Buat pria kecilku

1. saat pusernya ngintip dari balik baju yang dipakenya sejak newborn.

2. saat popok kainnya (yang bertali), sering terlepas/terbuka dengan sendirinya.

3. saat menggendongnya tak se-ringan dulu lagi.

4. saat ia tak lagi setenang dulu saat kumandikan. Kakinya mulai menendang-nendang kecil di air bak mandi.

5. saat aku memasukkan lubang celana ke kakinya, sering luput karena kakinya sibuk bergerak-gerak

6. saat aku bangun tidur, menemukannya berubah posisi tidur. Kadang kepalanya melorot dari bantal, kadang posisi badannya jadi agak melintang.

7. saat kepalanya mengikutiku setiap aku bergerak/pindah tempat

8. saat ia melakukan kontak mata denganku dan tertawa ketika dikudang.

9. saat melihatnya memiring-miringkan badan
dan berusaha keras untuk tengkurap

10. saat ia menjambak rambutku dan kadang mencakarku

11. saat tangannya menarik-narik baju yang dipakainya sampe terangkat ke atas

12. saat melihatnya mengoceh-ngoceh sendiri dengan kata-kata yang gak bisa kumengerti.

Saat itulah aku sadar kalo kamu bertambah besar. Sehat ya Nak. Mama sayang kamu :*

image

Ceritaku melahirkan (bagian 2)

Sesaat kemudian, datanglah Bu Bidan Yanah dan satu orang bidan pembantu (? Entah dia siapa. Pokoknya dia ikut bantuin. Atau sebut aja dia ‘asisten’ juga deh). Dan mbak asisten tadi juga ada. Jadi, total ada 3 orang yang bantuin lahiranku.

Sementara aku terus menerus meratap. Bu Bidan Yanah menenangkanku, ngelus-ngelus dan bilang,”memang rasa sakitnya ini yang dicari mbak. Kalo nggak sakit, ya bayinya gak bisa keluar.”

Rasa sakit terus bertambah. Aku sampe mengangkat-angkat kaki kananku dan menaikkannya ke tembok sebagai pelampiasan rasa sakit. Dan terus menerus teriak “sakiiit….!” Kepalaku posisi mendongak ke atas sambil memejamkan mata.

“Mbak… jangan teriak-teriak. Nanti tenaganya habis. Simpan tenaganya buat ngeden nanti. Dan kakinya jangan diangkat-angkat. Kepalanya juga jangan mendongak ke atas gitu, nunduk aja!”

Pertama sih aku turutin semua instruksi bidan. Tapi ketika rasa sakit mendera lagi… lupa deh sama tuh instruksi, dan ngulangi lagi teriak-angkat kaki-kepala mendongak. Terus sama bidannya diingetin lagi. Terus aku lupa lagi. Gitu aja terus sampai Harry Styles jatuh cinta padaku šŸ˜

Lama-lama bidannya bosen kayaknya ngingetin aku, jadi aku dibiarin aja pas teriak-angkat kaki-kepala mendongak. Lha abis gimana lagi? Hanya dengan seperti itulah rasa sakitku lumayan teralihkan.

Proses persalinan ini melelahkan. Aku harus mengeluarkan banyak tenaga untuk mengejan dan menahan rasa sakit. Mana aku belum sempat makan lagi sebelum berangkat tadi. Dan itu sudah malam. Warung ato kios makanan dah pada tutup.

Bidan dan asisten-asistennya terus mengistruksikan aku supaya mengejan,”ayo mbak. Mengejan. Biar bayinya cepet keluar.”

Kemudian akupun mengejan sekuat tenaga yang aku bisa.

Bidan,”Aduh… bukan gitu cara ngejannya mbak. Salah.”

Kemudian aku mengejan lagi sampe mulutku berbunyi, untuk membuktikan ke bidan kalo aku bener-bener mengejan.

Bidan,”Bukan gitu mbak ngejannya.”

Kemudian aku mengejan lagi. Dan bidan bilang kalo cara mengejanku salah lagi. Gitu aja terus sampe Harry Styles jatuh cinta padaku.  Aaaggrhh… sebenernya cara ngejan yang bener kayak apa seh šŸ˜

Bidan,”ayo mbak bayangkan kalo kamu udah berhari-hari sembelit dan sekarang di dalem perut kamu ada e’ek yang sangat besar. Dan kamu sedang berusaha mengeluarkannya.”

