Aku dan Jerawat (bagian 5) ~Tamat deh~

Oke! Sudah kuputuskan. Hari itu bulan Januari 2012. Aku bertekad berhenti menggunakan krim-krim Miracle. Aku langsung ganti ke rangkaian Ponds, krim yang dulu setia menemaniku sebelum aku kenal Miracle. Waktu itu aku menggunakan Ponds Flawless White.

Satu hari setelah lepas, wajahku masih bagus.
Dua hari, masih bagus juga.
Tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, kulitku tidak sehalus dulu lagi ketika disentuh. Terasanya setiap kali cuci muka, tekstur kulit mulai berubah agak-agak kasar. Ya, tapi secara keseluruhan kondisi kulitku masih bisa dibilang baik. Aku berusaha menerima keadaan ini sebagai sesuatu yang wajar, sebagai konsekuensi karena lepas dari krim klinik.

Hari demi hari berlalu. Dan semakin hari kulitku semakin jelek. Setelah tekstur kulit berubah kasar kemudian suatu hari aku baru menyadari kalo di wajahku tiba-tiba banyak bintik-bintik hitamnya, kayak flek gitu. Awalnya pas aku ngaca, aku kira itu hanya perasaanku saja. Tapi kemudian, pas aku makan bareng temenku, temenku komentar,”ih, mukamu kenapa tuh kok jadi bintik-bintik.” Kaget, seumur-umur aku gak pernah ada flek-flek/bintik-bintik, dan gak ada bakat flek juga.

Belum selesai sampai disitu, lama-lama muncul brintil-brintil jerawat. Awal-awal aku masih bisa nahan diri untuk gak ngusik-ngusik itu jerawat. Tapi lama-lama jerawat itu semakin banyak, semakin mengganggu. Tiap kali cuci muka, yang kesentuh tanganku adalah kulit yang kasar dan berjerawat. Arrgghh….!
Kejadian selanjutnya, bisa ditebak. Aku kembali ke kebiasaan yang lama: ngaca sambil mencet-mencet jerawat. Kadang saking kesalnya, aku kerok pake kuku permukaan jerawatnya, sehingga dagingnya terbuka dan menjadi kayak luka gitu. Dan kemudian bekas pencet-pencet dan kerok-kerok itu berubah warna menjadi hitam. Dan itu jumlahnya banyak di wajahku. Jadi bisa dibayangkan gimana jeleknya wajahku: banyak totol totol hitam bekas luka jerawat.

Meskipun aku sudah berhenti memakai krim-krim Miracle, tapi selama tahun 2012 aku masih menjalani MDPP rutin tiap bulan, dengan harapan totol-totol hitam ini segera enyah. Emang sih kalo abis MDPP, totol-totol hitamnya lekas memudar. Tapi masalahnya, jerawat-jerawatku belum berhenti tumbuh. Jerawat-jerawat itu tetap tumbuh lagi, tetep aku kerok-kerok dan pencet-pencet, dan tadaaa… jadilah bekas totol-totol hitam lagi.

Lama-lama aku nyadar, percuma saja aku MDPP tiap bulan. Selama aku belum bisa mengatasi jerawatku, totol-totol itu akan terus ada, lagi dan lagi. Jadi kayak buang-buang duit aja aku tiap bulan. Jadi kuputuskan: sementara aku belum bisa mengatasi jerawatku, aku gak akan MDPP dulu.

Aku mencoba ganti krim lain. Dari Ponds Flawless White aku ganti ke Ponds Clear Solution. Ponds Clear Solution ini = Ponds warna ijo, alias krim yang kupake jaman kuliah dulu, dan waktu itu aku cocok pake ini.

Tapi sayangnya kali ini aku kurang beruntung. Ponds ijo itu sudah gak lagi cocok sama kulitku. Dan aku tetep aja jerawatan.

Oke kita coba krim lain yang katanya bahannya alami: Gizi super cream. Sama juga, gak cocok.

Kulitku kayak nolak semua krim. Yang dulunya sebelum kenal krim Miracle, kulitku cocok sama semua krim itu, sekarang tidak. Capek, akhirnya aku berhenti saja pake krim-krim apapun. Mungkin kulitku harus puasa dulu. Mungkin harus ada jeda dulu untuk membersihkan kulitku dari krim-krim Miracle, barulah kulitku mau menerima krim baru. Oke, akupun menjalani apa yang kusebut sebagai bare face regimen . Bare face regimen ini maksudnya membiarkan kulitku polosan tanpa memakai krim-krim apapun. Hanya pake facial wash Viva/Viva Clean and Mask buat cuci muka (karena dia formulanya lembut dan PH balance). Selain itu, aku rutin menggunakan masker homemade alias bikinan sendiri (masker kunyit dan masker tepung beras).

Mungkin kalian beratanya,”apa gak kusem tuh muka dibiarin polosan?”

Emang kusem, tapi aku gak peduli. Yang jadi fokusku saat itu hanyalah bagaimana supaya aku gak jerawatan.

