Ceritaku melahirkan (bagian 2)

Sesaat kemudian, datanglah Bu Bidan Yanah dan satu orang bidan pembantu (? Entah dia siapa. Pokoknya dia ikut bantuin. Atau sebut aja dia ‘asisten’ juga deh). Dan mbak asisten tadi juga ada. Jadi, total ada 3 orang yang bantuin lahiranku.

Sementara aku terus menerus meratap. Bu Bidan Yanah menenangkanku, ngelus-ngelus dan bilang,”memang rasa sakitnya ini yang dicari mbak. Kalo nggak sakit, ya bayinya gak bisa keluar.”

Rasa sakit terus bertambah. Aku sampe mengangkat-angkat kaki kananku dan menaikkannya ke tembok sebagai pelampiasan rasa sakit. Dan terus menerus teriak “sakiiit….!” Kepalaku posisi mendongak ke atas sambil memejamkan mata.

“Mbak… jangan teriak-teriak. Nanti tenaganya habis. Simpan tenaganya buat ngeden nanti. Dan kakinya jangan diangkat-angkat. Kepalanya juga jangan mendongak ke atas gitu, nunduk aja!”

Pertama sih aku turutin semua instruksi bidan. Tapi ketika rasa sakit mendera lagi… lupa deh sama tuh instruksi, dan ngulangi lagi teriak-angkat kaki-kepala mendongak. Terus sama bidannya diingetin lagi. Terus aku lupa lagi. Gitu aja terus sampai Harry Styles jatuh cinta padaku 😐

Lama-lama bidannya bosen kayaknya ngingetin aku, jadi aku dibiarin aja pas teriak-angkat kaki-kepala mendongak. Lha abis gimana lagi? Hanya dengan seperti itulah rasa sakitku lumayan teralihkan.

Proses persalinan ini melelahkan. Aku harus mengeluarkan banyak tenaga untuk mengejan dan menahan rasa sakit. Mana aku belum sempat makan lagi sebelum berangkat tadi. Dan itu sudah malam. Warung ato kios makanan dah pada tutup.

Bidan dan asisten-asistennya terus mengistruksikan aku supaya mengejan,”ayo mbak. Mengejan. Biar bayinya cepet keluar.”

Kemudian akupun mengejan sekuat tenaga yang aku bisa.

Bidan,”Aduh… bukan gitu cara ngejannya mbak. Salah.”

Kemudian aku mengejan lagi sampe mulutku berbunyi, untuk membuktikan ke bidan kalo aku bener-bener mengejan.

Bidan,”Bukan gitu mbak ngejannya.”

Kemudian aku mengejan lagi. Dan bidan bilang kalo cara mengejanku salah lagi. Gitu aja terus sampe Harry Styles jatuh cinta padaku.  Aaaggrhh… sebenernya cara ngejan yang bener kayak apa seh 😐

Bidan,”ayo mbak bayangkan kalo kamu udah berhari-hari sembelit dan sekarang di dalem perut kamu ada e’ek yang sangat besar. Dan kamu sedang berusaha mengeluarkannya.”

Aku:”eeekkkk……!” Sambil mengejan.

Capek. Berhenti dulu mengejannya. Kemudian beberapa menit kemudian dilanjut lagi. Kalo capek lagi ya berhenti lagi, kemudian dilanjut lagi. Gitu terus deh.

Bu bidan terus menyemangati:”ayo, e’ek besar!”

Akupun berusaha mengejan. Dengan variasi gerakan angkat kaki-kepala mendongak-teriak *tetep ya*

Oh iya, aku sempat juga mencoba posisi jongkok, yang dibilang di artikel-artikel di internet sebagai posisi alami orang melahirkan (karena mirip posisi BAB). Tapi tetep aja tuh, gak ngaruh. Gak bikin lebih mudah juga. Yang ada, aku malah keder ngliat darahku yang berceceran di kasur. Balik lagi ke posisi tiduran jadinya.

Lelah dan kesakitan, aku bertanya-tanya dalam hati, sampe kapan seperti ini? Kapan sih, bayi ini akan keluar? Kok nggak keluar-keluar sih?

Setelah sekian banyak kalinya mengejan, tiba-tiba bidan dan dua asistennya pindah posisi ke sampingku. Bertiga mereka menekan dan mendorong perutku. Sesaat kemudian aku merasa perutku ringan. Kuberanikan diri membuka mata (yang selama proses persalinan tadi refleks memejam). Ternyata bayiku sudah keluar! Tapi loh… kok gak ada suara tangisan?