Aku:”eeekkkk……!” Sambil mengejan.

Capek. Berhenti dulu mengejannya. Kemudian beberapa menit kemudian dilanjut lagi. Kalo capek lagi ya berhenti lagi, kemudian dilanjut lagi. Gitu terus deh.

Bu bidan terus menyemangati:”ayo, e’ek besar!”

Akupun berusaha mengejan. Dengan variasi gerakan angkat kaki-kepala mendongak-teriak *tetep ya*

Oh iya, aku sempat juga mencoba posisi jongkok, yang dibilang di artikel-artikel di internet sebagai posisi alami orang melahirkan (karena mirip posisi BAB). Tapi tetep aja tuh, gak ngaruh. Gak bikin lebih mudah juga. Yang ada, aku malah keder ngliat darahku yang berceceran di kasur. Balik lagi ke posisi tiduran jadinya.

Lelah dan kesakitan, aku bertanya-tanya dalam hati, sampe kapan seperti ini? Kapan sih, bayi ini akan keluar? Kok nggak keluar-keluar sih?

Setelah sekian banyak kalinya mengejan, tiba-tiba bidan dan dua asistennya pindah posisi ke sampingku. Bertiga mereka menekan dan mendorong perutku. Sesaat kemudian aku merasa perutku ringan. Kuberanikan diri membuka mata (yang selama proses persalinan tadi refleks memejam). Ternyata bayiku sudah keluar! Tapi loh… kok gak ada suara tangisan?

Asisten kemudian membawa bayiku ke kasur yang lain (masih di ruangan yang sama). Setelah diapain gitu (aku juga gaktau, soalnya posisi asisten membelakangiku), bayiku menangis dengan nyaring,”owaaa… owaaa…!”

Aku hanya bisa mengucap: alhamdulillah… alhamdulillah..

Aku bener-bener takjub, akhirnya bayi ini keluar juga. Waktu itu jam 02.10 di jam dinding di kamar itu. Entah jamnya presisi pa nggak. Yah, kurang lebih 6 jam berarti ya proses persalinanku.

Ibuku tergopoh-gopoh masuk ruangan ketika mendengar bayiku menangis. Dan kemudian berkata dengan suara keras dan bernada kaget,”loh, kok kepalanya gini?!”

Deg… aku langsung kaget. Kenapa dengan kepala bayiku? Jangan-jangan bayiku ada cacat.

Asisten menjawab:”tidak apa-apa Bu. Ini kepala bayinya lonjong karena mbaknya tadi kelamaan ngejannya. Beberapa hari lagi juga akan bundar dengan sendirinya kok.”

Owalah… bikin panik aja ibuku -_-

Oh ya, ada yang belum kuceritakan. Tadi selama proses persalinan… mulut vaginaku digunting, atau dalam bahasa medisnya disebut episiotomi. Mau tau gimana rasanya? Gak kerasa apa-apa. Ya, saking sakitnya kontraksi, sampe-sampe kulit diguntingpun gak kerasa apa-apa. Udah kalah sama rasa sakit kontraksi.

Dan yang paling menyakitkan adalah proses penjaitan. Aku gaktau aku dibius pa nggak (kayaknya enggak deh. Atau dibius tapi dikit? Entah). Pertama sih aku masih bisa tegar. Mulutku bisa tetap mingkem. Eh… tapi makin lama kok makin sakit. Akhirnya keluar juga tangisanku,”sakiit.. sakit…. whuaa… whuaaa.”

Setiap tunjesan jarum terasa bener di bawah sana. Jrus.. jrus.. jrus… Beh, mantap bener deh rasanya.

Setiap bertanya ke dua asisten yang sedang menjahit,”masih lama nggak mbak?”
Selalu mereka menjawab,”bentar lagi kok mbak.”

Dan ternyata proses penjahitan itu berlangsung lumayan lama. Setelah sekitar 45 menit, akhirnya selesai juga. Selama penjaitan itu, sempat-sempatnya dua asisten itu ngobrol-ngobrol cantik, mereka ngomongin aku.
Asisten 1,”kulitnya mbak ini putih banget ya. Jadinya gampang merah.”

Asisten 2,”iya, kulitnya sensitif juga kayaknya.”

Sementara itu, orang yang diomongin lagi teriak-teriak sambil nangis.