Sepertinya bare face regimen ini merupakan langkah yang tepat, karena semakin hari, perlahan tapi pasti, kulitku semakin membaik. Jerawat udah jarang muncul (tetep sih muncul, tapi udah jarang). Trus PR nya ganti lagi dong: bukan lagi gimana mengatasi jerawat, tapi gimana mengatasi komedo. Ya, wajahku jadi sering dihinggapi komedo (baik komedo whitehead maupun blackhead). Tapi kurasa itu karena aku gak pake krim apapun, jadi kulitku kering (dehidrasi), sehingga memicu tumbuhnya komedo.

Sekitar tahun 2013 akhir, aku memberanikan diri memakai Ponds Flawless White lagi, lengkap 1 rangkaian: facial wash, day cream, dan night cream. Sempat cocok pada awalnya. Kulitku jadi tampak cerah merona, dan sempat dikomen temen-temen kantor kalo mukaku cerahan. Tapi semakin lama, kulitku kayak iritasi. Perih tiap kali cuci muka. Mungkin Ponds sekarang formulanya lebih keras, atau bisa jadi juga kulitku yang udah terlanjur ‘tipis’ sehingga jadi sensitif.

Oke… stop lagi deh Pondsnya. Balik lagi ke Viva, sampe kulitku gak iritasi lagi.

Meskipun cocok, lama-lama aku bosan juga pake Viva terus. Dia emang bener-bener cuma buat bersihin wajah aja dari debu/kotoran, tapi gak ada efek mencerahkan, dan tidak bisa menghalau kulit kusam. Mulailah aku hunting-hunting lagi, nyari ‘selingkuhan’, dan ketemulah sama HadaLabo Tamahohada facial wash. Awal-awal pake Hadalabo, kulitku tampaknya menyukainya, karena tidak ada reaksi aneh-aneh seperti jerawat atau iritasi. Oke, aku terusin. Dan ternyata emang cocok: tidak menimbulkan jerawat (karena mengandung BHA yang membersihkan pori-pori), dan ada efek mencerahkan (karena mengandung AHA). Sampe sekarangpun aku masih pake facial wash ini. Udah gak pengen ganti lagi. Entah udah berapa botol aku repurchase. Meskipun bisa dibilang cocok, tapi tetep aja loh, komedo blackhead menghampiri. Sekali lagi, itu karena aku belum juga make pelembab apapun. Tapi biarin deh, yang penting mukaku udah mendingan. Oh ya, waktu itu tahun 2014.

Akhir tahun 2014 aku menikah, pertengahan tahun 2015 aku hamil. Semenjak hamil, entah kenapa kulitku terasa lebih halus dan bersih. Sepertinya hormonku sedang baik. Karena kurasa kondisi kulitku sedang stabil, maka aku mulai berani memikirkan untuk menggunakan rangkaian skincare lengkap. Setelah browsing-browsing dan merenungkan bibit bebet bobotnya (*halah), akhirnya inilah rangkaian skincare ku sekarang. Aku menggunakannya mulai tanggal 31 Oktober sampai dengan sekarang (selain Tosowoong ya, karena tosowoong aku baru pake beberapa hari ini):

image

image

Step-step skincare-ku, itu yang di foto udah aku susun berurutan (yang foto sebelah atas):
1. Cuci tangan dulu pake sabun dettol. Ya, iya dong, masa’ mau bersihin muka, tapi tangannya masih belum bersih.
2. Ambil Hadalabo facial wash, tuang di telapak tangan. Busakan. Kemudian baru oles-oles dan ratakan di wajah.
3. Pake Tosowoong 4D cleansing brush, sebagai alat bantu membersihkan wajah. Kalo dah selesai, basuh wajah sampe sisa-sisa busa ilang, dan wajah bersih.
4. Ambil kapas, tuang Viva Face Tonic Greentea. Kemudian usap-usapkan ke wajah, untuk mengangkat residu facial wash yang mungkin masih tersisa.
5. Ambil kapas lagi, tuang air mineral. Usap-usapkan di wajah. (Itu yang botol Viva Face Tonic, yang warnanya bening, itu isinya air mineral). Kenapa aku perlu membersihkan wajah pake kapas sampe 2 kali gitu? selain untuk membersihkan residu facial wash, juga untuk membersihkan residu dari air keran yang tadi kupake basuh muka. Ya, air keranku emang gak gitu bersih. Kalo diendapkan di ember beberapa hari, akan timbul endapan lumut berwarna hitam.
6. Kalo pagi dan siang, setelahnya aku oleskan Ultra Light Hydrator TDF sebagai pelembab. Ini pelembab ringan banget, gak nutup pori-pori dan gak bikin komedo atau jerawat. Akhirnya, nemuin juga pelembab yang cocok.
7. Kalo malam, yang aku olesin beda lagi, yaitu TDF C Scape Serum. Ni serum Vitamin C mampu mencerahkan wajah. Dan aku cocok dengan ini.

Gambar bawahnya: Itu masker-masker bubuk. Aku pake setiap 2-3 hari sekali, tergantung mood. Pernah nyoba mask sheet, tapi aku gak gitu suka. Lebih mantap pake masker bubuk rasanya. Kalo masker-masker bubuk ini kurasa lebih berfungsi sebagai pengurang minyak di wajah sih. Jadi pas hari gerah wajahku gak terlalu yang oily gitu.

