Andai…

Kadang aku mikir,
Alangkah enaknya jadi sebutir pasir.
Tidak punya pikiran,
Tidak punya perasaan,
Tidak punya kenangan buruk,
Tidak punya trauma,
Tidak punya rasa sakit hati dan terluka….

Ah, andai aku cuma sebutir pasir

Advertisements

Sedih…

Sedih banget ketika apa yang udah kita rencanakan dan impikan jauh-jauh hari ternyata gak sesuai dengan kenyataan.

Aku sengaja ngambil cuti bersalin jauh-jauh hari, satu bulan sebelumnya, supaya bisa menghabiskan banyak waktu dengan suamiku. Ya, kami adalah pasangan LDR. Bagiku, kebersamaan adalah hal yang istimewa.

Aku ambil cuti. Kemudian aku terbang ke Kota S, ke tempat dimana suamiku dan orangtuanya tinggal. Dan di sinilah masalahnya terjadi.

Suamiku orang yang sangat baik. Mertuaku juga baik, baik sekali malah. Tapi masalahnya, rumah yang aku tempati betul-betul gak nyaman: berantakan, kotor, penuh dengan barang-barang yang digeletakkan begitu saja.

Aku tidak akan bercerita rinci keadaan rumah itu, karena aku menghormati suamiku. Aku gak tega kalo harus menceritakannya. Walaupun kalian tidak tau siapa aku 🙂

Ya, intinya bayangkan saja rumah yang saking penuhnya dengan barang, sampe gak menyisakan space kosong kecuali tempat untuk kita berjalan saja.

Bayangkan saja rumah yang saking penuhnya bahkan tidak bisa digunakan untuk menerima tamu. Ya, mertuaku kalau menerima tamu menumpang di rumah saudaranya.

Bayangkan saja rumah yang saking penuhnya, satu-satunya tempat yang bisa digunakan untuk duduk hanyalah di ranjang masing2. Bahkan untuk makanpun harus duduk di ranjang karena tidak ada tempat lain di rumah itu yang bisa digunakan untuk duduk. (Lantai kamar suamiku yang sempit itu bahkan penuh dengan barang-barang mamanya).

Ironisnya, barang-barang yang bikin rumah penuh itu sepertinya barang-barang yang tidak terpakai, yang harusnya dibuang saja. Beberapa barang (eh, banyak ding) malah udah jelas-jelas kalau itu sampah yang seharusnya memang dibuang ke tempat sampah. Sungguh aku gak ngerti. Barang-barang itu benar-benar gak ada fungsinya selain sebagai penadah debu.

Tak ada yang bisa kulakukan disitu.
Mau nyapu juga gak bisa. Apanya yang disapu? Lawong semua lantai penuh barang. Ngepel apalagi. Banyak debu dan kotoran disana, karena rumah itu bahkan tidak bisa dibersihkan.

Mau nyuci piring juga males, karena tempat nyuci piringnya juga gak nyaman.

Mau masak juga males, karena dapurnya juga gak nyaman.
Gak nyaman gimana? Yah, secara singkat bisa kukatakan kotor dan berantakan. Maaf aku gak mau menceritakan secara rinci 🙂

Mau nyuci baju juga males… karena yah alasannya sama kayak di atas deh.

Yups… aku tipe orang yang perlu tempat yang tepat untuk melakukan sesuatu.

Setiap habis mandi aku juga bukannya seger dan rileks, tapi malah cemberut dan bad mood. Yah.. alasannya sama kayak di atas.
Apalagi pas hamil tua gini, sering beser, membuatku harus sering bolak balik kamar mandi. Dengan keadaan kamar mandi yang tidak nyaman, membuatku stress juga.

Semua itu, ditambah ventilasi yang buruk (panas, pengap)… membuatku tertekan.
Aku jadi susah tidur. Mataku ngantuk, tubuhku lelah, tapi aku tidak bisa tidur. Kadang saking stressnya aku nangis-nangis sendiri, sambil berbicara pada janinku supaya dia cepat lair, supaya aku bisa segera keluar dari situ. Yah, tentu saja pas suamiku lagi kerja.

Oh ya… dulu rencananya seminggu setelah lairan aku akan tetap berada disitu, baru kemudian pulang ke rumah ortuku. Tapi, kemudian aku membayangkan kalo aku gak akan tega kalo bayiku berada disitu. Dengan kondisi rumah yang tidak sehat seperti itu. Ini juga jadi beban pikiranku.