Oh ya, setelah proses penjaitan selesai, aku ngobrol-ngobrol juga sama mereka. Kata mereka, robekanku lumayan banyak karena aku gak begitu bisa mengejan. Makanya aku tadi dijaitnya lama. Sebagai gambaran, kalo orang-orang lain pada umumnya cuma abis benang 1/2 meter, lha aku sampe abis 2 meter. Hiks…
Trus ada kata-kata salah satu asisten yang masih kuinget,”kalo sakit kontraksi itu, rasa sakitnya akan terbayar ketika bayinya lahir. Ada imbal baliknya lah. Lha kalo rasa sakit dijahit? Nggak ada imbal baliknya.”
Betul juga sih.

Pas ngecek hp, ada beberapa sms dan misscall dari suamiku. Kukabarkan kalau aku dah lahiran. Dan kemudian dia dan keluarganya nyampe disini jam 10 pagi.

Fiuh… akhirnya selesai juga. Penantianku selama 9 bulanan šŸ™‚

Mau tau nggak, komentar para tetangga ketika tau aku dah lairan? Gini,”wah… mbak putri lairannya gampang ya.”

Gampang gundulmu! Proses melahirkan yang sakit dan berdarah-darah itu dibilang gampang! *gak trima. Hahaha.

Tapi ternyata di kemudian hari, aku tau, bahwa proses lairanku termasuk cepat, cuma 6 jam. Teman-temanku yang lain ada yang 12 jam, 36 jam, 38 jam, bahkan ada yang 48 jam!
Aku gak bisa bayangin gimana sakitnya. Aku aja yang ‘cuma’ 6 jam, rasanya kayak setengah hidup.

Bagaimana kehidupanku pasca melahirkan? Nano nano rasanya. Yah, aku sempat ngalami yang namanya baby blues syndrome. Nti kucritain di bagian lain. Oke, sampai jumpa di lain waktu ya. Mwah mwah.

Ceritaku melahirkan (bagian 1)

Hari Perkiraan Lahir bayiku 7 April 2016. Namun, sampe minggu-minggu terakhir menjelang tanggal itu, tetap saja gak ada tanda-tanda apa-apa. Kan kalo menjelang lahiran akan ada tanda-tanda yang dirasakan bumil, kayak kontraksi palsu, atau keluar lendir darah. Nah, itu sama sekali gak ada.

Trus…

Suatu sore, keluar air netes-netes dari vagina. Dikit sih. Sempat curiga kalo itu air ketuban. Tapi karena gak pernah tau air ketuban tuh kayak apa, jadi aku mikirnya bisa jadi itu keputihan.

Trus agak maleman, keluar lagi tuh tetes-tetes air. Masih dikit juga.

Waktu itu aku lagi santai-santai. Mainan hp sambil tidur-tiduran di kasur. Saat itu menjelang jam 8 malam, aku bangkit dari kasur. Pas berdiri, tiba-tiba byurr…. kali ini bukan tetes-tetes lagi, tapi banjir! Air berwarna bening dengan tekstur cenderung cair membasahi lantai, keluar begitu saja tanpa bisa ditahan. Yakinlah aku kalau itu air ketuban.

Aku langsung heboh, manggil-manggil Ibu:”Buuu… aku mau lahiran.” Excited campur deg-degan. Inilah saat yang kutunggu-tunggu.

Ibu tergopoh-gopoh masuk kamar, dan bilang,”yawes cepet ganti baju. Ibu panggilin becaknya Pakdhe Seger dulu.”
Pakdhe Seger adalah tetangga dekat rumah yang sudah tandatangan kontrak *halah pret* dengan ibuku buat sewaktu-waktu nganterin aku lahiran.

“Keset mana Bu? Ini lantainya basah semua,”kataku sambil nunjuk lantai. Kalo dipikir-pikir, konyol juga. Sempat-sempatnya mikirin bersihin lantai. Wkkk…

“Udaaah… itu nanti saja diurusin. Sekarang yang penting kita berangkat ke Bu Yanah sekarang.” Kata Ibu. Bu Yanah adalah bidan yang sudah kurencanakan untuk membantu kelahiranku.