Alhamdulillah sampe saat ini kulitku sehat sentosa. Perasaan ini yang dah lama kurindukan. Perasaan lega karena wajahku gak lagi dicermati teman karena jerawatku dan luka-luka bekas jerawatku kemudian ditanyain:”kok sekarang jerawatan sih?”
Perasaan lega karena sudah berani melihat wajahku sendiri lagi di cermin.
Perasaan lega karena gak lagi minder tiap bercakap-cakap dengan orang.
Perasaan lega karena tidak malu lagi menunjukkan wajah telanjangku yang tanpa make up.

Kulitku emang gak kinclong moblong-moblong. Tapi aku sudah cukup bersyukur. Untuk orang yang kulitnya pernah bermasalah sepertiku, have normal skin is more than enough 🙂

Oh ya, menurut analisis (*pret) sotoy-ku, kemungkinan di antara krim harian rutin yang kupake dari Miracle itu ada yang mengandung kortikosteroid dan hidroquinone.
Kenapa?
Seperti yang aku bilang di awal tadi, wajahku tiba-tiba timbul flek-flek bintik hitam pasca berhenti pake krim klinik. Kayak semua noda-noda wajah tiba-tiba muncul ke permukaan. Pernah baca, kalo itu adalah efek yang terjadi ketika kita menghentikan pemakaian hidroquinone. Semakin lama kita pake hidroquinone, maka akan semakin parah efeknya ketika kita berhenti. Efek samping pemakaian hidroquinone dalam jangka waktu lama adalah ochronosis, yaitu kondisi dimana kulit akan berubah warna menjadi abu-abu,

image

Untung flek-flek hitam di wajahku lambat laun bisa hilang. Mungkin karena aku belum terlalu lama juga pakenya (2 taun), jadi gak berefek parah.

Sedangkan untuk jerawat yang terus bermunculan setelah berhenti pake krim klinik, itu bisa jadi karena efek kortikosteroid. Jadi gini, sebenernya kortikosteroid itu fungsinya adalah meredakan peradangan/iritasi pada kulit, dan dia mempunyai efek samping memutihkan. Jadi, kadang ada klinik-klinik yang mencampurkan kortikosteroid di krim harian mereka dengan tujuan supaya pasien mendapatkan hasil kulit yang cerah dalam waktu yang relatif tidak lama. Padahal sejatinya, bukan untuk itu penggunaan kortikosteroid. Dan penggunaan dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan penipisan kulit, karena steroid mempunyai efek mengikis kulit.

Sedangkan untuk jerawat, kortikosteroid mempunya efek ‘meredam’ jerawat. Jadi sebenarnya, penggunaan krim bersteroid hanya membuat jerawatmu dipendam di bawah kulit. Jadi kalo kamu yang asalnya berjerawat, terus pake krim bersteroid, kemudian jerawatmu tampak hilang dan wajahmu jadi mulus…. jangan senang dulu. Ingat, jerawat itu hanya sedang ‘bersembunyi’, bukan sudah sembuh/hilang. Begitu kamu menghentikan penggunaan steroid…. boom! semua jerawat-jerawat yang selama ini bersembunyi itu akan ngamuk dan keluar semua.

Correct me if I wrong ya….

Aku masih cukup beruntung bisa normal lagi wajahku, walaupun perlu waktu lama. Ya, 4 taun.

Temanku Si Wati, teman yang sama-sama perawatan di Miracle dulu, dia lepas dari krim Miracle tahun 2012 akhir. Dan sampe sekarang wajahnya masih rutin dihinggapi jerawat, dan bekas-bekas hitamnya bertotol-totol menghiasi wajahnya. Nampaknya dia belum menemukan regimen skincare yang pas untuk kulitnya. Padahal, sebelum pake Miracle dulu, dia wajahnya baik-baik saja, pake Ponds. Emang gak kinclong atau bening, tapi cukup enak dilihat. Yah, just normal. Semoga dia segera sembuh, soalnya kadang kasian liatnya.

Mungkin ada di antara kalian yang lepas dari krim klinik tapi muka tetap baik-baik saja? ya, daya tahan kulit dan tubuh orang itu beda-beda.
Contoh perbandingannya, gini:
Dulu aku pernah beli ikan di pasar tradisional. Ternyata ikan itu bukan ikan segar, sehingga setelah dimasak dan aku memakannya…. aku keracunan. (Bah, itulah seumur-umur aku punya pengalaman keracunan).
Sementara temanku, yang juga makan ikan itu, gak kenapa-kenapa alias baik-baik saja. Ya, karena daya tahan tubuh kami beda.
Tapi bukan berarti dong, trus temanku lempeng aja nerusin makan tuh ikan sampe habis. Meskipun pencernaannya tahan terhadap bakteri dari ikan itu… tapi sejatinya kan ikan itu sebenarnya bukan bahan konsumsi yang baik, karena tidak segar. Atau bisa jadi juga dia baru akan kena efek keracunan setelah makan tiga ekor ikan misalnya. Bisa juga gitu.

Jadi, itulah kenapa ada orang yang dalam tempo 1 taun udah merasakan efek samping krim klinik. Ada yang baru merasakan 3 tahun kemudian. Ada juga yang baru merasakan 5 taun kemudian. Ya, karena daya tahan kulitnya beda-beda cuy…

Hmm… apa lagi ya? Udah itu aja kayaknya.

The end. Bhay!

Advertisements

Aku dan Jerawat (bagian 4)

Oke… sekarang kita lanjut lagi ceritanya.