Lama-lama suamiku bisa membaca kalo aku stress. Dia menanyakan kenapa? Awalnya aku gakmau terus terang… takut dia tersinggung. Tapi akhirnya aku gak kuat juga, kuceritakan semuanya. Kuceritakan bahwa aku gak betah di rumah ini karena bla bla bla.

Suamiku menghela napas, dan berkata,”ya, semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Dan inilah salah satu kekuranganku: rumahku berantakan. Tapi aku juga gak mungkin bilang ke mama (ibunya, maksudnya), karena mama bisa sakit hati. Mama gak boleh stress, Dik.”

Aku jawab:”tapi aku gak tahan Mas. Keadaan rumah ini bener-bener bikin aku stress. Ijinkan aku pulang saja ke rumah ortuku, daripada aku stress disini, kamu juga yang kena.”

Suamiku sepertinya emosi mendengar perkataanku, karena setelah itu dia berkata dengan nada keras,”kalau kamu pulang, aku akan tersinggung. Mama dan ayahku juga!”

Aku hanya bisa nangis.

Setelah itu hubungan kami makin memburuk. Aku semakin malas berbicara dengannya. Diapun juga sudah malas membujukku. Dua hari kemudian, aku benar-benar pergi dari rumahnya. Dan dia tampak marah sekali.

Saat itu aku hanya memikirkan aku dan bayiku. Aku takut kalo aku terus-terusan stress gitu, akan berpengaruh buruk terhadap janinku.

Sekarang, sudah hampir 2 minggu sejak aku pergi dari rumahnya. Gak bisa kupungkiri kalo aku kangen dia. Aku sudah mengirim pesan, tapi gak ada yang dibalasnya. Mungkin dia masih marah.

Kadang aku mikir, apa aku dah salah ngambil keputusan? Lalu aku harus gimana?

Kadang juga merasa bersalah sama mertua. Mereka sangat baik terhadapku. Sampe-sampe semua perlengkapan bayiku mereka semua yang beliin. Kapan hari mereka juga memberiku kejutan dengan membawaku ke rumahku tanpa sepengetahuanku… karena aku pernah bilang ke suamiku karena aku kangen ibuku. Ah… orang-orang baik itu. Kalau inget begitu, aku merasa bersalah sekali.

Andai saja rumah mereka nyaman dihuni… alangkah sempurnanya semuanya. Bukan mauku juga kalo aku gak tahan berada di rumah itu.

Ya, semua rumahtangga punya ujiannya sendiri-sendiri. Dan mungkin inilah ujianku kali ini.

Suamiku…. I miss you.

Ibu Hamil Jaman Dulu vs Ibu Hamil Jaman Sekarang

image

Sebagai ibu hamil yang berada di jaman serba internet ini (yup… sekarang aku lagi hamil 38 minggu), gak heran kalo aku rajin-rajin cari info soal kehamilan, baik dari forum maupun dari artikel. Informasi benar-benar tak terbatas, kita bisa cari apapun yang kita mau di internet.

Dunia maya yang tanpa batas ini seperti ini ada baiknya tapi juga ada jeleknya. Di satu sisi kita bisa mendapatkan info yang bermanfaat. Tapi di sisi lain, terlalu banyak info juga bisa bikin kita paranoid berlebihan. Padahal, info dari internet belum tentu benar juga.

Okey, sesuai dengan judul, yuk kita bahas santai, bedanya ibu hamil dulu dan sekarang.

1. Pas awal-awal tau kalo aku hamil, aku excited , gembira, tapi sekaligus bingung cemas. Secara aku tinggal sendiri di rantau. Jauh dari ortu dan suami. What I should do? Aku harus ngapain nih? Oh, aku harus cari dokter kandungan buat ngecek kandunganku tiap bulan. Cari dokter kandungan yang bagus, aku tanya teman-teman kantor. Teman-teman banyak yang merekomendasikan Dokter Z. Gak cukup dengan rekomendasi teman-teman, sebelum memutuskan untuk menjadikan Dokter Z sebagai dokterku… terlebih dulu aku cari di internet review soal Dokter ini. Setelah yakin kalo beliau kayaknya emang bagus, barulah aku kesana.