Oh ya, kenapa aku milih lahiran di bidan yang praktek di rumah? Kenapa tidak di RS aja? Ya, aku emang udah bertekad, selama gak ada masalah apa-apa dengan kehamilanku, aku tidak ingin melahirkan di RS, soalnya aku takut. Takut dengan suasana RS yang ramai. Takut kalo bakal down duluan karena denger suara jerit-jerit dari ibu-ibu lain yang lagi melahirkan.

Kalo di rumah bu bidan kan suasananya tenang. Cuma aku sendirian aja yang melahirkan. Yah, beda-beda tipislah sama homebirth. Ya nggak? Wkwkwk…

Soal biaya, meskipun tidak terlalu jadi pertimbanganku.. di bidan lebih murah. Cuma 1,5 juta. Kalo di RS 4jutaan.

Okw kembali lagi ke cerita. Dengan naik becak bersama ibu, aku menuju rumah Bu Yanah yang berjarak 2 gang dari rumahku. Di jalan aku sms suamiku. Ya, posisi suamiku di kota lain (Kota S): “piy ketubanku dah pecah. Ini aku dah mau ke bidan.”

Tidak ada balasan.

Sampe di tempat Bu Yanah, aku disambut asistennya yang lagi jaga. Aku disuruh berbaring di kasur yang tinggi. Disuruh naikin rok dan ngangkang buat ngecek bukaan.

“Bu… hapeku lowbat. Tolong dicas dulu.” Kataku ke Ibu.”ada colokan dimana mbak?”tanyaku ke mbak asisten.

“Aduuh… nanti aja ngurusin hapenya. Sekarang yang penting dicek dulu ini bukaannya.”kata mbak asisten.

Dicek bukaan. Aku gak yakin prosesnya gimana.. soalnya aku dalam kondisi berbaring dan gak ngliat ke bawah. Tapi kayaknya jarinya mbak asisten dimasukin ke vaginaku. Entah, pokoknya rasanya kayak vaginaku diobok-obok.

“Masih bukaan satu.”kata mbak asisten.

Aku sedikit kecewa. Yah, masih lama dong. Secara untuk melahirkan kan bukaannya sampe sepuluh.
Sementara itu, air ketuban terus mengocor.

Sama mbak asisten aku diajak pindah ruangan. Ke ruangan sebelah. Kali ini kasur biasa, bukan kasur tinggi. Ada 3 kasur disana. Aku berbaring di kasur 1, sementara ibuku duduk-duduk di kasur 2.

“Ini masih bukaan satu mbak. Ntar mungkin lahirannya tengah malam. Saya tinggal dulu ke kamar saya ya. Nti kalo mbak udah ngerasa mules kayak kebelet be’ol, panggil saya ya.”

Tinggallah aku di ruangan itu berdua dengan ibuku. Aku sms suamiku lagi,”piy. Nanti katanya aku lahiran tengah malam.”

Masih tidak ada balasan.

Perutku terasa sedikit sakit. Oh, kayak gini aja toh ternyata rasanya kontraksi. Cemen ah. Kupikir sakit kayak apa, ternyata biasa aja. Huahaha… *pongah

Ehlahdalah… ternyata semakin lama semakin sakit. Tapi masih bisa kutahan, aku masih bisa tenang. Kusambi hapean untuk mengalihkan perhatianku. Browsing-browsing: bagaimana mengatasi sakit kontraksi, bagaimana pernapasan waktu persalinan.
Hari gini baru browsing gituan. Kemana aja selama ini coy?

Aku sms suamiku lagi:”piy… kesinio. Aku pengen ditemeni kamu.”

Masih tidak ada balasan.

Kutelpon, tidak diangkat. Ah, sial. Pasti dia lagi tidur. Dan dia memang selalu silent HP nya. *sampe sekarang sebenernya aku masih marah dan kecewa kalo inget hal ini. Grrrr…..

Semakin lama rasa sakitnya semakin kuat. Aku dah gak sanggup hapean lagi karena sudah fokus dengan rasa sakitku. Cuma bisa menarik napas dan menghembuskannya keras-keras dengan harapan bisa mengurangi rasa sakit (hasil browsing. Ekekek).

“Aduuh… aduuh…,”begitu rintihku.

Eh, ibuku tiba-tiba nimbrung,”mbokyo jangan aduh. Astagfirullah haladzim… gitu lho.”