Asisten kemudian membawa bayiku ke kasur yang lain (masih di ruangan yang sama). Setelah diapain gitu (aku juga gaktau, soalnya posisi asisten membelakangiku), bayiku menangis dengan nyaring,”owaaa… owaaa…!”

Aku hanya bisa mengucap: alhamdulillah… alhamdulillah..

Aku bener-bener takjub, akhirnya bayi ini keluar juga. Waktu itu jam 02.10 di jam dinding di kamar itu. Entah jamnya presisi pa nggak. Yah, kurang lebih 6 jam berarti ya proses persalinanku.

Ibuku tergopoh-gopoh masuk ruangan ketika mendengar bayiku menangis. Dan kemudian berkata dengan suara keras dan bernada kaget,”loh, kok kepalanya gini?!”

Deg… aku langsung kaget. Kenapa dengan kepala bayiku? Jangan-jangan bayiku ada cacat.

Asisten menjawab:”tidak apa-apa Bu. Ini kepala bayinya lonjong karena mbaknya tadi kelamaan ngejannya. Beberapa hari lagi juga akan bundar dengan sendirinya kok.”

Owalah… bikin panik aja ibuku -_-

Oh ya, ada yang belum kuceritakan. Tadi selama proses persalinan… mulut vaginaku digunting, atau dalam bahasa medisnya disebut episiotomi. Mau tau gimana rasanya? Gak kerasa apa-apa. Ya, saking sakitnya kontraksi, sampe-sampe kulit diguntingpun gak kerasa apa-apa. Udah kalah sama rasa sakit kontraksi.

Dan yang paling menyakitkan adalah proses penjaitan. Aku gaktau aku dibius pa nggak (kayaknya enggak deh. Atau dibius tapi dikit? Entah). Pertama sih aku masih bisa tegar. Mulutku bisa tetap mingkem. Eh… tapi makin lama kok makin sakit. Akhirnya keluar juga tangisanku,”sakiit.. sakit…. whuaa… whuaaa.”

Setiap tunjesan jarum terasa bener di bawah sana. Jrus.. jrus.. jrus… Beh, mantap bener deh rasanya.

Setiap bertanya ke dua asisten yang sedang menjahit,”masih lama nggak mbak?”
Selalu mereka menjawab,”bentar lagi kok mbak.”

Dan ternyata proses penjahitan itu berlangsung lumayan lama. Setelah sekitar 45 menit, akhirnya selesai juga. Selama penjaitan itu, sempat-sempatnya dua asisten itu ngobrol-ngobrol cantik, mereka ngomongin aku.
Asisten 1,”kulitnya mbak ini putih banget ya. Jadinya gampang merah.”

Asisten 2,”iya, kulitnya sensitif juga kayaknya.”

Sementara itu, orang yang diomongin lagi teriak-teriak sambil nangis.

Oh ya, setelah proses penjaitan selesai, aku ngobrol-ngobrol juga sama mereka. Kata mereka, robekanku lumayan banyak karena aku gak begitu bisa mengejan. Makanya aku tadi dijaitnya lama. Sebagai gambaran, kalo orang-orang lain pada umumnya cuma abis benang 1/2 meter, lha aku sampe abis 2 meter. Hiks…
Trus ada kata-kata salah satu asisten yang masih kuinget,”kalo sakit kontraksi itu, rasa sakitnya akan terbayar ketika bayinya lahir. Ada imbal baliknya lah. Lha kalo rasa sakit dijahit? Nggak ada imbal baliknya.”
Betul juga sih.

Pas ngecek hp, ada beberapa sms dan misscall dari suamiku. Kukabarkan kalau aku dah lahiran. Dan kemudian dia dan keluarganya nyampe disini jam 10 pagi.

Fiuh… akhirnya selesai juga. Penantianku selama 9 bulanan 🙂

Mau tau nggak, komentar para tetangga ketika tau aku dah lairan? Gini,”wah… mbak putri lairannya gampang ya.”

Gampang gundulmu! Proses melahirkan yang sakit dan berdarah-darah itu dibilang gampang! *gak trima. Hahaha.