Sementara ibuku? ketika kutanya, gimana dulu waktu beliau hamil. Katanya sih cuma periksa aja di puskesmas. Dah gitu aja. So simple. Lairannya? di dukun beranak pernah, di bidan juga pernah.

Ibu juga pernah cerita kalo dulu pas hamil aku, beliau gak nyadar kalo lagi hamil. Yang ibu tau, beliau telat mens. Kemudian pergilah beliau ke bidan biar disuntik supaya mens nya lancar.

Trus aku protes,”lah… kenapa kok gak tes dulu hamil pa nggaknya. Kenapa buru-buru suntik mens?”

Jawab ibu:”yaaa… gak kepikiran. Jaman dulu mah kalo orang telat mens ya ke bidan aja buat suntik supaya mens nya lancar. Eh… tapi setelah suntik itu, bulan berikutnya ibu tetap gak mens. Ternyata ibu lagi hamil kamu. Berarti memang kamunya yang bandel, disuntik gak mempan.”

Hahaha… sial -_-

2. Soal skincare dan kosmetik.
Pada umumnya, ibu hamil jaman sekarang banyak yang berpendapat kalo menggunakan skincare dan kosmetik selama hamil itu hukumnya haram. Setidaknya itu yang kuliat pada teman-temanku, yang rela berkusam-kusam ria selama hamil.

Kalo browsing-browsing di internet, memang ada daftar panjang bahan-bahan/ingredients kosmetik yang dilarang digunakan oleh ibu hamil. Kategorinya pun macam-macam. Ada yang benar-benar tidak boleh digunakan karena terbukti bisa membahayakan janin pada manusia (seperti retinoid acid). Nah kalo ini gak usah dibantah lagi karena buktinya juga memang udah ada. Merkuri juga, bahaya buat ibu hamil. Tapi jaman sekarang, bodoh aja kalo masih ada yang mau pake skincare abal-abal yang terduga mengandung merkuri.

Ada yang kategorinya masih abu-abu alias belum terbukti pada manusia, seperti BHA/salicylic acid dan paraben.

Celakanya, jaman sekarang dua ingredients itu banyak terdapat di produk-produk yang beredar di pasaran. Setidaknya ada dua produk skincare harian yang kupakai yang mengandung BHA, yaitu Hadalabo Tamagohada Facial Wash, dan sabun dettol buat cuci tangan.

Sementara paraben? ya, itu bahan pengawet yang ada di hampir setiap kosmetik. Coba deh cek skincare/kalian, pasti ada parabennya (methylparaben).

Awalnya baca info itu, aku jadi takut pake skincare ku. Takut bayiku kenapa-kenapa, takut ngaruh ke janin. Aku beralih ikut aliran naturalis (halah), pake blenderan oatmeal buat cuci muka, pengganti facial wash. Aku cocok-cocok aja sih pake oatmeal, kulitku gak bereaksi aneh-aneh (jerawatan misalnya). Tapiii masalahnya, kamar mandiku jadi rusuh, gampang kotor dan licin lantainya oleh bekas-bekas oatmeal. Mana agak ribet pula pakenya. Disendok dulu ke telapak tangan, campur air dikit, bejek-bejek pake ujung-ujung jari sampe keluar ‘milk’ nya. Baru dipake buat cuci muka. Arrrgghh… rempong!

Gak tahan, akhirnya kembali lagi aku pake facial wash tamagohada. Awalnya sih takut-takut, tapi setelah kupikir dengan jernih:
* itu kan produk yang wash off. Yang cuma mampir sebentar di kulit kita, kemudian dibilas.
* pada produk pasaran (produk yang bukan produk dokter), pada umumnya gak ada yang mengandung ingredients yang ekstrim. Misalnya BHA pada Hadalabo, presentasenya dalam produk pastilah kecil.

Bismillah aja, akhirnya aku kembali pake skincare seperti biasa.

Pas aku tanya ke ibuku, gimana waktu beliau hamil dulu. Pake kosmetik-kosmetikan gitu gak. Ibuku jawab iya. “Tetep lah dandan seperti biasa.”

Hahaha… oke deh. Enaknya jadi ibu hamil jaman dulu, gak mikir ingredients segala -_-

3. Soal makan
Pas awal-awal hamil, aku rajin cari info makanan apa yang gak boleh dimakan sama ibu hamil. Mau makan rambutan, googling dulu boleh gak nya. Mau makan coklat, googling dulu. Mau mamam kepiting, googling dulu. Mau ngeteh, googling dulu. Capek sih, apalagi kadang informasi yang kita dapet simpang siur. Di artikel yang ini bilang boleh, di artikel yang lain bilang gak boleh. Pusing gak tuh!