Sebenernya nasehat ibuku baik. Tapi saat itu aku sedang sangat kesakitan, kujawab:”aahh… biarin aja. Orang lagi sakit juga. Plis jangan berdebat sekarang.”
Tapi kalo dipikir-pikir, kata ‘astagfirullah hal adzim’ kan lumayan panjang. Masa’ orang yang lagi kesakitan disuruh ngucap kata sepanjang itu. Mending ngucap ‘ya Allah’ saja kan ya.

Semakin lama semakin kuat rasa sakitnya. Pernah sakit perut saat mens? Nah, sakitnya mirip itu, tapi dalam kadar berkali-kali lipat. Ibarat kripik Maicih, sakit perut saat mens itu adalah kripik Maicih level 3. Sedangkan kontraksi itu sampe level 10. Kali-lipatin sendiri aja dah.

Lama-lama aku gak kuat. Aku bilang ke Ibu,”panggilin mbak asisten Buuuu…. sakiiit.”

Ibu:”lha kamu udah ngrasa mules kayak kebelet beol gak?”

Aku:”belum. Tapi ini udah sakit banget.”

Ratapanku semakin keras. Ibu bergegas ngetuk pintu kamar mbak asisten. Mbak asisten keluar dengan tergeragap, abis bangun tidur kayaknya. Katanya:”ya ampun mbak, aku kaget dengar suara sampeyan teriak-teriak.”

“Sa-kit ba-nget mbak,”kataku dengan terputus-putus.

Sama mbak asisten aku diajak pindah ruangan ke kasur tinggi lagi. Dicek bukaan. Masih bukaan 5 katanya. Hadooh… masih jauh ternyata.

~Bersambung dah, biar gak kepanjangan.

Pengalaman belanja online dari Korea (+ sekilas tentang barang yang aku beli)

Berawal dari membaca review di sebuah blog tentang cleansing brush bermerk Tosowoong. Mungkin ada yang belum tau, cleansing brush adalah alat bantu buat cuci muka. Jadi kalo kita biasanya cuci muka dengan facial wash menggunakan telapak tangan aja, tapi dengan cleansing brush kita membersihkan wajah menggunakan sikat mikro yang lembut dan halus yang mampu membersihkan sampe ke dalam pori-pori. Dengan begitu, wajah kita menjadi lebih bersih dari debu-debu dan kotoran-kotoran. Si empunya blog melakukan review terhadap pemakaian cleansing brush ini selama beberapa lama pemakaian, dan foto before-after wajahnya memang menunjukkan hasil kulitnya menjadi lebih halus dan bersih. Kalo penasaran, googling aja dengan keyword: buleipotan blog+tosowoong. Bener-bener bikin mupeng pengen beli juga. Ini penampakan cleansing brush tersebut:

image

Di blog tersebut, Si Empunya blog menunjukkan link langsung ke online shop dimana bisa membeli Tosowoong brush itu. Namun ketika aku klik link-nya, menunjukkan halaman error. Setelah aku konfirm ke si empunya blog, ternyata memang online shop tersebut udah tutup alias gak jualan lagi.

Karena udah terlanjur naksir berat sama tuh Tosowoong Cleansing Brush, aku browsing-browsing lagi buat nyari mana yang jual. Entah aku yang kurang teliti atau gimana, tapi aku gak nemu online shop yang trusted di Indonesia. Ada sih yang jual di lapak-lapak online seperti tokopedia, lazada, dan semacam itu. Tapi terus terang aku gak berani beli disana, karena tidak ada jaminan itu barang asli. Kalau baju atau sepatu KW masih gakpapa ya, tapi kalo sikat wajah, sikat buat muka dapet yang KW… trus muka kita kenapa-kenapa… ih, gakmaulah. Punya muka bermasalah itu gak nyaman tau. Bikin minder, bad mood, cenderung males ketemu orang, dll (kalo aku sih gitu, dulu, waktu mukaku bermasalah).

Akhirnya nemu juga situs online yang kunilai trusted, yaitu http://www.wishtrend.com . Wishtrend tuh jual kosmetik dan skincare dari Korea, lokasinyapun di Korea. Jadi, barang yang kita beli ya dikirimnya dari sana. Kalo kepo, silahkan aja cuss ke websitenya. Yang pertama-tama perlu kita lakukan ya sign up dulu. Masukkan data-data diri kita. Setelah itu, sok atuh pilih apa aja yang mau dibeli, tambahkan aja ke keranjang belanjaan. Kalo udah selesai pilih-pilihnya, silahkan pilih metode pembayaran. Aku sih pake kartu kredit, soalnya gak ngerti soal paypal-paypalan.

