lebih bersih dari debu-debu dan kotoran-kotoran. Si empunya blog melakukan review terhadap pemakaian cleansing brush ini selama beberapa lama pemakaian, dan foto before-after wajahnya memang menunjukkan hasil kulitnya menjadi lebih halus dan bersih. Kalo penasaran, googling aja dengan keyword: buleipotan blog+tosowoong. Bener-bener bikin mupeng pengen beli juga. Ini penampakan cleansing brush tersebut:

image

Di blog tersebut, Si Empunya blog menunjukkan link langsung ke online shop dimana bisa membeli Tosowoong brush itu. Namun ketika aku klik link-nya, menunjukkan halaman error. Setelah aku konfirm ke si empunya blog, ternyata memang online shop tersebut udah tutup alias gak jualan lagi.

Karena udah terlanjur naksir berat sama tuh Tosowoong Cleansing Brush, aku browsing-browsing lagi buat nyari mana yang jual. Entah aku yang kurang teliti atau gimana, tapi aku gak nemu online shop yang trusted di Indonesia. Ada sih yang jual di lapak-lapak online seperti tokopedia, lazada, dan semacam itu. Tapi terus terang aku gak berani beli disana, karena tidak ada jaminan itu barang asli. Kalau baju atau sepatu KW masih gakpapa ya, tapi kalo sikat wajah, sikat buat muka dapet yang KW… trus muka kita kenapa-kenapa… ih, gakmaulah. Punya muka bermasalah itu gak nyaman tau. Bikin minder, bad mood, cenderung males ketemu orang, dll (kalo aku sih gitu, dulu, waktu mukaku bermasalah).

Akhirnya nemu juga situs online yang kunilai trusted, yaitu http://www.wishtrend.com . Wishtrend tuh jual kosmetik dan skincare dari Korea, lokasinyapun di Korea. Jadi, barang yang kita beli ya dikirimnya dari sana. Kalo kepo, silahkan aja cuss ke websitenya. Yang pertama-tama perlu kita lakukan ya sign up dulu. Masukkan data-data diri kita. Setelah itu, sok atuh pilih apa aja yang mau dibeli, tambahkan aja ke keranjang belanjaan. Kalo udah selesai pilih-pilihnya, silahkan pilih metode pembayaran. Aku sih pake kartu kredit, soalnya gak ngerti soal paypal-paypalan.

Dari website wishtrend, baru aku tau kalo tosowoong brush yang ada di blog tadi itu ternyata sekarang ada versi barunya yaitu Tosowoong 4D Cleansing Brush:

image

Apa bedanya Tosowoong 4D brush ini dengan Tosowoong yang di blog tadi? Kalo yang di blog tadi, dia tuh gak ada mesinnya, jadi bener-bener cuma sikat yang kita gerak-gerakin menyapu wajah dengan menggunakan ‘tenaga’ tangan. Tapi kalo yang versi 4D ini, dia pake baterei AAA, ada tombol on-off nya. Jadi kalo mau pake, simply tinggal tekan tombolnya, dan bzzzzz…. sikat akan bergerak dengan circular motion. Tinggal tempelin dan gerak-gerakin deh di wajah. Karena fiturnya lebih canggih, tentu saja harganya juga lebih mahal. Nih perbandingan harganya, 2 kali lipat lebih kan:

image

Aku memutuskan buat beli yang versi 4D. Oh ya, disini bisa milih mau pengiriman cepat (5 hari nyampe), atau yang biasa aja (3-4 minggu nyampe). Karena ongkos yang pengiriman cepat cukup mahal, aku pilih yang pengiriman biasa aja, yaitu dengan ongkos 9 USD. Aku beli waktu itu tanggal 9 Januari 2016, dan barangku dimasukkan ke Kantor Pos Korea tanggal 13 Januari.

Karena ini pertama kalinya aku pesen barang dari luar negeri, makanya excited banget (norak ya? ya biarinlah. Namanya juga baru pertama. Wkwkwk…). Kan setelah kita melakukan pembayaran, maka kita akan mendapat email yang isinya link tracking Korea Post atas pengiriman barang. Ya, saking semangatnya, hampir tiap hari aku cek, sampe mana progressnya:

image

Coba cermati gambar di atas. Setelah tanggal 18 Januari, tracking itu tampak berhenti. Aku cek besok, besok, dan besoknya lagi, masih saja belum ada progress. Kayak mandeg sampe disitu. Lama-lama resah juga. Akhirnya pada tanggal 2 Pebruari aku pergi ke kantor pos besar di daerahku untuk menanyakan hal ini. Di Kantor Pos, aku gak tau mau nanya ke siapa (waku itu sudah jam 6 sore. Customer Service sudah tidak ada. FYI, Kantor Pos besar disini buka sampe jam 8 malam). Akhirnya aku ambil aja antrian ‘kiriman barang’. Ketika antrianku dipanggil, aku bertanya ke Petugas Loket, dimana aku bisa mendapat info tentang pengiriman barang dari luar negeri?

Oleh Petugas Loket, aku diminta ke gedung belakang Kantor Pos, karena disanalah tempat barang-barang dari luar negeri berada. Oke, akupun cuss kesana. Aku bertanya pada petugas disana, dengan menunjukkan tracking numberku yang dari Korea Post. Dan yang bikin shock, petugas berkata bahwa hasil pencariannya nihil. Barangku bahkan belum tiba di Jakarta, begitu katanya.

Sesampai di kosan, aku masih kepikiran. Akhirnya aku browsing-browsing sendiri bagaimana cara melacak kiriman dari luar negeri. Ketemu! Aku disarankan supaya ngecek di web EMS Indonesia. (Oh ya, yang di gambar tracking Korea Pos di atas itu, meski nampaknya mereka menulis tracking tanggal demi tanggal dengan runtut, tapi sebenarnya mereka tidak real time menulisnya, alias tidak pada saat itu juga. Karena waktu itu aku cek tiap hari juga tetap mandeg di tanggal 18 Januari. Kurasa yang status setelah tanggal 18 Januari itu, mereka baru mengupdatenya sekarang-sekarang ini. Karena mandeg itulah, makanya aku mencari second opinion di EMS).

image

Ternyata ada! Horray… barangku gak jadi ilang \(^_^)/

Apa yang bisa kita simpulkan disini? Jadi gini: ketika tracking dari Korea Post (18 Januari) menunjukkan status Departure from outward office of exchange , itu artinya barang sudah tidak berada di Korea, sehingga lebih baik kita trackingnya di web EMS Indonesia saja. Barang itu sudah berada di Indonesia, jadi yang lebih akurat update-nya adalah EMS Indonesia.