Di tengah-tengah cerita tentang mulusnya wajahku, terbersit pikiran: bagaimana jika aku berhenti perawatan dan berhenti pake krim-krim ini? apakah wajahku akan tetap baik-baik saja? tetap semulus inikah? karena aku pernah dengar kalo krim-krim klinik kecantikan itu bisa bikin ketergantungan. Kalo berhenti make, wajah kita kondisinya akan jadi lebih buruk dari sebelum pake.

Mungkin ada yang bilang: ah, itu mah bukan ketergantungan. Sama aja kalo kamu rutin cuci muka tiap hari, wajah jadi bersih. Tapi kalo kamu berhenti cuci muka, ya jelaslah bakal kusem. Lawong dari dirawat menjadi gak dirawat. Sama aja kalo kamu punya muka kinclong karena kamu rawat dengan menggunakan krim-krim klinik sehingga kinclong. Kalo kamu gak pake krim itu lagi, ya wajarlah mukamu jadi kusem dan jerawatan lagi karena gak kamu rawat lagi pake krim-krim itu.

Gaess…. bukan seperti itu yang aku sebut ketergantungan. Coba kita bikin perbandingan kayak gini:
1. Si A adalah pecandu narkoba. Udah pake narkoba rutin dalam jangka waktu lama. Kalo dia gak pake narkoba, dia bisa sakaw berat. Dan narkoba ini bagi dia gak bisa diganti dengan apapun. Misalnya: ah, aku mau berhenti pake narkoba ah. Mau kuganti rokok aja. Toh rokok sama narkoba sama-sama punya efek menenangkan.
No, no… gak semudah itu keles.
Tapi masa’ Si A gak bisa berhenti dari narkoba? bisa, tapi butuh usaha yang gigih dan waktu yang tidak sebentar.
2. Si B suka banget ma sushi. Selama ini dia sering banget makan sushi. Suatu hari si B hamil, dan dokter melarangnya mengkonsumsi sushi selama dia hamil, karena makanan yang tidak matang bisa berefek tidak baik bagi janin. Trus gimana dong nasib Si B? Ya gak gimana-gimana. Dia toh tetep bisa makan makanan yang lain. Masih bisa makan bakso, soto, gado-gado, dll. Efek sampingnya palingan dia cuma ngences kalo ngliat gambar sushi. Di luar itu, dia tetap hidup dan sehat-sehat saja.

Jadi kesimpulannya?
Krim klinik mungkin bisa diibaratkan kayak narkoba. Susah banget lepasnya. Gak semudah sekedar lepas, trus ganti pakai krim bebas di pasaran, kemudian wajah kita tetap kinclong. Nggak, nggak semudah itu. Ntar aku ceritain gimana selama 4 tahun ini aku berjuang melawan ketergantungan terhadap krim klinik, sampe akhirnya kulit wajahku bisa balik normal lagi.

Kalo krim klinik ibarat sushi, tentu akan mudah mencari penggantinya. Tinggal ganti aja pake soto, ups pake Ponds atau Garnier maksudku. Toh intinya kita tetap merawat kulit, hanya saja pake krim lain. Tapi kenyataannya gak semudah itu loh.

Ini aku screenshoot salah satunya, dari Forum Femaledaily. Disana buanyaaak yang share pengalaman gimana ‘perjuangan’ mereka untuk berhenti menggunakan krim klinik/krim dokter. Kalo kamu pengen tau lebih banyak cerita mereka, search aja di google dengan kata kunci: femaledaily forum+melepaskan ketergantungan pengobatan dokter kulit.

image

Ada lagi ini cerita yang lebih ekstrim, ini aku screenshoot dari blog Moodymoodpecker-nya Pratiwi Wijayanti. Jadi inget dulu waktu dulu pertama kali aku baca cerita ini, rasanya pengen nangis. Rasanya ‘perjuanganku’ gak ada apa-apanya dibandingkan orang dalam cerita ini:

image

image

image

Hal lain yang membuatku berfikir untuk berhenti pakai krim klinik ini adalah: bagaimana kalau aku nanti menikah dan hamil (ya, waktu itu tahun 2011, aku belum nikah). Seperti kita tau, wanita hamil mempunyai pantangan-pantangan terhadap bahan-bahan tertentu yang ada pada krim wajah, seperti retinoid, BHA, Hidroquinone (apa lagi ya?). Nah, masalahnya, krim wajah klinik yang aku pake tidak mencantumkan bahan-bahannya apa aja.

Pernah aku bertanya pada dokternya:”Dokter, krim malam ini bahannya apa ya?”
Dia jawab:”itu whitening.”
Aku.           :”whiteningnya apa dok?”
(maksud aku, whitening agent kan banyak macemnya, ada niacinamide, arbutin, kojic acid, AHA, licorice, dll. Nah, ada whitening yang boleh digunakan untuk ibu hamil, dan ada yang tidak)
Dokter       :”ya, macem-macem whitening.”