Dari website wishtrend, baru aku tau kalo tosowoong brush yang ada di blog tadi itu ternyata sekarang ada versi barunya yaitu Tosowoong 4D Cleansing Brush:

image

Apa bedanya Tosowoong 4D brush ini dengan Tosowoong yang di blog tadi? Kalo yang di blog tadi, dia tuh gak ada mesinnya, jadi bener-bener cuma sikat yang kita gerak-gerakin menyapu wajah dengan menggunakan ‘tenaga’ tangan. Tapi kalo yang versi 4D ini, dia pake baterei AAA, ada tombol on-off nya. Jadi kalo mau pake, simply tinggal tekan tombolnya, dan bzzzzz…. sikat akan bergerak dengan circular motion. Tinggal tempelin dan gerak-gerakin deh di wajah. Karena fiturnya lebih canggih, tentu saja harganya juga lebih mahal. Nih perbandingan harganya, 2 kali lipat lebih kan:

image

Aku memutuskan buat beli yang versi 4D. Oh ya, disini bisa milih mau pengiriman cepat (5 hari nyampe), atau yang biasa aja (3-4 minggu nyampe). Karena ongkos yang pengiriman cepat cukup mahal, aku pilih yang pengiriman biasa aja, yaitu dengan ongkos 9 USD. Aku beli waktu itu tanggal 9 Januari 2016, dan barangku dimasukkan ke Kantor Pos Korea tanggal 13 Januari.

Karena ini pertama kalinya aku pesen barang dari luar negeri, makanya excited banget (norak ya? ya biarinlah. Namanya juga baru pertama. Wkwkwk…). Kan setelah kita melakukan pembayaran, maka kita akan mendapat email yang isinya link tracking Korea Post atas pengiriman barang. Ya, saking semangatnya, hampir tiap hari aku cek, sampe mana progressnya:

image

Coba cermati gambar di atas. Setelah tanggal 18 Januari, tracking itu tampak berhenti. Aku cek besok, besok, dan besoknya lagi, masih saja belum ada progress. Kayak mandeg sampe disitu. Lama-lama resah juga. Akhirnya pada tanggal 2 Pebruari aku pergi ke kantor pos besar di daerahku untuk menanyakan hal ini. Di Kantor Pos, aku gak tau mau nanya ke siapa (waku itu sudah jam 6 sore. Customer Service sudah tidak ada. FYI, Kantor Pos besar disini buka sampe jam 8 malam). Akhirnya aku ambil aja antrian ‘kiriman barang’. Ketika antrianku dipanggil, aku bertanya ke Petugas Loket, dimana aku bisa mendapat info tentang pengiriman barang dari luar negeri?

Oleh Petugas Loket, aku diminta ke gedung belakang Kantor Pos, karena disanalah tempat barang-barang dari luar negeri berada. Oke, akupun cuss kesana. Aku bertanya pada petugas disana, dengan menunjukkan tracking numberku yang dari Korea Post. Dan yang bikin shock, petugas berkata bahwa hasil pencariannya nihil. Barangku bahkan belum tiba di Jakarta, begitu katanya.

Sesampai di kosan, aku masih kepikiran. Akhirnya aku browsing-browsing sendiri bagaimana cara melacak kiriman dari luar negeri. Ketemu! Aku disarankan supaya ngecek di web EMS Indonesia. (Oh ya, yang di gambar tracking Korea Pos di atas itu, meski nampaknya mereka menulis tracking tanggal demi tanggal dengan runtut, tapi sebenarnya mereka tidak real time menulisnya, alias tidak pada saat itu juga. Karena waktu itu aku cek tiap hari juga tetap mandeg di tanggal 18 Januari. Kurasa yang status setelah tanggal 18 Januari itu, mereka baru mengupdatenya sekarang-sekarang ini. Karena mandeg itulah, makanya aku mencari second opinion di EMS).

image

Ternyata ada! Horray… barangku gak jadi ilang \(^_^)/

Apa yang bisa kita simpulkan disini? Jadi gini: ketika tracking dari Korea Post (18 Januari) menunjukkan status Departure from outward office of exchange , itu artinya barang sudah tidak berada di Korea, sehingga lebih baik kita trackingnya di web EMS Indonesia saja. Barang itu sudah berada di Indonesia, jadi yang lebih akurat update-nya adalah EMS Indonesia.