Tapi ternyata di kemudian hari, aku tau, bahwa proses lairanku termasuk cepat, cuma 6 jam. Teman-temanku yang lain ada yang 12 jam, 36 jam, 38 jam, bahkan ada yang 48 jam!
Aku gak bisa bayangin gimana sakitnya. Aku aja yang ‘cuma’ 6 jam, rasanya kayak setengah hidup.

Bagaimana kehidupanku pasca melahirkan? Nano nano rasanya. Yah, aku sempat ngalami yang namanya baby blues syndrome. Nti kucritain di bagian lain. Oke, sampai jumpa di lain waktu ya. Mwah mwah.

Advertisements

Ceritaku melahirkan (bagian 1)

Hari Perkiraan Lahir bayiku 7 April 2016. Namun, sampe minggu-minggu terakhir menjelang tanggal itu, tetap saja gak ada tanda-tanda apa-apa. Kan kalo menjelang lahiran akan ada tanda-tanda yang dirasakan bumil, kayak kontraksi palsu, atau keluar lendir darah. Nah, itu sama sekali gak ada.

Trus…

Suatu sore, keluar air netes-netes dari vagina. Dikit sih. Sempat curiga kalo itu air ketuban. Tapi karena gak pernah tau air ketuban tuh kayak apa, jadi aku mikirnya bisa jadi itu keputihan.

Trus agak maleman, keluar lagi tuh tetes-tetes air. Masih dikit juga.

Waktu itu aku lagi santai-santai. Mainan hp sambil tidur-tiduran di kasur. Saat itu menjelang jam 8 malam, aku bangkit dari kasur. Pas berdiri, tiba-tiba byurr…. kali ini bukan tetes-tetes lagi, tapi banjir! Air berwarna bening dengan tekstur cenderung cair membasahi lantai, keluar begitu saja tanpa bisa ditahan. Yakinlah aku kalau itu air ketuban.

Aku langsung heboh, manggil-manggil Ibu:”Buuu… aku mau lahiran.” Excited campur deg-degan. Inilah saat yang kutunggu-tunggu.

Ibu tergopoh-gopoh masuk kamar, dan bilang,”yawes cepet ganti baju. Ibu panggilin becaknya Pakdhe Seger dulu.”
Pakdhe Seger adalah tetangga dekat rumah yang sudah tandatangan kontrak *halah pret* dengan ibuku buat sewaktu-waktu nganterin aku lahiran.

“Keset mana Bu? Ini lantainya basah semua,”kataku sambil nunjuk lantai. Kalo dipikir-pikir, konyol juga. Sempat-sempatnya mikirin bersihin lantai. Wkkk…

“Udaaah… itu nanti saja diurusin. Sekarang yang penting kita berangkat ke Bu Yanah sekarang.” Kata Ibu. Bu Yanah adalah bidan yang sudah kurencanakan untuk membantu kelahiranku.

Oh ya, kenapa aku milih lahiran di bidan yang praktek di rumah? Kenapa tidak di RS aja? Ya, aku emang udah bertekad, selama gak ada masalah apa-apa dengan kehamilanku, aku tidak ingin melahirkan di RS, soalnya aku takut. Takut dengan suasana RS yang ramai. Takut kalo bakal down duluan karena denger suara jerit-jerit dari ibu-ibu lain yang lagi melahirkan.

Kalo di rumah bu bidan kan suasananya tenang. Cuma aku sendirian aja yang melahirkan. Yah, beda-beda tipislah sama homebirth. Ya nggak? Wkwkwk…

Soal biaya, meskipun tidak terlalu jadi pertimbanganku.. di bidan lebih murah. Cuma 1,5 juta. Kalo di RS 4jutaan.

Okw kembali lagi ke cerita. Dengan naik becak bersama ibu, aku menuju rumah Bu Yanah yang berjarak 2 gang dari rumahku. Di jalan aku sms suamiku. Ya, posisi suamiku di kota lain (Kota S): “piy ketubanku dah pecah. Ini aku dah mau ke bidan.”

Tidak ada balasan.

Sampe di tempat Bu Yanah, aku disambut asistennya yang lagi jaga. Aku disuruh berbaring di kasur yang tinggi. Disuruh naikin rok dan ngangkang buat ngecek bukaan.

“Bu… hapeku lowbat. Tolong dicas dulu.” Kataku ke Ibu.”ada colokan dimana mbak?”tanyaku ke mbak asisten.

“Aduuh… nanti aja ngurusin hapenya. Sekarang yang penting dicek dulu ini bukaannya.”kata mbak asisten.