Dengan semangat baru, aku terus pantengin EMS tiap hari. Dan akhirnya, tanggal 9 Pebruari kemaren barang dinyatakan sudah sampai di Kantor Pos sini. Yay! Tapi karena ada libur Galungan 3 hari, aku gak bisa ngambil paket itu. Hari ini, 12 Pebruari sudah bukan hari libur lagi, alias hari kerja. Aku tadi berencana akan ke Kantor Pos pada jam istirahat kantor untuk mengambil paket. Eh… ternyata pagi-pagi, sekretaris kantor menelpon ruanganku dan bilang kalo ada paket untukku. Dan supaya aku mengambilnya di ruangannya dan membayar ongkos Rp 3 ribu untuk pos. (Ya, aku pernah baca kalo pengiriman dari luar negeri kan biasanya bungkusnya dibongkar-bongkar dulu sama bea cukai. Trus Kantor Pos mempacking ulang paket tersebut. Dan biaya Rp. 3 ribu itu ya ongkos untuk packing tadi).

Akhirnyaa… sampe juga deh barangku. Setelah satu bulanan menunggu. Muahaha….

image

Advertisements

Karena Wanita Ingin Terlihat Cantik di Depan Lelakinya

Mungkin beritanya udah agak basi, tapi gak basi untuk dibahas sih.

Beberapa bulan yang lalu, dunia perseleban (?) Indonesia sempat dihebohkan dengan perubahan wajah yang cukup drastis dari artis dangdut Nita Thalia. Ya, wajah manis nan bulat khas Indonesia itu tiba-tiba berubah drastis menjadi ramping dan tirus seperti wanita Korea.

image

Konon katanya, operasi plastik itu dilakukan dalam 5 tahap dan menghabiskan biaya sampai 1 M, walau di beberapa berita Nita sempat membantah bahwa jumlah itu tidak benar. Yang menarik, ketika ditanya mengenai alasannya ‘merombak’ total wajah dan tubuhnya, Nita menjawab,”Karena niat saya melakukan ini murni untuk membahagiakan suami, untuk mempertahankan keharmonisan rumah tangga saya,” (dikutip dari wawancara GO SPOT RCTI).

Seperti biasa, hal-hal yang belum lazim di Indonesia pasti akan menimbulkan pro-kontra, termasuk berita Nita Thalia ini. Tapi aku tidak ingin membahas itu. Aku ingin membahas alasan Nita Thalia, yang ingin tampil cantik di depan suaminya. Cerita ini mengingatkan aku pada cerita Jocelyn Wildenstein.

Jocelyn adalah seorang sosialita di New York, istri seorang milyuner bernama Alec Wildenstein. Suatu hari Jocelyn memergoki perselingkuhan suaminya dengan seorang model muda berusia 19 tahun. Alih-alih menceraikan suaminya, Jocelyn justru berusaha merebut cinta suaminya kembali, dengan melakukan operasi plastik. Jocelyn mengubah wajahnya melalui pisau operasi, sehingga menjadi mirip kucing. Operasi itupun menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Ia berpikir bahwa dengan mengubah wajahnya mirip hewan kesayangan suaminya, maka suaminya akan mencintainya lagi. Namun sayangnya operasi wajahnya gagal, sehingga hasilnya mengerikan. Pada akhirnya, Alecpun menceraikan Jocelyn.

image

Mungkin beberapa dari kita menganggap mereka berlebihan. Ngapain sih sampe segitunya, terima diri sendiri apa adanya aja kenapa. Kita kan udah terlahir sempurna. Bla bla bla. Yah, yang menganggap kayak gitu gak salah juga sih. Tapi aku gak hendak membahas itu. Aku hanya ingin melihat dari sisi lain, dari sisi upaya seorang wanita. Bagaimana kerasnya usaha seorang wanita untuk dicintai suaminya. Bagaimana kerasnya upaya wanita untuk mendapatkan predikat cantik di hadapan suaminya.

Aku tau rasanya. Karena aku pernah merasakan itu.

Aku pernah merasakan sakitnya saat tanpa sengaja mengetahui suamiku menyimpan banyak foto cewek seksi dan cantik antah berantah yang diperolehnya dari facebook. Di hapenya dan di laptopnya. Dia simpan banyak. Dan dia mengakui kalau dia seringkali berfantasi dengan foto-foto itu, dan bahwa itu adalah kebiasaannya sejak dari lama.

Aku sungguh sakit ketika mengetahui itu. Rasanya harga diriku sebagai wanita langsung terhempas. Aku merasa buruk, tidak menarik. Sejelek itukah aku sampai suamiku bahkan harus repot-repot mencari bahan untuk fantasinya?

Saking sakitnya aku, aku sampe bilang ke suami waktu itu,”silahkan kamu cari wanita yang sesuai fantasimu itu untuk kamu nikahi. Yang seperti di foto-foto itu. Biar kamu gak perlu repot-repot nyari bahan untuk berfantasi kayak gitu.”

Suamiku memang sudah meminta maaf, dan berjanji untuk menghapus semua foto-foto itu dan tidak akan mencari lagi. Yah, entahlah. Aku juga tidak tau apa aku harus percaya padanya atau tidak, mengingat bahwa mengubah kebiasan adalah bukan hal yang mudah.

Mungkin kalian menganggapku berlebihan. Wajar kok laki-laki nyimpen foto kayak gitu. Begitu mungkin yang ingin kalian bilang. Tapi salahkah aku kalau aku ingin menjadi satu-satunya wanita yang menarik bagi suamiku? menjadi satu-satunya fantasinya?

Salahkah?

 

Pengalaman Mengurus Kartu BPJS untuk PNS

Sebenarnya udah dari kapan dulu Ibuku ngoprak-ngoprak aku buat ngurus BPJS.
“BPJS tuh penting. Bulik Is (saudara sekaligus tetangga sebelah), kemaren aja pas berobat buat sakit kuningnya cuma bayar dikit, karena dia punya BPJS. Kalo dia gakpunya BPJS, bakal puluh-puluhan juta bayarnya,”begitulah Ibuku panjang-lebar mempromosikan BPJS. Aku iya-iyain aja, dan masih belum kuurus karena malas.

Sekarang aku sedang hamil 8 bulan. Ibuku gak bosan-bosannya ‘menterorku’. Setiap sms/telfon selalu ngingetin,”buruan ngurus BPJS. Bentar lagi kamu kan lairan.”
Hadeeh.. iya deh, daripada terus-menerus diteror Ibunda, akhirnya hari ini aku ke Kantor BPJS Denpasar. Lucky me, hari ini adalah Hari Raya Galungan, yang artinya adalah libur fakultatif di Instansi-Instansi Pemerintah. Artinya lagi, Kantor BPJS alamat bakal sepi, jadi aku akan ngantri gak terlalu lama. Yay!