Dengan semangat baru, aku terus pantengin EMS tiap hari. Dan akhirnya, tanggal 9 Pebruari kemaren barang dinyatakan sudah sampai di Kantor Pos sini. Yay! Tapi karena ada libur Galungan 3 hari, aku gak bisa ngambil paket itu. Hari ini, 12 Pebruari sudah bukan hari libur lagi, alias hari kerja. Aku tadi berencana akan ke Kantor Pos pada jam istirahat kantor untuk mengambil paket. Eh… ternyata pagi-pagi, sekretaris kantor menelpon ruanganku dan bilang kalo ada paket untukku. Dan supaya aku mengambilnya di ruangannya dan membayar ongkos Rp 3 ribu untuk pos. (Ya, aku pernah baca kalo pengiriman dari luar negeri kan biasanya bungkusnya dibongkar-bongkar dulu sama bea cukai. Trus Kantor Pos mempacking ulang paket tersebut. Dan biaya Rp. 3 ribu itu ya ongkos untuk packing tadi).

Akhirnyaa… sampe juga deh barangku. Setelah satu bulanan menunggu. Muahaha….

image

Pengalaman Mengurus Kartu BPJS untuk PNS

Sebenarnya udah dari kapan duluĀ Ibuku ngoprak-ngoprakĀ aku buat ngurus BPJS.
“BPJS tuh penting. Bulik Is (saudara sekaligus tetangga sebelah), kemaren aja pas berobat buat sakit kuningnya cuma bayar dikit, karena dia punya BPJS. Kalo dia gakpunya BPJS, bakal puluh-puluhan juta bayarnya,”begitulah Ibuku panjang-lebar mempromosikan BPJS. Aku iya-iyain aja, dan masih belum kuurus karena malas.

Sekarang aku sedang hamil 8 bulan. Ibuku gak bosan-bosannya ‘menterorku’. Setiap sms/telfon selalu ngingetin,”buruan ngurus BPJS. Bentar lagi kamu kan lairan.”
Hadeeh.. iya deh, daripada terus-menerus diteror Ibunda, akhirnya hari ini aku ke Kantor BPJS Denpasar.Ā Lucky me,Ā hari ini adalah Hari Raya Galungan, yang artinya adalah libur fakultatif di Instansi-Instansi Pemerintah. Artinya lagi, Kantor BPJS alamat bakal sepi, jadi aku akan ngantri gak terlalu lama. Yay!

Sekedar info, dulu aku sebenernya udah pernah dateng ke Kantor BPJS, nanya ke bagian informasinya, gimana cara supaya aku dapat Kartu BPJS. Kata teman-teman kantor sih, karena aku PNS, jadi sebenernya aku udah otomatis terdaftar sebagai peserta BPJS. Cuma belum dapat kartunya ajaa gitu. Trus Si Petugas ngasih aku selembar kertas kecil yang isinya adalah daftarĀ berkas yang harus dilampirkan:

20160211_120056.jpg

BPJS di hari normal gitu antriannya sak-hohah. Kayak satu kampung tumplek blek disana. Karena udah pusing duluanĀ liat antriannya, makanya waktu itu aku males ngurusnya.

Ini mumpung lagi Hari Raya Galungan, libur fakultatif selama 3 hari (Selasa, Rabu, Kamis/9, 10, 11 Februari), maka perkiraanku Kantor BPJS akan sepi. Kesempatan nih, biar gak ngantri lama. Karena sekarang Hari Kamis, hari terakhir libur fakultatif, semalam aku bela-belain keliling nyari cetak foto yang buka (yah, banyak yang tutup). Akhirnya dapet juga. Walaupun ternyata keesokan harinya aku tau kalo perjuanganku sia-sia karena ternyata foto 3×4 yang tercantum di persyaratan itu gak diminta saat di Kantor BPJS.

Tadi pagi, sebelum berangkat ke BPJS, sempat terjadi kehebohan kecil karena aku baru nyadar kalo aku gak punya fotokopi KTP dan fotokopi KK. Mau memfotokopi KTP juga gak bisa, karena KTP ku masih di Jawa, lagi dipake buat ngurus KK baru. Ya, KK ku masih KK lama, masih ngikut orangtua. Sementara aku udah menikah selama 1 taun lebih, dan bentar lagi melahirkan anak pertamaku. Mau gak mau kudu ngurus KK baru, soalnya perlu buat bikin akta kelahiran anakku nantinya.