*jiahh… glodak!
*pingsan

Pernah juga waktu itu aku treatment MDPP disana. Waktu itu tahun 2014, menjelang nikah, aku pengen wajahku bersihan. Iya, memang sih aku dah lama berhenti pake krim-krimnya pada waktu itu, tapi untuk tritmennya aku masih kadang-kadang kesana. Untuk perawatan wajah, baik facial maupun tindakan medis… aku akuin memang Miracle Aesthetic Clinic ini top banget. Higienis, steril, dan langsung menunjukkan hasil yang nyata. Recommended dah pokoknya. Tapi kalo untuk pake krim-krim racikannya dalam jangka panjang, I say: no, thanx.

Nah, yang bikin aku ‘takjub’, dokternya bilang gini:”mbak, kalo mau lebih cepet kinclongnya, pake aja topi krim tiap malem sampe nanti hari-H.” Aku iya-iyain aja, padahal dalam hati aku bilang gini:”hadeh gimana sih dok. Ni topi cream/krim anti iritasi, kan isinya kortikosteroid, yang gak boleh dipake jangka waktu lama. Maksimal 5 hari aja.”

Mau tau akibatnya kalo kita memakai krim bersteroid dalam jangka waktu panjang? Sok atuh baca:

image

image

Menurutku sayang sekali kalau klinik sekelas Miracle, product knowledge dokternya kurang joss.

Oh ya, kalau kalian baca postinganku yang berjudul “Aku dan Jerawat (bagian 3)”, kalian akan tau kalau aku sehari-hari menggunakan krim racikan bernama acne base gel. Dan ternyata di kemudian hari aku baru mengetahui kalau di dalam krim acne base gel itu ada antibiotik clindamycin. Mungkin ada yang udah tau, ada yang belum; bahwa antibiotik itu gak boleh dipake dalam jangka waktu lama karena bisa menyebabkan resistensi/kebal. Dan aku sudah menggunakan krim itu selama 2 taun -_- . Padahal waktu itu aku rutin tiap bulan kontrol dan perawatan disana, tapi dokter gak menjelaskan apa-apa soal ini. Tiap kali kontrol hanya ditanya apakah krimku masih atau dah habis. Kalau habis diresepin lagi untuk di-repurchase. Dah, gitu aja.

Bagaimana kondisi wajahku setelah lepas dari krim klinik? Baca di postingan berikutnya yaa…

Aku dan Jerawat (bagian 3)

Oke, sekarang masuk ke bagian 3. Buset dah ya, cerita jerawatnya kok jadi panjang gini -_-”

Setelah browsing-browsing, dapetlah aku info kalo cara untuk mempercepat menghilangkan bekas jerawat or bekas luka adalah dengan cara mikrodermabrasi, chemical peeling, ataupun laser. Semuanya bisa dilakukan di klinik kecantikan atau dokter spesialis kulit. Meskipun gaktau kapan bekas luka ini akan hilang (perkiraanku sih perlu waktu bertahun-tahun, mengingat betapa parahnya kondisi saat itu).

Browsing-browsing lagi, dapetlah aku sebuah klinik kecantikan yang bagus dan salah satu yang termahal di Indonesia, yaitu Miracle Aesthetic Clinic. Waktu itu tahun 2010. Demi kecantikanku (*halah), aku bela-belain tiap sebulan sekali menempuh perjalanan 3 jam pergi ke kota lain (karena pada saat itu aku tinggal di kota kecil yang gak ada Miraclenya) untuk perawatan MDPP (Micro Diamond Peel Plus). Jadi kayak semacam pengelupasan kulit mati gitu pake diamond tip. Gunanya untuk mempercepat pertumbuhan sel kulit baru, yang artinya mempercepat hilangnya bekas lukaku juga. Sekali perawatan menghabiskan Rp. 700ribu, tambah lagi 100ribu kalo mau menggunakan masker (bisa milih masker buat acne atau buat whitening). Plus topi cream (krim anti-iritasi) seharga 100ribu. Topi cream ini dioleskan ke wajah 2 kali sehari, selama 3 hari pasca MDPP. Topi cream ini bisa dipake sampe dengan 4 kali MDPP.

Selain itu, di Miracle aku dikasi cream perawatan berupa acne base gel dan acne sunscreen (untuk dipake di pagi hari), differin gel untuk malam hari, serta sabun TDF yang varian neutral cleansing bar. Yang krim-krim pagi itu adalah racikan dari apotek Miracle, sedangkan yang krim malam dan sabunnya adalah produk keluaran luar negeri. Krim paginya total sekitar 150ribu. Krim malam yang mahalan, 400ribu kalo gak salah. Sabunnya 150ribu. Forgive me kalo aku gak bisa menyebutkan harganya dengan tepat. Aku nulis seingatku aja. Maklum, udah lama cuy. Udah 5 tahun yang lalu coba! Rangkaian skincare ini bisa dibilang murah sebenernya, soalnya lumayan awet. Untuk krim pagi, satu potnya bisa untuk pemakaian 2 bulan. Differin gel bisa dipake sampai dengan 4 bulan. Sabun wajahnya bisa dipake buat 3 bulan.