Sekedar info, dulu aku sebenernya udah pernah dateng ke Kantor BPJS, nanya ke bagian informasinya, gimana cara supaya aku dapat Kartu BPJS. Kata teman-teman kantor sih, karena aku PNS, jadi sebenernya aku udah otomatis terdaftar sebagai peserta BPJS. Cuma belum dapat kartunya ajaa gitu. Trus Si Petugas ngasih aku selembar kertas kecil yang isinya adalah daftar berkas yang harus dilampirkan:

20160211_120056.jpg

BPJS di hari normal gitu antriannya sak-hohah. Kayak satu kampung tumplek blek disana. Karena udah pusing duluan liat antriannya, makanya waktu itu aku males ngurusnya.

Ini mumpung lagi Hari Raya Galungan, libur fakultatif selama 3 hari (Selasa, Rabu, Kamis/9, 10, 11 Februari), maka perkiraanku Kantor BPJS akan sepi. Kesempatan nih, biar gak ngantri lama. Karena sekarang Hari Kamis, hari terakhir libur fakultatif, semalam aku bela-belain keliling nyari cetak foto yang buka (yah, banyak yang tutup). Akhirnya dapet juga. Walaupun ternyata keesokan harinya aku tau kalo perjuanganku sia-sia karena ternyata foto 3×4 yang tercantum di persyaratan itu gak diminta saat di Kantor BPJS.

Tadi pagi, sebelum berangkat ke BPJS, sempat terjadi kehebohan kecil karena aku baru nyadar kalo aku gak punya fotokopi KTP dan fotokopi KK. Mau memfotokopi KTP juga gak bisa, karena KTP ku masih di Jawa, lagi dipake buat ngurus KK baru. Ya, KK ku masih KK lama, masih ngikut orangtua. Sementara aku udah menikah selama 1 taun lebih, dan bentar lagi melahirkan anak pertamaku. Mau gak mau kudu ngurus KK baru, soalnya perlu buat bikin akta kelahiran anakku nantinya.

Cek cek hardisk eksternal, seingetku aku punya softcopy scan KTP. Ada ternyata, yey!
Sayangnya, gak ada softcopy scan KK. Akupun pulang ke kosan. Di kamarku juga aku bongkar-bongkar map gak ada. Agak putus asa, aku sms Ibu:”kayaknya aku masih belum bisa ngurus BPJS, soalnya gakpunya fotokopi KK.”

Trus dibales sama Ibu:”mau ibu kirimi fotokopi KK dari sini?” Haduh ribet. FYI, ibuku tinggal di Jawa.

Oh ya, masih ada satu tempat yang belum kucari: di dozer kepegawaian kantor. Aku segera balik lagi ke kantor, ngacir ke bagian Umum/Kepegawaian, bongkar-bongkar dozer…. ternyata ada! Oke, persyaratan lengkap. Langsung cuss ke Kantor BPJS.

Sesampai disana, bener perkiraanku, kantornya sepi. Hanya ada beberapa motor yang parkir. Aku menuju bagian informasi, dan berkata ke Petugas:”Saya mau cetak kartu BPJS.”

Petugas:”sudah daftar atau belum.?”
Aku      :”Saya sebenarnya sudah terdaftar dari dulu, karena saya PNS. Tapi belum dapat kartu.”

Trus sama petugas aku dikasih antrian Cetak Kartu: nomor urut B-25. Waktu aku duduk di ruang tunggu, antriannya sudah sampai nomor B-20. Aku nunggu gak terlalu lama, sekitar setengah jam kayaknya. Pas lagi nunggu itu aku diajak ngobrol seorang ibu yang juga sedang mendaftar BPJS,”bayinya gak sekalian didaftarin mbak?” tanya Si Ibu sambil melirik perutku.

Aku:”emang bisa Bu? kan masih di dalem perut.”

SI Ibu:”bisa kok.”

Aku:”Walah.. KK saya yang ngikut suami aja belum punya Bu. KK saya masih ngikut orangtua.”

Oke, kembali ke loket. Begitu antrianku dipanggil, aku langsung menuju loket. Kuberikan berkas-berkasku ke petugas. Petugas bertanya kepadaku:”ini Ibu terdaftarnya di Faskes Buleleng. Mau di-update datanya?” Memang sebelum di Denpasar, aku bertugas di Buleleng. Di kantor yang di Bulelenglah aku terdaftar BPJS.

Aku:”Oh iya, boleh. Bisa nggak di-update ke Surabaya aja?” soalnya nanti aku rencana lahiran dll di Surabaya, di tempat suami. Ya, aku dan suami memang pasangan LDR.

Petugas:”Bisa, Bu. Silahkan ambil formulir perubahan data dulu di meja informasi” Oke, formulir sudah kuambil, kuserahkan lagi ke Petugas Loket. Si Petugas loket yang ngisi, aku tinggal tandatangan sajo. hohoho.

Aku:”nah, misal nanti suatu hari saya mau mengganti jadi Faskes Denpasar lagi, bisa gak?”
Petugas:”Bisa Bu, nanti tinggal datang aja ke Kantor BPJS terdekat, minta di-update datanya. Tapi penggantian data baru boleh dilakukan paling cepat 3 bulan setelah update data terakhir ya Bu.”

Okay. Cukup jelas. Si Petugas kemudian menyerahkan selembar kertas print biasa padaku, print hitam putih. Isinya adalah e-ID BPJS ku. Dia minta maaf karena print kartu warnanya sedang habis. Agak kecewa karena kukira aku akan dapat kartu BPJS yang bagus dan berwarna. Tapi kata Si Petugas, itu sama aja fungsinya. Dengan print e-ID itu, itu aku bisa menggunakan layanan BPJS sebagaimana mestinya. Yah, mungkin ntar aku laminating aja kali ya biar gak rusak.

Huh, selesai. Gak lupa lapor ma Ibu biar hatinya lega karena aku dah punya kartu BPJS. Hahaha…

Ini penampakan kartunya. Maap kalo data diri disensor.

bpjs paint.jpg
Tampak Depan
20160211_121105[1].jpg
Tampak Belakang

 

 

Aku dan Jerawat (bagian 3)

Oke, sekarang masuk ke bagian 3. Buset dah ya, cerita jerawatnya kok jadi panjang gini -_-”

Setelah browsing-browsing, dapetlah aku info kalo cara untuk mempercepat menghilangkan bekas jerawat or bekas luka adalah dengan cara mikrodermabrasi, chemical peeling, ataupun laser. Semuanya bisa dilakukan di klinik kecantikan atau dokter spesialis kulit. Meskipun gaktau kapan bekas luka ini akan hilang (perkiraanku sih perlu waktu bertahun-tahun, mengingat betapa parahnya kondisi saat itu).