Cek cek hardisk eksternal, seingetku aku punya softcopy scan KTP. Ada ternyata, yey!
Sayangnya, gak ada softcopy scan KK. Akupun pulang ke kosan. Di kamarku juga aku bongkar-bongkar map gak ada. Agak putus asa, aku sms Ibu:”kayaknya aku masih belum bisa ngurus BPJS, soalnya gakpunya fotokopi KK.”

Trus dibales sama Ibu:”mau ibu kirimi fotokopi KK dari sini?” Haduh ribet. FYI, ibuku tinggal di Jawa.

Oh ya, masih ada satu tempat yang belum kucari: di dozer kepegawaian kantor. Aku segera balik lagi ke kantor, ngacir ke bagian Umum/Kepegawaian, bongkar-bongkar dozer…. ternyata ada! Oke, persyaratan lengkap. Langsung cuss ke Kantor BPJS.

Sesampai disana, bener perkiraanku, kantornya sepi. Hanya ada beberapa motor yang parkir. Aku menuju bagian informasi, dan berkata ke Petugas:”Saya mau cetak kartu BPJS.”

Petugas:”sudah daftar atau belum.?”
Aku Ā  Ā  Ā :”Saya sebenarnya sudah terdaftar dari dulu, karena saya PNS. Tapi belum dapat kartu.”

Trus sama petugas aku dikasih antrian Cetak Kartu: nomor urut B-25. Waktu aku duduk di ruang tunggu, antriannya sudah sampai nomor B-20. Aku nunggu gak terlalu lama, sekitar setengah jam kayaknya. Pas lagi nunggu itu aku diajak ngobrol seorang ibu yang juga sedang mendaftar BPJS,”bayinya gak sekalian didaftarin mbak?” tanya Si Ibu sambil melirik perutku.

Aku:”emang bisa Bu? kan masih di dalem perut.”

SI Ibu:”bisa kok.”

Aku:”Walah.. KK saya yang ngikut suami aja belum punya Bu. KK saya masih ngikut orangtua.”

Oke, kembali ke loket. Begitu antrianku dipanggil, aku langsung menuju loket. Kuberikan berkas-berkasku ke petugas. Petugas bertanya kepadaku:”ini Ibu terdaftarnya di Faskes Buleleng. Mau di-update datanya?” Memang sebelum di Denpasar, aku bertugas di Buleleng. Di kantor yang di Bulelenglah aku terdaftar BPJS.

Aku:”Oh iya, boleh. Bisa nggak di-update ke Surabaya aja?” soalnya nanti aku rencana lahiran dll di Surabaya, di tempat suami. Ya, aku dan suami memang pasangan LDR.

Petugas:”Bisa, Bu. Silahkan ambil formulir perubahan data dulu di meja informasi” Oke, formulir sudah kuambil, kuserahkan lagi ke Petugas Loket. Si Petugas loket yang ngisi, aku tinggal tandatangan sajo. hohoho.

Aku:”nah, misal nanti suatu hari saya mau mengganti jadi Faskes Denpasar lagi, bisa gak?”
Petugas:”Bisa Bu, nanti tinggal datang aja ke Kantor BPJS terdekat, minta di-update datanya. Tapi penggantian data baru boleh dilakukan paling cepat 3 bulan setelah update data terakhir ya Bu.”

Okay. Cukup jelas. Si Petugas kemudian menyerahkan selembar kertas print biasa padaku, print hitam putih. Isinya adalah e-ID BPJS ku. Dia minta maaf karena print kartu warnanya sedang habis. Agak kecewa karena kukira aku akan dapat kartu BPJS yang bagus dan berwarna. Tapi kata Si Petugas, itu sama aja fungsinya. Dengan print e-ID itu,Ā itu aku bisa menggunakan layanan BPJS sebagaimana mestinya. Yah, mungkin ntar aku laminating aja kali ya biar gak rusak.

Huh, selesai. Gak lupa lapor ma Ibu biar hatinya lega karena aku dah punya kartuĀ BPJS. Hahaha…

Ini penampakan kartunya. Maap kalo data diri disensor.

bpjs paint.jpg
Tampak Depan
20160211_121105[1].jpg
Tampak Belakang