Selama pemakaian itu, aku merasa mengalami improve yang lumayan signifikan (setidaknya menurutku). Meskipun menurut temenku Si Wati, dia tidak melihat perubahan di wajahku (ya iyalah, baru juga sebulan. Gak mungkin langsung kinclong kayak mukanya Syahrini). Tapi aku, sebagai empunya muka, merasakan perubahan. Pelan tapi pasti, noda-noda di wajahku semakin menipis. Taunya darimana? dari dempulan cuy. Seperti yang kuceritakan sebelumnya, aku memakai bedak two way cake untuk menyamarkan noda-noda, supaya tampilan wajahku gak parah-parah amat. Dan bagian yang memerlukan ekstra dempul tentu saja tompelku (baca post sebelumnya untuk tau asal mula ‘tompel’ ini). Tapi setelah aku perawatan di miracle dan rajin pake krim-krimnya itu, semakin hari semakin tipis dempul yang kuperlukan untuk menutupi si tompel. Tapi bukan berarti tompelnya ilang lho ya. No… masi lamaaaa keles! Jadi singkatnya gini: misal biasanya aku perlu 5 sapuan spons two way cake buat ngecover tompelku (tebel? ya emang, soalnya item banget tu tompel), trus setelah sekian lama perawatan, aku gak butuh sapuan sebanyak itu. Jumlah sapuan yang kupelukan menurun bertahap: 4 sapuan, trus jadi 3 sapuan, trus jadi 2 sapuan, dan lama2 jadi 1 sapuan, dan lama-lama bekas itu sangat-sangat tipis sampe aku cukup pede gak sapuan, eh gak bedakan lagi maksudku. Dan semua proses dari tompel yang tebal sampai berhasil menjadi bekas yang sangat tipis itu makan waktu 1,5 taun. Yah, lama ya.

Kalo menurutku ya, yang ngefek banget ngilangin tompel, eh bekas lukaku itu adalah differin gel. Tuh obat mengandung adapalene (turunan vitamin A). Dan memang tokcer banget mempercepat regenerasi kulit. Progresnya kurasakan hari demi hari setiap kali ngaca dan nyentuh kulit. Dan hanya perlu satu tube aja (habis dalam waktu 4 bulan), sampai kondisi wajahku jadi acceptable (setidaknya acceptable menurutku). Efek sampingnya? ada sih, tapi gak begitu ganggu: cuma stinging sensation aja di kulit wajah ketika diusap handuk seusai cuci muka, dan gampang merah kulitku kalo lagi gerah. Tapi toh biarin aja, namanya juga lagi dalam masa pengobatan.

Differin ini buatan Jerman, gak ada di Indonesia. Miracle Aesthetic mengimpornya untuk pengobatan jerawat dan bekas jerawat. Dan sayangnya, belakangan ini differin gel sudah discontinue, karena mereka sudah menggantikannya dengan krim racikan mereka yang bernama SBM. Aku dah pernah merasakan SBM juga, tapi ya sori to be honest… jauhlah kalo dibandingkan differin gel hasilnya. Yang penasaran penampakan differin gel…. this is it:

image

Bisa dikatakan perawatanku di Miracle ini berhasil. Setelah beberapa bulan berjalan, wajahku lambat laun jadi mulus, flawless. Noda-noda, tompel, dan segala macem item-item ilang semua. Ah, jadi bening pokoknya kulitku. Suatu hari pernah masuk ke sub bagian umum di kantorku. Sekretaris kantor yang namanya Sari ngliatin aku terus, and komen:”kamu bening banget sih sekarang.”

Oh really? Aku aja gak sadar kalo kulitku secantik itu.

Trus pernah juga pas renang, temenku Si Tuti ngliatin mukaku, dan dia bilang,”kamu pake bedak apa sih, kok gak luntur kena air?”
Aku: “haah….aku gak pake bedak kok hari ini.”

Well, saking ratanya warna kulit wajahku, saking flawlessnya, sampe-sampe dikira pake make up. Lol!

Dan sudah berapa orang yang nanyain aku:”kulit kamu bagus banget, perawatan dimana?”
Kujawab di Miracle, dan kemudian orang-orang yang bertanya itu pada ngikutin jejakku, perawatan disana.

Ya, masa-masa indah itu, masa-masa aku kenyang pujian, sampe suatu hari aku memutuskan untuk berhenti perawatan disana. Loh, kenapaaaa?

Penasaran?

Tunggu di postinganku selanjutnya eaah….

Aku dan Jerawat (bagian 2)

Gila, semangat banget aku nulis blog malam ini. Mungkin karena tadi seharian aku bobo’ mulu, jadinya sekarang melek terus.

Oke, bagian 2 ini adalah masa-masa selepas aku lulus kuliah. Kemudian aku bekerja sebagai PNS dengan gaji yang lumayan cukuplah. Wajahku masih aja jerawatan, masih aja item-item. Suatu hari, pas jalan-jalan ke sebuah mall… aku dan temanku mampir ke counter The Body Shop. Terpesona sama produknya yang packagingnya cantik dan keliatan mahal (emang mahal keles). Kemudian dengan polosnya aku membeli rangkaian seri vitamin E (warna pink): krim siang, krim malam, facial wash, exfoliator cream. Total Rp. 700ribuan. Ah, kecil. (Songong, mentang-mentang baru ngrasain punya gaji). Sampe di kosan, kupake secara teratur rangkaian perawatan itu (dan bedak two way cake tetep dong). Lama-lama kulitku makin sering jerawatan. (Ternyata, di kemudian hari, barulah aku tau kalo seri vitamin E itu untuk kulit kering. Pantes aja!).