Browsing-browsing lagi, dapetlah aku sebuah klinik kecantikan yang bagus dan salah satu yang termahal di Indonesia, yaitu Miracle Aesthetic Clinic. Waktu itu tahun 2010. Demi kecantikanku (*halah), aku bela-belain tiap sebulan sekali menempuh perjalanan 3 jam pergi ke kota lain (karena pada saat itu aku tinggal di kota kecil yang gak ada Miraclenya) untuk perawatan MDPP (Micro Diamond Peel Plus). Jadi kayak semacam pengelupasan kulit mati gitu pake diamond tip. Gunanya untuk mempercepat pertumbuhan sel kulit baru, yang artinya mempercepat hilangnya bekas lukaku juga. Sekali perawatan menghabiskan Rp. 700ribu, tambah lagi 100ribu kalo mau menggunakan masker (bisa milih masker buat acne atau buat whitening). Plus topi cream (krim anti-iritasi) seharga 100ribu. Topi cream ini dioleskan ke wajah 2 kali sehari, selama 3 hari pasca MDPP. Topi cream ini bisa dipake sampe dengan 4 kali MDPP.

Selain itu, di Miracle aku dikasi cream perawatan berupa acne base gel dan acne sunscreen (untuk dipake di pagi hari), differin gel untuk malam hari, serta sabun TDF yang varian neutral cleansing bar. Yang krim-krim pagi itu adalah racikan dari apotek Miracle, sedangkan yang krim malam dan sabunnya adalah produk keluaran luar negeri. Krim paginya total sekitar 150ribu. Krim malam yang mahalan, 400ribu kalo gak salah. Sabunnya 150ribu. Forgive me kalo aku gak bisa menyebutkan harganya dengan tepat. Aku nulis seingatku aja. Maklum, udah lama cuy. Udah 5 tahun yang lalu coba! Rangkaian skincare ini bisa dibilang murah sebenernya, soalnya lumayan awet. Untuk krim pagi, satu potnya bisa untuk pemakaian 2 bulan. Differin gel bisa dipake sampai dengan 4 bulan. Sabun wajahnya bisa dipake buat 3 bulan.

Selama pemakaian itu, aku merasa mengalami improve yang lumayan signifikan (setidaknya menurutku). Meskipun menurut temenku Si Wati, dia tidak melihat perubahan di wajahku (ya iyalah, baru juga sebulan. Gak mungkin langsung kinclong kayak mukanya Syahrini). Tapi aku, sebagai empunya muka, merasakan perubahan. Pelan tapi pasti, noda-noda di wajahku semakin menipis. Taunya darimana? dari dempulan cuy. Seperti yang kuceritakan sebelumnya, aku memakai bedak two way cake untuk menyamarkan noda-noda, supaya tampilan wajahku gak parah-parah amat. Dan bagian yang memerlukan ekstra dempul tentu saja tompelku (baca post sebelumnya untuk tau asal mula ‘tompel’ ini). Tapi setelah aku perawatan di miracle dan rajin pake krim-krimnya itu, semakin hari semakin tipis dempul yang kuperlukan untuk menutupi si tompel. Tapi bukan berarti tompelnya ilang lho ya. No… masi lamaaaa keles! Jadi singkatnya gini: misal biasanya aku perlu 5 sapuan spons two way cake buat ngecover tompelku (tebel? ya emang, soalnya item banget tu tompel), trus setelah sekian lama perawatan, aku gak butuh sapuan sebanyak itu. Jumlah sapuan yang kupelukan menurun bertahap: 4 sapuan, trus jadi 3 sapuan, trus jadi 2 sapuan, dan lama2 jadi 1 sapuan, dan lama-lama bekas itu sangat-sangat tipis sampe aku cukup pede gak sapuan, eh gak bedakan lagi maksudku. Dan semua proses dari tompel yang tebal sampai berhasil menjadi bekas yang sangat tipis itu makan waktu 1,5 taun. Yah, lama ya.

Kalo menurutku ya, yang ngefek banget ngilangin tompel, eh bekas lukaku itu adalah differin gel. Tuh obat mengandung adapalene (turunan vitamin A). Dan memang tokcer banget mempercepat regenerasi kulit. Progresnya kurasakan hari demi hari setiap kali ngaca dan nyentuh kulit. Dan hanya perlu satu tube aja (habis dalam waktu 4 bulan), sampai kondisi wajahku jadi acceptable (setidaknya acceptable menurutku). Efek sampingnya? ada sih, tapi gak begitu ganggu: cuma stinging sensation aja di kulit wajah ketika diusap handuk seusai cuci muka, dan gampang merah kulitku kalo lagi gerah. Tapi toh biarin aja, namanya juga lagi dalam masa pengobatan.

Differin ini buatan Jerman, gak ada di Indonesia. Miracle Aesthetic mengimpornya untuk pengobatan jerawat dan bekas jerawat. Dan sayangnya, belakangan ini differin gel sudah discontinue, karena mereka sudah menggantikannya dengan krim racikan mereka yang bernama SBM. Aku dah pernah merasakan SBM juga, tapi ya sori to be honest… jauhlah kalo dibandingkan differin gel hasilnya. Yang penasaran penampakan differin gel…. this is it:

image

Bisa dikatakan perawatanku di Miracle ini berhasil. Setelah beberapa bulan berjalan, wajahku lambat laun jadi mulus, flawless. Noda-noda, tompel, dan segala macem item-item ilang semua. Ah, jadi bening pokoknya kulitku. Suatu hari pernah masuk ke sub bagian umum di kantorku. Sekretaris kantor yang namanya Sari ngliatin aku terus, and komen:”kamu bening banget sih sekarang.”

Oh really? Aku aja gak sadar kalo kulitku secantik itu.

Trus pernah juga pas renang, temenku Si Tuti ngliatin mukaku, dan dia bilang,”kamu pake bedak apa sih, kok gak luntur kena air?”
Aku: “haah….aku gak pake bedak kok hari ini.”

Well, saking ratanya warna kulit wajahku, saking flawlessnya, sampe-sampe dikira pake make up. Lol!

Dan sudah berapa orang yang nanyain aku:”kulit kamu bagus banget, perawatan dimana?”
Kujawab di Miracle, dan kemudian orang-orang yang bertanya itu pada ngikutin jejakku, perawatan disana.

Ya, masa-masa indah itu, masa-masa aku kenyang pujian, sampe suatu hari aku memutuskan untuk berhenti perawatan disana. Loh, kenapaaaa?