Aku sempat ‘mengharamkan’ beberapa makanan:
* sate! takut dagingnya gak mateng bener. Tiap kali lewat warung sate favoritku, cuma bisa glek aja nyium aromanya.
* teh dan kopi, karena mengandung kafein. Katanya gak baik buat kalsium bayi dan ibu.
* ikan laut. Ikan laut emang bisa bikin cerdas bayi. Tapi jeleknya, ikan di lautan kita yang kotor ini resiko terpapar merkuri. Tau efek merkuri buat janin kan? bisa bikin autis.

Pas aku nanya ke ibuku, dulu pas hamil beliau ada pantangan makanan gak? jawabnya cuma hindari aja yang panas-panas, kayak durian dan tape. Dah, itu aja. Guampang ya -_-

Tapi aku pernah ngobrol sama temen, dan dia ngasi nasehat yang menurutku bijak. Gini katanya,”gak usah terlalu paranoid mbak. Dilogika aja kan bisa. Yang penting, kalo makan sesuatu jangan berlebihan aja. Duren, sepotong dua potong, bolehlah. Hamil gak hamil, kan sesuatu yang berlebihan emang gak baik.”

Alhasil, trimester ketiga ini aku mulai agak-agak ‘nakal’. Mulai berani incip-incip durian. Beberapa kali makan sate kambing, sering minum teh anget tiap pagi (aah… ini surga banget dah), dan sesekali minum kopi. Dan alhamdulillah kayaknya semuanya baik-baik aja. Tiap kontrol ke dokter hasilnya bagus, dan aku juga gak pernah flek.

4. soal melahirkan.
Menjelang HPL, aku mulai gelisah. Mikir, gimana ya lairanku nanti? gimana caranya untuk tau kalo emang udah waktunya melahirkan?
Yuk mare kita browsing-browsing lageee…
Kalo mau melahirkan, biasanya akan mengalami salah satu dari 3 ciri ini
* keluar lendir bercampur darah dari vagina
* pecah ketuban, ditandai dengan rembesan air yang mengalir tanpa bisa ditahan
* kontraksi yang intens

Trus, posisi janin juga bakal menentukan persalinan. Kalopun gak sungsang, bukan berarti aman-aman aja. Masih ada lagi namanya posisi janin anterior dan posterior. Kalo anterior akan lebih mudah nglairinnya, sedangkan kalo posterior agak susah. Kata artikelnya sih gituu. Nih, perbandingan posisi anterior dan posterior.

image
posterior
image
anterior

Jadi galau, janinku anterior apa posterior ya?

Trus galau juga, ketika baca kalo kita waktu lairannya udah lewat HPL, apalagi sampe lewat dari 42 minggu, bisa bahaya. Karena janin yang terlalu lama di dalam perut bisa mengalami pengapuran plasenta.

Pas aku tanya ke ibuku soal pengalamannya waktu lairan dulu. Kurang lebih kayak gini dialognya:
Aku: Bu, dulu ibu lairannya di minggu keberapa?
Ibu : nggak tau. Nggak ngitung. Yaa… pokoknya sekitaran 9 apa 10 bulan gitu.
Aku: Trus waktu lairan dulu ibu tanda-tanda yang muncul apa dulu? pecah ketuban, kontraksi, apa keluar lendir darah?
Ibu : mbuh, pokoknya kalo udah krasa perut sakit banget ya ibu naek becak ke bidan. Trus lairan deh.

Hadeeh… -_-
Jawaban ibu emang gak banyak membantu, tapi lumayan bikin aku agak nyantai. Sesantai ibuku menghadapi kehamilan dan persalinannya. Wkwkwk…

Gak mikir browsing dulu sebelum makan.
Gak mikir ingredients kosmetik.
Gak mikir HPL.
Gak mikir anterior posterior.
Indahnya dunia. Huehehe…

FYI, ibuku dulu nglairin aku dalam keadaan sungsang, di bidan. Kalo jaman sekarang, mungkin udah di-sesar kali ya.

Karena Wanita Ingin Terlihat Cantik di Depan Lelakinya

Mungkin beritanya udah agak basi, tapi gak basi untuk dibahas sih.