Berhubung aku sekarang udah kerja kantoran, akses internet di kantor tanpa batas…. kemudian jari-jariku yang kreatif ini mulai menuliskan sesuatu di google: cara menghilangkan jerawat. Voila… ketemulah aku sebuah artikel tentang bahan-bahan alami untuk mengatasi jerawat. Salah satu yang bisa digunakan adalah bawang putih. Caranya: tumbuk bawang putih, tempelkan di jerawat Anda, maka jerawat akan segera mengempis.

Oke! Kebetulan di kamar kosku ada cobek dan bawang putih.
Tumbuk-tumbuk, tempel-tempel.
Dua puluh menit kemudian, area yang ditempel bawang putih itu terasa panas. Pas ngliat kaca, aku langsung pengen menjerit. Kulit itu jadi merah sekali, kayak melepuh, luka bakar. Luasnya sebesar uang koin 500 an (lebar ya T.T). Aku buru-buru ke kamar mandi cuci muka. Berharap ini hanyalah reaksi sementara. Berharap abis itu kulitku berangsur-angsur normal kembali. Tapi harapanku gak terkabul. Kulit itu semakin terasa menebal dan mengeras, kemudian menjadi keropeng. Bisa kamu bayangin betapa paniknya aku waktu itu? Aku dah cukup jelek dengan item-item bekas jerawatku, sekarang ditambah lagi luka keropeng sebesar koin 500an ini, yang terpampang nyata di pipiku. Terkutuklah yang menulis artikel sesat itu!

Esoknya ketika masuk kerja, aku mengaku ke orang-orang kantor kalo luka itu kudapat karena aku kecipratan minyak pas menggoreng telur. Soalnya aku malu kalo mesti cerita sebab yang sebenarnya, karena kupikir konyol dan bodoh banget. Selama beberapa hari itu aku disibukkan oleh usaha-usahaku menyembuhkan luka. Mulai dari ke klinik A, kemudian ke rumah sakit B, ke klinik C yang di luar kota, kemudian ke rumah sakit D. Panjanglah pokoknya perjalanan. Luka itu lama keringnya. Entah karena infeksi atau apa. Setiap aku keluar dan kena angin rasanya perih dan nyeri. Tapi syukurlah obat pengering luka dari rumah sakit D manjur, sebulan kemudian luka itu akhirnya kering, meninggalkan bekas yang lebar, sangat hitam, dan cekung (karena kulit terkikis). Aku sadar kalo itu akan butuh lama sekali untuk bekas luka itu supaya hilang, dan aku pasrah aja. Tiap hari kuoleskan salep Nutrimoist dengan sabar. Sambil aku browsing-browsing tentang cara untuk mempercepat menghilangkan bekas itu. Tapi kali ini aku gakmau gegabah, aku gakmau lagi pake cara-cara yang gak jelas.

Perasaanku selama mempunyai luka itu? Bayangin sendiri deh, mulai dari dipanggil Tompel atau Tembong oleh teman kantor, sampe 3 kali batal dilamar oleh 3 pria yang berbeda karena luka sialan itu 🙂 . Mana alasannya mengada-ada lagi. Tiba-tiba bilang belum siap nikahlah, tiba-tiba putus kontak tanpa kabarlah, tiba-tiba udah punya pacar barulah. Tapi gakpapa sih, yang penting sekarang aku dah punya suami yang baik dan ganteng 😀

(Bersambung ke bagian 3 ya, supaya gak pening yang baca).

Oh ya, ada yang ketinggalan nih, aku dapet browsing-browsing tentang apakah ada orang yang mengalami seperti yang aku alami: melepuh karena bawang putih. Ternyata ada, banyak. Bener-bener deh gak habis fikir, kenapa sih orang-orang pada tega memberikan tips sesat kayak gitu. Jahat deh.

image

image

image

Aku dan Jerawat (bagian 1)

This will be a long post. Brace yourself 😀

Dari dulu aku gak pernah bermasalah sama jerawat. SD, SMP, SMA… mukaku bersih. Gak pernah jerawatan. Masa puber yang kata orang sering nimbulin jerawat, aku gak ngalami tuh. Padahal aku gak pernah pake perawatan kulit apa-apa. Kulit wajahku benar-benar polos. Ke sekolah cuma pake bedak tabur aja. Baru waktu kelas 3 SMA aku mulai berkenalan dengan skincare. Aku pake pelembab Ponds yang ijo aja buat ke sekolah. Bedak gak kupake lagi. Cuci muka tetep pake air aja (belum kenal namanya sabun wajah, facial wash, dll).

Pas SMP aku pulang-pergi sekolah naik sepeda kayuh. Lumayan jauh perjalanan (15-20 menit). Kulit terpapar matahari dan polusi… tapi tetep aja gak jerawatan. Gosong sih iya, tapi jerawat? no, gak ada blas!
Pas SMA juga, aku pulang pergi naik motor. Pake helm yang tanpa kaca… dan wajahku tetep terpapar matahari dan polusi. Dan tetep aja wajahku tidak pernah dihinggapi jerawat (cuma jadi item aja. Hehe..).