Penasaran?

Tunggu di postinganku selanjutnya eaah….

Aku dan Jerawat (bagian 2)

Gila, semangat banget aku nulis blog malam ini. Mungkin karena tadi seharian aku bobo’ mulu, jadinya sekarang melek terus.

Oke, bagian 2 ini adalah masa-masa selepas aku lulus kuliah. Kemudian aku bekerja sebagai PNS dengan gaji yang lumayan cukuplah. Wajahku masih aja jerawatan, masih aja item-item. Suatu hari, pas jalan-jalan ke sebuah mall… aku dan temanku mampir ke counter The Body Shop. Terpesona sama produknya yang packagingnya cantik dan keliatan mahal (emang mahal keles). Kemudian dengan polosnya aku membeli rangkaian seri vitamin E (warna pink): krim siang, krim malam, facial wash, exfoliator cream. Total Rp. 700ribuan. Ah, kecil. (Songong, mentang-mentang baru ngrasain punya gaji). Sampe di kosan, kupake secara teratur rangkaian perawatan itu (dan bedak two way cake tetep dong). Lama-lama kulitku makin sering jerawatan. (Ternyata, di kemudian hari, barulah aku tau kalo seri vitamin E itu untuk kulit kering. Pantes aja!).

Berhubung aku sekarang udah kerja kantoran, akses internet di kantor tanpa batas…. kemudian jari-jariku yang kreatif ini mulai menuliskan sesuatu di google: cara menghilangkan jerawat. Voila… ketemulah aku sebuah artikel tentang bahan-bahan alami untuk mengatasi jerawat. Salah satu yang bisa digunakan adalah bawang putih. Caranya: tumbuk bawang putih, tempelkan di jerawat Anda, maka jerawat akan segera mengempis.

Oke! Kebetulan di kamar kosku ada cobek dan bawang putih.
Tumbuk-tumbuk, tempel-tempel.
Dua puluh menit kemudian, area yang ditempel bawang putih itu terasa panas. Pas ngliat kaca, aku langsung pengen menjerit. Kulit itu jadi merah sekali, kayak melepuh, luka bakar. Luasnya sebesar uang koin 500 an (lebar ya T.T). Aku buru-buru ke kamar mandi cuci muka. Berharap ini hanyalah reaksi sementara. Berharap abis itu kulitku berangsur-angsur normal kembali. Tapi harapanku gak terkabul. Kulit itu semakin terasa menebal dan mengeras, kemudian menjadi keropeng. Bisa kamu bayangin betapa paniknya aku waktu itu? Aku dah cukup jelek dengan item-item bekas jerawatku, sekarang ditambah lagi luka keropeng sebesar koin 500an ini, yang terpampang nyata di pipiku. Terkutuklah yang menulis artikel sesat itu!

Esoknya ketika masuk kerja, aku mengaku ke orang-orang kantor kalo luka itu kudapat karena aku kecipratan minyak pas menggoreng telur. Soalnya aku malu kalo mesti cerita sebab yang sebenarnya, karena kupikir konyol dan bodoh banget. Selama beberapa hari itu aku disibukkan oleh usaha-usahaku menyembuhkan luka. Mulai dari ke klinik A, kemudian ke rumah sakit B, ke klinik C yang di luar kota, kemudian ke rumah sakit D. Panjanglah pokoknya perjalanan. Luka itu lama keringnya. Entah karena infeksi atau apa. Setiap aku keluar dan kena angin rasanya perih dan nyeri. Tapi syukurlah obat pengering luka dari rumah sakit D manjur, sebulan kemudian luka itu akhirnya kering, meninggalkan bekas yang lebar, sangat hitam, dan cekung (karena kulit terkikis). Aku sadar kalo itu akan butuh lama sekali untuk bekas luka itu supaya hilang, dan aku pasrah aja. Tiap hari kuoleskan salep Nutrimoist dengan sabar. Sambil aku browsing-browsing tentang cara untuk mempercepat menghilangkan bekas itu. Tapi kali ini aku gakmau gegabah, aku gakmau lagi pake cara-cara yang gak jelas.

Perasaanku selama mempunyai luka itu? Bayangin sendiri deh, mulai dari dipanggil Tompel atau Tembong oleh teman kantor, sampe 3 kali batal dilamar oleh 3 pria yang berbeda karena luka sialan itu 🙂 . Mana alasannya mengada-ada lagi. Tiba-tiba bilang belum siap nikahlah, tiba-tiba putus kontak tanpa kabarlah, tiba-tiba udah punya pacar barulah. Tapi gakpapa sih, yang penting sekarang aku dah punya suami yang baik dan ganteng 😀

(Bersambung ke bagian 3 ya, supaya gak pening yang baca).

Oh ya, ada yang ketinggalan nih, aku dapet browsing-browsing tentang apakah ada orang yang mengalami seperti yang aku alami: melepuh karena bawang putih. Ternyata ada, banyak. Bener-bener deh gak habis fikir, kenapa sih orang-orang pada tega memberikan tips sesat kayak gitu. Jahat deh.

image

image

image

Aku dan Jerawat (bagian 1)

This will be a long post. Brace yourself 😀

Dari dulu aku gak pernah bermasalah sama jerawat. SD, SMP, SMA… mukaku bersih. Gak pernah jerawatan. Masa puber yang kata orang sering nimbulin jerawat, aku gak ngalami tuh. Padahal aku gak pernah pake perawatan kulit apa-apa. Kulit wajahku benar-benar polos. Ke sekolah cuma pake bedak tabur aja. Baru waktu kelas 3 SMA aku mulai berkenalan dengan skincare. Aku pake pelembab Ponds yang ijo aja buat ke sekolah. Bedak gak kupake lagi. Cuci muka tetep pake air aja (belum kenal namanya sabun wajah, facial wash, dll).

Pas SMP aku pulang-pergi sekolah naik sepeda kayuh. Lumayan jauh perjalanan (15-20 menit). Kulit terpapar matahari dan polusi… tapi tetep aja gak jerawatan. Gosong sih iya, tapi jerawat? no, gak ada blas!
Pas SMA juga, aku pulang pergi naik motor. Pake helm yang tanpa kaca… dan wajahku tetep terpapar matahari dan polusi. Dan tetep aja wajahku tidak pernah dihinggapi jerawat (cuma jadi item aja. Hehe..).