Beberapa bulan yang lalu, dunia perseleban (?) Indonesia sempat dihebohkan dengan perubahan wajah yang cukup drastis dari artis dangdut Nita Thalia. Ya, wajah manis nan bulat khas Indonesia itu tiba-tiba berubah drastis menjadi ramping dan tirus seperti wanita Korea.

image

Konon katanya, operasi plastik itu dilakukan dalam 5 tahap dan menghabiskan biaya sampai 1 M, walau di beberapa berita Nita sempat membantah bahwa jumlah itu tidak benar. Yang menarik, ketika ditanya mengenai alasannya ‘merombak’ total wajah dan tubuhnya, Nita menjawab,”Karena niat saya melakukan ini murni untuk membahagiakan suami, untuk mempertahankan keharmonisan rumah tangga saya,” (dikutip dari wawancara GO SPOT RCTI).

Seperti biasa, hal-hal yang belum lazim di Indonesia pasti akan menimbulkan pro-kontra, termasuk berita Nita Thalia ini. Tapi aku tidak ingin membahas itu. Aku ingin membahas alasan Nita Thalia, yang ingin tampil cantik di depan suaminya. Cerita ini mengingatkan aku pada cerita Jocelyn Wildenstein.

Jocelyn adalah seorang sosialita di New York, istri seorang milyuner bernama Alec Wildenstein. Suatu hari Jocelyn memergoki perselingkuhan suaminya dengan seorang model muda berusia 19 tahun. Alih-alih menceraikan suaminya, Jocelyn justru berusaha merebut cinta suaminya kembali, dengan melakukan operasi plastik. Jocelyn mengubah wajahnya melalui pisau operasi, sehingga menjadi mirip kucing. Operasi itupun menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Ia berpikir bahwa dengan mengubah wajahnya mirip hewan kesayangan suaminya, maka suaminya akan mencintainya lagi. Namun sayangnya operasi wajahnya gagal, sehingga hasilnya mengerikan. Pada akhirnya, Alecpun menceraikan Jocelyn.

image

Mungkin beberapa dari kita menganggap mereka berlebihan. Ngapain sih sampe segitunya, terima diri sendiri apa adanya aja kenapa. Kita kan udah terlahir sempurna. Bla bla bla. Yah, yang menganggap kayak gitu gak salah juga sih. Tapi aku gak hendak membahas itu. Aku hanya ingin melihat dari sisi lain, dari sisi upaya seorang wanita. Bagaimana kerasnya usaha seorang wanita untuk dicintai suaminya. Bagaimana kerasnya upaya wanita untuk mendapatkan predikat cantik di hadapan suaminya.

Aku tau rasanya. Karena aku pernah merasakan itu.

Aku pernah merasakan sakitnya saat tanpa sengaja mengetahui suamiku menyimpan banyak foto cewek seksi dan cantik antah berantah yang diperolehnya dari facebook. Di hapenya dan di laptopnya. Dia simpan banyak. Dan dia mengakui kalau dia seringkali berfantasi dengan foto-foto itu, dan bahwa itu adalah kebiasaannya sejak dari lama.

Aku sungguh sakit ketika mengetahui itu. Rasanya harga diriku sebagai wanita langsung terhempas. Aku merasa buruk, tidak menarik. Sejelek itukah aku sampai suamiku bahkan harus repot-repot mencari bahan untuk fantasinya?

Saking sakitnya aku, aku sampe bilang ke suami waktu itu,”silahkan kamu cari wanita yang sesuai fantasimu itu untuk kamu nikahi. Yang seperti di foto-foto itu. Biar kamu gak perlu repot-repot nyari bahan untuk berfantasi kayak gitu.”

Suamiku memang sudah meminta maaf, dan berjanji untuk menghapus semua foto-foto itu dan tidak akan mencari lagi. Yah, entahlah. Aku juga tidak tau apa aku harus percaya padanya atau tidak, mengingat bahwa mengubah kebiasan adalah bukan hal yang mudah.

Mungkin kalian menganggapku berlebihan. Wajar kok laki-laki nyimpen foto kayak gitu. Begitu mungkin yang ingin kalian bilang. Tapi salahkah aku kalau aku ingin menjadi satu-satunya wanita yang menarik bagi suamiku? menjadi satu-satunya fantasinya?

Salahkah?