Oke! Sekarang kita beralih ke bangku kuliah. Sekarang saatnya aku jadi mahasiswi. Ritual kecantikanku kutambah satu: yaitu mulai menggunakan facial wash (seri Ponds juga, yang ijo juga). Entah karena Ponds, entah karena aku jarang terpapar matahari (kosanku ke kampus deket, dan aku jalan kaki. Sepanjang jalan juga gak banyak kena matahari)… maka kulit wajahku lama2 menjadi cerah lagi, kembali ke warna asli. Pernah ada satu kejadian, waktu itu bulan puasa, aku tidur-tiduran di depan tivi di ruang tengah kosan, trus ada temenku, namanya Mbak Dinda, datang.
Sama Mbak Dinda ditanyai:”kamu lagi gak puasa ya?”
Aku:”Haah… puasa kok. Emang kenapa?”
Mbak Dinda:”kok wajahmu berseri-seri. Gak kaya orang lagi puasa.”
Wahaha baru sadar aku kalo kulitku kuning langsat semu kemerah-merahan _ _”

Selama kuliah itu, aku setia sama Ponds, dan kulitku tetep baik-baik saja. Lalu tiba-tiba bencana itu terjadi. Di tahun ke-tiga kuliahku, alias tingkat akhir (yups, aku D-3). Suatu pagi aku terkaget-kaget karena pas mandi aku menemukan tiga biji jerawat di wajahku. Bukan, bukan jerawat unyu yang cuma berupa noktah kecil imut kayak di iklan-iklan skincare di tivi.

image

Seumur-umur gak pernah jerawatan, eh ini sekalinya jerawatan langsung 3. Jerawat yang gede, bengkak, merah, dan tanpa mata. Sakit! Baik temen-temen di kos, maupun temen-temen kuliah yang papasan di jalan, pada ngomentarin jerawatku. Mereka pada nanya, kenapa kok tiba-tiba jerawatan? Meneketehe! begitu jawabku dalem ati. Aku gak makan aneh-aneh atau nyobain skincare baru. Aku tetep setia dengan Pondsku, dan aku gak pernah melakukan eksperimen aneh-aneh terhadap wajahku. Kenapa tiba-tiba kondisi wajahku berubah? masih tetap misteri sampe sekarang.

Panik, tiba-tiba gak pede, malu. Itulah yang kurasakan saat itu. Sepulang kuliah, dengan memandang kaca aku tekan-tekan jerawat besar itu berharap dia akan kempes. Yang ada malah makin membesar dan meradang. Kesal, kukopek-kopek daging jerawat itu, sampe akhirnya dia kemudian berubah menjadi luka, dengan kemudian dia lambat laun menjadi bekas yang mengitam yang lumayan lebar ketika sudah kering. Wajahku saat itu jadi cemong-cemong banyak bekas luka jerawat. Bekas-bekas luka itu memang bisa hilang dengan salep Nutrimoist (produk CNI) yang kubeli. Aku inget betul, waktu itu harganya masih Rp. 60.000,-. Ya, bisa hilang walaupun perlu waktu lama, sekitar 3 bulan. Waktu itu, waktu bekas lukanya lagi item-itemnya, aku inget juga budeku pernah berkata padaku,”kenapa nduk pipimu kok jadi rusak?” T.T

Bekas luka emang berhasil hilang, tapi jerawat tetap saja datang. Dan lagi-lagi aku kopek-kopek jerawat itu sampe jadi luka. Kemudian item-item lagi bekasnya. Yah, kayak lingkaran setan aja. Waktu itu kebetulan aku lagi punya gebetan. Malu dong kalo muka item-item gitu. Gak ada jalan lain selain mendempulnya. Kalo bedak tabur, jelas gak mungkin bisa nutupin item-item sialan ini. Jadi, aku beli bedak Caring Colour Sariayu, two way cake. Yah, bedak ini cukup lumayan menyamarkan bekas lukaku. Setidaknya gak terlalu kelihatan mengerikan.

Waktu itu aku masih bodoh, belum mengenal serba-serbi skincare. Belum jamannya ‘dikit-dikit googling’. Ya, maklum pada masa itu internet masih belum terlalu booming. HP boro-boro android, belum ada cuy! Bisa buat dengerin radio aja udah lumayan canggih. Ke warnet palingan cuma buat friendsteran. Ya begitulah, karena aku bodoh, gak gitu kenal internet, gak baca forum-forum kecantikan, jadi gaktau kalo abis pake bedak two way cake itu harusnya dibersihin dulu pake milk cleanser, kemudian cuci muka pake facial wash, kemudian usap pake toner… supaya residu bedak benar-benar hilang. Ya, aku cuma cuci muka pake facial wash doang. Panteslah kemudian aku jerawatan mulu, gak sembuh-sembuh, lawong pori2nya masih ketutup sama sisa-sisa bedak. Jerawatnya aku kopek-kopek, kumudian item lagi. Gitu aja terus.

Lama-lama aku mulai terbiasa dengan wajahku yang penuh item-item ini. Aku gak menganggapnya lagi sebagai sesuatu yang mengganggu. Ya tetap mengganggu sih (bagaimanapun aku masih merindukan wajah mulus berseri-seriku dulu T.T), tapi karena udah biasa, lama-lama bisa agak cuek. Cukup tutupi pake bedak two way cake biar gak keliatan parah-parah amat.

(Bersambung ke bagian 2, biar gak terlalu panjang. Gak jadi long post deh….)