Oke! Sekarang kita beralih ke bangku kuliah. Sekarang saatnya aku jadi mahasiswi. Ritual kecantikanku kutambah satu: yaitu mulai menggunakan facial wash (seri Ponds juga, yang ijo juga). Entah karena Ponds, entah karena aku jarang terpapar matahari (kosanku ke kampus deket, dan aku jalan kaki. Sepanjang jalan juga gak banyak kena matahari)… maka kulit wajahku lama2 menjadi cerah lagi, kembali ke warna asli. Pernah ada satu kejadian, waktu itu bulan puasa, aku tidur-tiduran di depan tivi di ruang tengah kosan, trus ada temenku, namanya Mbak Dinda, datang.
Sama Mbak Dinda ditanyai:”kamu lagi gak puasa ya?”
Aku:”Haah… puasa kok. Emang kenapa?”
Mbak Dinda:”kok wajahmu berseri-seri. Gak kaya orang lagi puasa.”
Wahaha baru sadar aku kalo kulitku kuning langsat semu kemerah-merahan _ _”

Selama kuliah itu, aku setia sama Ponds, dan kulitku tetep baik-baik saja. Lalu tiba-tiba bencana itu terjadi. Di tahun ke-tiga kuliahku, alias tingkat akhir (yups, aku D-3). Suatu pagi aku terkaget-kaget karena pas mandi aku menemukan tiga biji jerawat di wajahku. Bukan, bukan jerawat unyu yang cuma berupa noktah kecil imut kayak di iklan-iklan skincare di tivi.

image

Seumur-umur gak pernah jerawatan, eh ini sekalinya jerawatan langsung 3. Jerawat yang gede, bengkak, merah, dan tanpa mata. Sakit! Baik temen-temen di kos, maupun temen-temen kuliah yang papasan di jalan, pada ngomentarin jerawatku. Mereka pada nanya, kenapa kok tiba-tiba jerawatan? Meneketehe! begitu jawabku dalem ati. Aku gak makan aneh-aneh atau nyobain skincare baru. Aku tetep setia dengan Pondsku, dan aku gak pernah melakukan eksperimen aneh-aneh terhadap wajahku. Kenapa tiba-tiba kondisi wajahku berubah? masih tetap misteri sampe sekarang.

Panik, tiba-tiba gak pede, malu. Itulah yang kurasakan saat itu. Sepulang kuliah, dengan memandang kaca aku tekan-tekan jerawat besar itu berharap dia akan kempes. Yang ada malah makin membesar dan meradang. Kesal, kukopek-kopek daging jerawat itu, sampe akhirnya dia kemudian berubah menjadi luka, dengan kemudian dia lambat laun menjadi bekas yang mengitam yang lumayan lebar ketika sudah kering. Wajahku saat itu jadi cemong-cemong banyak bekas luka jerawat. Bekas-bekas luka itu memang bisa hilang dengan salep Nutrimoist (produk CNI) yang kubeli. Aku inget betul, waktu itu harganya masih Rp. 60.000,-. Ya, bisa hilang walaupun perlu waktu lama, sekitar 3 bulan. Waktu itu, waktu bekas lukanya lagi item-itemnya, aku inget juga budeku pernah berkata padaku,”kenapa nduk pipimu kok jadi rusak?” T.T

Bekas luka emang berhasil hilang, tapi jerawat tetap saja datang. Dan lagi-lagi aku kopek-kopek jerawat itu sampe jadi luka. Kemudian item-item lagi bekasnya. Yah, kayak lingkaran setan aja. Waktu itu kebetulan aku lagi punya gebetan. Malu dong kalo muka item-item gitu. Gak ada jalan lain selain mendempulnya. Kalo bedak tabur, jelas gak mungkin bisa nutupin item-item sialan ini. Jadi, aku beli bedak Caring Colour Sariayu, two way cake. Yah, bedak ini cukup lumayan menyamarkan bekas lukaku. Setidaknya gak terlalu kelihatan mengerikan.

Waktu itu aku masih bodoh, belum mengenal serba-serbi skincare. Belum jamannya ‘dikit-dikit googling’. Ya, maklum pada masa itu internet masih belum terlalu booming. HP boro-boro android, belum ada cuy! Bisa buat dengerin radio aja udah lumayan canggih. Ke warnet palingan cuma buat friendsteran. Ya begitulah, karena aku bodoh, gak gitu kenal internet, gak baca forum-forum kecantikan, jadi gaktau kalo abis pake bedak two way cake itu harusnya dibersihin dulu pake milk cleanser, kemudian cuci muka pake facial wash, kemudian usap pake toner… supaya residu bedak benar-benar hilang. Ya, aku cuma cuci muka pake facial wash doang. Panteslah kemudian aku jerawatan mulu, gak sembuh-sembuh, lawong pori2nya masih ketutup sama sisa-sisa bedak. Jerawatnya aku kopek-kopek, kumudian item lagi. Gitu aja terus.

Lama-lama aku mulai terbiasa dengan wajahku yang penuh item-item ini. Aku gak menganggapnya lagi sebagai sesuatu yang mengganggu. Ya tetap mengganggu sih (bagaimanapun aku masih merindukan wajah mulus berseri-seriku dulu T.T), tapi karena udah biasa, lama-lama bisa agak cuek. Cukup tutupi pake bedak two way cake biar gak keliatan parah-parah amat.

(Bersambung ke bagian 2, biar gak terlalu panjang. Gak jadi long post deh….)

Fiksi Horor yang kusukai: Goosebumps

Ada yang tau Goosebumps? Mungkin hanya generasi 90-an yang tau ya, karena buku-buku Goosebumps tidak akan pernah kamu temui di toko buku manapun sekarang. Kalo kamu mau ngubek-ngubek tempat buku loakan, baru akan nemu deh (kalau beruntung).

Goosebumps adalah seri cerita horor yang ditulis oleh R.L. Stine. Setiap serinya mempunyai tokoh, judul, dan jalan cerita yang berbeda-beda. Jadi bukan semacam cerita bersambung yang kamu harus baca dengan seri yang berurutan. Satu buku = satu cerita.

Pertama kali aku baca Goosebumps adalah waktu kelas 4 SD, yang judulnya: Selamat Datang di Rumah Mati.
Aku dapet buku itu karena dipinjemi oleh teman sekelasku waktu itu, yang bernama Wicak. Aku masih inget banget, waktu itu aku bacanya malam-malam, sendirian, di ruang depan. Dan merasa merinding ketika membaca ceritanya. Jadi ceritanya, Josh dan Amanda pindah ke rumah baru mereka di kota Dark Falls. Kota ini agak aneh, dan merekapun mengalami beberapa peristiwa ganjil disini. Salah satunya adalah ketika mereka tanpa sengaja menuju kuburan, mereka menemukan nama-nama teman dan tetangga mereka di nisan, dengan tahun lahir dan kematian yang sudah lama sekali. Kemudian pada akhirnya mereka tau, kalo kota itu adalah kota mati. Dulu pernah ada kecelakaan yang menyebabkan meledaknya cairan kimia yang mengenai seluruh kota, sehingga seluruh penduduknya mati. Jadi, selama ini… mereka berteman dengan orang-orang yang sudah mati. Hiii….