Dicek bukaan. Aku gak yakin prosesnya gimana.. soalnya aku dalam kondisi berbaring dan gak ngliat ke bawah. Tapi kayaknya jarinya mbak asisten dimasukin ke vaginaku. Entah, pokoknya rasanya kayak vaginaku diobok-obok.

“Masih bukaan satu.”kata mbak asisten.

Aku sedikit kecewa. Yah, masih lama dong. Secara untuk melahirkan kan bukaannya sampe sepuluh.
Sementara itu, air ketuban terus mengocor.

Sama mbak asisten aku diajak pindah ruangan. Ke ruangan sebelah. Kali ini kasur biasa, bukan kasur tinggi. Ada 3 kasur disana. Aku berbaring di kasur 1, sementara ibuku duduk-duduk di kasur 2.

“Ini masih bukaan satu mbak. Ntar mungkin lahirannya tengah malam. Saya tinggal dulu ke kamar saya ya. Nti kalo mbak udah ngerasa mules kayak kebelet be’ol, panggil saya ya.”

Tinggallah aku di ruangan itu berdua dengan ibuku. Aku sms suamiku lagi,”piy. Nanti katanya aku lahiran tengah malam.”

Masih tidak ada balasan.

Perutku terasa sedikit sakit. Oh, kayak gini aja toh ternyata rasanya kontraksi. Cemen ah. Kupikir sakit kayak apa, ternyata biasa aja. Huahaha… *pongah

Ehlahdalah… ternyata semakin lama semakin sakit. Tapi masih bisa kutahan, aku masih bisa tenang. Kusambi hapean untuk mengalihkan perhatianku. Browsing-browsing: bagaimana mengatasi sakit kontraksi, bagaimana pernapasan waktu persalinan.
Hari gini baru browsing gituan. Kemana aja selama ini coy?

Aku sms suamiku lagi:”piy… kesinio. Aku pengen ditemeni kamu.”

Masih tidak ada balasan.

Kutelpon, tidak diangkat. Ah, sial. Pasti dia lagi tidur. Dan dia memang selalu silent HP nya. *sampe sekarang sebenernya aku masih marah dan kecewa kalo inget hal ini. Grrrr…..

Semakin lama rasa sakitnya semakin kuat. Aku dah gak sanggup hapean lagi karena sudah fokus dengan rasa sakitku. Cuma bisa menarik napas dan menghembuskannya keras-keras dengan harapan bisa mengurangi rasa sakit (hasil browsing. Ekekek).

“Aduuh… aduuh…,”begitu rintihku.

Eh, ibuku tiba-tiba nimbrung,”mbokyo jangan aduh. Astagfirullah haladzim… gitu lho.”

Sebenernya nasehat ibuku baik. Tapi saat itu aku sedang sangat kesakitan, kujawab:”aahh… biarin aja. Orang lagi sakit juga. Plis jangan berdebat sekarang.”
Tapi kalo dipikir-pikir, kata ‘astagfirullah hal adzim’ kan lumayan panjang. Masa’ orang yang lagi kesakitan disuruh ngucap kata sepanjang itu. Mending ngucap ‘ya Allah’ saja kan ya.

Semakin lama semakin kuat rasa sakitnya. Pernah sakit perut saat mens? Nah, sakitnya mirip itu, tapi dalam kadar berkali-kali lipat. Ibarat kripik Maicih, sakit perut saat mens itu adalah kripik Maicih level 3. Sedangkan kontraksi itu sampe level 10. Kali-lipatin sendiri aja dah.

Lama-lama aku gak kuat. Aku bilang ke Ibu,”panggilin mbak asisten Buuuu…. sakiiit.”

Ibu:”lha kamu udah ngrasa mules kayak kebelet beol gak?”

Aku:”belum. Tapi ini udah sakit banget.”

Ratapanku semakin keras. Ibu bergegas ngetuk pintu kamar mbak asisten. Mbak asisten keluar dengan tergeragap, abis bangun tidur kayaknya. Katanya:”ya ampun mbak, aku kaget dengar suara sampeyan teriak-teriak.”

“Sa-kit ba-nget mbak,”kataku dengan terputus-putus.

Sama mbak asisten aku diajak pindah ruangan ke kasur tinggi lagi. Dicek bukaan. Masih bukaan 5 katanya. Hadooh… masih jauh ternyata.

~Bersambung dah, biar gak kepanjangan.