Ada lagi cerita Goosebumps yang aku baca waktu masih remaja dulu. Aku lupa judulnya (Kalo gak salah sih, Napas Vampir), tapi aku masih ingat jalan ceritanya. Jadi ada dua bersaudara, suatu hari ketika orangtua mereka sedang tidak ada di rumah, tanpa sengaja mereka menemukan ruang rahasia di balik dinding rumah mereka. Ruang rahasia itu ternyata sangat luas dan berlorong-lorong. Merekapun kemudian menjelajahi ruangan itu. Sialnya, di ruang rahasia itu ternyata adalah tempat istirahat seorang vampir. Kemudian, vampir itu mengejar mereka karena ia menginginkan darah mereka untuk dihisap. Pengejaran yang berlangsung sangat seru. Mereka berusaha berlari, sembunyi disana-sini, demi menghindari Si Vampir. Seperti permainan petak umpet. Aku yang membacanya ikut deg deg plas, takut kalo mereka ketangkap.

Akhirnya mereka berhasil meloloskan diri, keluar dari ruang rahasia, dan kembali ke rumah mereka. Celakanya, Si Vampir ikut mengejar sampai ke dalam rumah juga. Di dalam rumah itu, terjadi kejar-kejaran lagi. Di saat mereka hampir tertangkap, pintu rumah terbuka, rupanya orangtua mereka sudah datang. Merekapun berteriak,”Mom, Dad, untunglah kalian datang. Cepat selamatkan kami dari vampir ini!”

Di luar dugaan, Si Mom malah menghampiri Si Vampir dan memeluknya,”Kakek sudah bangun. Bagaimana tidurnya, nyenyak? Kalian, kenalkan ini Buyut kalian.”

Dan ternyata mereka adalah keluarga vampir. Namun dua bersaudara itu belum tumbuh taringnya karena mereka berdua masih kecil. What a shocking ending.

————–

Yang kusuka dari cerita-cerita Goosebumps adalah, pengarangnya mahir sekali bertutur cerita. Begitu membacanya, lambat laun aku tenggelam dalam cerita, dan merasa bahwa aku adalah tokoh utama yang sedang ada dalam cerita itu. Sehingga ketika Si Tokoh mengalami peristiwa yang menegangkan dan menakutkan, akupun ikut tegang dan takut.
Hal lain yang kusuka, endingnya seringkali mengejutkan, dan di luar dugaan, dan membuatku berkata,”haah…” ketika selesai membaca.

Goosebumps dulu juga pernah difilmkan dan ditayangkan di Trans Tivi setiap seminggu sekali. Meskipun filmnya juga bagus, tapi tetep aja lebih terasa horornya ketika membaca bukunya. Oh, ya, ini aku pengen pamer koleksi buku-buku Goosebumpsku. Aku cukup beruntung bisa mendapatkan buku langka ini dengan harga murah (Rp. 12.000/buku) dari penjual buku online. Temanku Si Tuti, yang juga penyuka Goosebumps, mupeng dengan koleksiku, sementara ia harus cukup puas membaca e-book Goosebumps yang terjemahannya agak kacau. Hahaha.

image

image

image

image

image

Gadis Kecil yang Genit

Kalo dipikir-pikir, kayaknya dulu pas masih kecil, aku genit deh.

Di usiaku yang masih piyik aku dah tau namanya cowok ganteng. Akan kuceritakan beberapa di antara ‘cowok-cowok’ masa kecilku.

Dulu pas masih TK, aku inget ada temannya mbakku, cowok kelas 4 SD namanya Wawan. Dia sering menggangguku dan menggodaku. TK-ku dan SD-mbakku emang berada di satu tempat, makanya sering ketemu. Pas digangguin gitu aku kadang marah, trus mengejar Wawan. Tapi setelah itu, aku kecil entah kenapa senang dan bawaannya senyum-senyum aja kalo inget gimana dia gangguin aku. Waktu itu aku belum ngerti kalo seperti itulah rasanya suka sama cowok. Hahaha…

Trus lanjut ke masa saat aku kelas satu SD. Kali ini kami sekeluarga pindah ke kota lain, kota dimana ayah dan ibu kami berasal. Di kota ini kami punya banyak sepupu. Ayah dan ibu masing-masing mempunyai banyak Saudara. Ada beberapa sepupuku yang ganteng. Salah satunya anak budheku, namanya Mas Yanis. Waktu itu dia udah ABG, dah jadi anak SMP. Ganteng dan gagah gitu deh. Suatu hari, pas lagi maen ke rumah budheku, waktu aku di dapur… dari jarak beberapa meter Mas Yanis nyorotin lampu senter ke mukaku. Ngajak becanda maksudnya. Yang aku ingat, waktu itu entah kenapa aku nunduk sambil tersenyum, dan sedikit malu, tapi senang! Yah, di kemudian hari ketika aku dah dewasa… barulah aku tau kalo itulah yang disebut ‘tersipu-sipu’. Muahaha….

Dan ada satu lagi. Mungkin agak geje sih.

Kapan hari aku bercakap-cakap sama Prima (cowok), salah satu anak magang di kantorku. Prima dan teman-temannya sedang bikin karya tulis untuk tugas magang mereka. Trus Si Prima cerita kalo ada temennya yang magang di kantor lain, yang bikin karya tulis dengan tema ‘menghidupkan nasionalisme di lingkungan kerja’. Jadi Si Temennya Prima itu masang bendera merah putih kecil di mejanya, kemudian tiap pagi nyetel lagu Indonesia Raya.

Aku jawab,”atau pasang foto pahlawan nasional aja sebagai wallpaper komputer. Kalo aku jadi temenmu, aku pasang fotonya Kapten Pierre Tendean deh. Haha… milih yang ganteng.”

Prima,”Siapa itu mbak?”

Aku,”Ya ampyun, masa’ kamu gak tau sih. Ituu… Salah satu korban kekejaman PKI, temennya Jenderal Nasution dkk. Dia kan ganteeng. Dulu aku waktu masih SD suka banget liat fotonya di buku sejarah.”

Dita, temen sebelah meja ikut komentar,”haah… kamu kok aneh sih. Suka sama orang yang sudah mati.”

Aku,”ya nggak tau. Dulu pas liat potonya di buku sejarah, aku langsung terpesona. Ih, ini pahlawan kok ganteng banget ya.”

Dita,”aku gak sampe loh kepikiran gitu. Pahlawan ya pahlawan aja… gak mikir dia ganteng pa nggak.”

Mbak Asma, teman sebelahku yang satunya ikut nimpali,”iya, aku juga. Gak pernah kepikiran.”

Tuing… tuing…. apa memang aku terlalu genit ya -_-”

Tapi tapi, pas masih SD dulu aku memang sempat ‘jatuh cinta’ sama fotonya Kapten Pierre Tendean. Waktu ngeliat deretan foto pahlawan nasional korban PKI, mataku terpaku pada foto doi. Lama. Dia kelihatan mencolok di antara foto pahlawan-pahlawan lain. Ganteng dan masih muda. Dan aku sempat menyesali kenapa dia meninggal. Eman-eman. Yah, maafkan pikiran absurdku. Namanya juga anak kecil. Hiks…

Oke, demikianlah kegenitanku waktu masih kecil dulu.

Dan inilah foto Kapten Pierre Tendean

image
sumber: wikipedia.com

Si Minus Tujuh

image

Namanya Widya. Sudah sekitar 7 bulan ini dia magang di kantor tempatku bekerja. Umurnya masih 23. Orangnya tinggi, putih, langsing, rambut lurus panjang, wajah baby face dan oriental. Yah, secara fisik tipikal cewek yang disukai cowok-cowok masa sekarang.

Banyak cowok di kantor ngefans ma dia. Beberapa kali di grup WA kantor kami dihiasi foto-foto Widya. Yang posting itu tentunya para cowok. Pernah foto Widya yang sedang tersenyum, kemudian ditambahi editan tulisan,”cepet cembu ya kakak kakak cemuwa.”
Pernah juga ada teman kantor yang memfoto teman lain yang sedang ketiduran, kemudian diaplod di grup WA dengan tambahan editan gelembung sabun di atas kepalanya, dan di dalam gelembung itu ada foto Widya sedang tersenyum. Jadi seolah-olah dia sedang tidur dan memimpikan Widya. Ada-ada aja.

Ada teman kantorku yang namanya Wicaksana. Dia biasa diberi tugas tambahan sebagai tukang foto tiap ada acara di kantor. Di acara senam pagi yang tiap Jumat, tak ketinggalan selalu diambilnya foto Widya.

Aku belom pernah ngobrol sama Widya. Cuma kalo papasan di dalam kantor, say ‘hi’, kemudian sesekali menyapa kalo kebetulan aku ke ruangannya. Kesan yang kudapat sih, dia emang anaknya manis, ramah, dan pandai bergaul. Pantes aja dia banyak penggemarnya, emang dia adorable sih.

Sore tadi, timku mengadakan acara sosialisasi terhadap para usahawan (yup! aku PNS). Kebetulan, Widya ikut bantu-bantu. Pas sedang luang, kami mengobrol. Dia bercerita padaku, tentang pacarnya yang sudah bersamanya selama 6 taun (sempat putus hanya selama 1 bulan). Tentang kerjaannya dulu sebelum ini, di Jakarta, yang mengharuskan lembur gila-gilaan sampe tengah malam. Tentang matanya yang sipit sehingga harus dirias dengan eyeliner supaya nampak sedikit ‘ada’.

Kemudian dia bercerita hal yang membuatku kaget. Bahwa dia mengenakan lensa kontak di mata kirinya. Hanya mata kirinya. Mata kanannya normal, sedangkan mata kiri minus 7! Kutanya,”Kok bisa minusnya sejomplang itu? apa mungkin matamu pernah luka atau trauma?”

Jawabnya,”nggak pernah sih Mbak. Cuma, kata ibuku… pas aku masih kecil dulu, mataku pernah kemasukan rontokan bulu mataku, sampe jadi merah banget. Ibu sampe takut, dan dibawa ke dokter. Tapi kata dokter gakpapa. Gaktau deh kalo bulu itu mungkin melukai saraf mata atau gimana, jadi bikin penglihatanku kabur gini. Ini kalo mata kanan ditutup, sedangkan mata kiri gak pake lensa kontak…. aku dah nggak keliatan apa-apa deh.”

Kemudian mendadak aku teringat mataku sendiri. Mataku juga mengalami minus yang jomplang antara keduanya (walau tidak sejomplang Widya). Yang kiri normal, yang kanan minus 3. Ketika dulu test mata di dokter untuk pemberkasan cpns, dokternya sampe heran kenapa bisa begitu. Aku ingat betul, waktu kelas 4 SD, aku pernah ‘nyinggrek’ (apa ya bahasa Indonesianya ngambil buah pake galah?) buah belimbing dari pohonnya. Setelah ku-singgrek, buah belimbing di atas pohon itu copot rantingnya, meluncur, dan ctak! jatuh tepat menghantam bola mataku yang sedang menatap ke atas. Kurasa karena itulah mata kananku jadi kabur sekarang.

Pernah juga kudengar, pas di kos, teman sebelah kamar bercerita ke temennya (aku gak sengaja denger), kalo ada temen dia yang namanya si Andi. Andi ini matanya udah ‘rusak’, soalnya dia dulu pas kecil pernah berantem sama kakaknya (biasalah anak kecil). Si kakak ini memukul Andi dengan keras, dan kebetulan pas kena bagian mata. Makanya penglihatan Andi jadi kabur banget, setara dengan minus 10.

Kuceritakan semua cerita ini ke Widya. Kemudian Widya cerita lagi,”aku pernah ditawari oleh dokter supaya lasik, Mbak (operasi mata menggunakan laser, untuk menghilangkan minus). Trus aku juga ditakut-takutin, kalo aku gak lasik nanti lama-lama mataku bisa juling. Pertamanya sih aku takut mbak. Tapi aku gak mau langsung percaya. Aku pergi ke dokter-dokter lain untuk meminta second opinion. Dan kata dokter-dokter itu lasik itu gak harus. Bisa diganti pake kacamata ato lensa kontak.”

Kujawab: Aku mengalami mata-kabur-sebelah dari kelas 4 SD (umur 10 taun), sampe sekarang umurku 28 taun. Berarti udah selama 18 taun ya. Dan selama itu aku baik-baik aja kok. Hanya saja, kalo mata kiriku kututup… ya kabur dah. Hahaha.”

————–

Nobody’s perfect. Pepatah lawas yang gak pernah kadaluwarsa. Minus 3 aja sudah membuat pandanganku cukup kabur, gimana rasanya minus 7 kayak Widya ya? Kadang kita cuma iri dengan kelebihan-kelebihan orang, dan sibuk membandingkan orang lain dengan kita. Ya, karena hanya kelebihanlah yang kita tau, sedangkan kekurangan dia kita gak tau.