Sedih banget ketika apa yang udah kita rencanakan dan impikan jauh-jauh hari ternyata gak sesuai dengan kenyataan.

Aku sengaja ngambil cuti bersalin jauh-jauh hari, satu bulan sebelumnya, supaya bisa menghabiskan banyak waktu dengan suamiku. Ya, kami adalah pasangan LDR. Bagiku, kebersamaan adalah hal yang istimewa.

Aku ambil cuti. Kemudian aku terbang ke Kota S, ke tempat dimana suamiku dan orangtuanya tinggal. Dan di sinilah masalahnya terjadi.

Suamiku orang yang sangat baik. Mertuaku juga baik, baik sekali malah. Tapi masalahnya, rumah yang aku tempati betul-betul gak nyaman: berantakan, kotor, penuh dengan barang-barang yang digeletakkan begitu saja.

Aku tidak akan bercerita rinci keadaan rumah itu, karena aku menghormati suamiku. Aku gak tega kalo harus menceritakannya. Walaupun kalian tidak tau siapa aku 🙂

Ya, intinya bayangkan saja rumah yang saking penuhnya dengan barang, sampe gak menyisakan space kosong kecuali tempat untuk kita berjalan saja.

Bayangkan saja rumah yang saking penuhnya bahkan tidak bisa digunakan untuk menerima tamu. Ya, mertuaku kalau menerima tamu menumpang di rumah saudaranya.

Bayangkan saja rumah yang saking penuhnya, satu-satunya tempat yang bisa digunakan untuk duduk hanyalah di ranjang masing2. Bahkan untuk makanpun harus duduk di ranjang karena tidak ada tempat lain di rumah itu yang bisa digunakan untuk duduk. (Lantai kamar suamiku yang sempit itu bahkan penuh dengan barang-barang mamanya).

Ironisnya, barang-barang yang bikin rumah penuh itu sepertinya barang-barang yang tidak terpakai, yang harusnya dibuang saja. Beberapa barang (eh, banyak ding) malah udah jelas-jelas kalau itu sampah yang seharusnya memang dibuang ke tempat sampah. Sungguh aku gak ngerti. Barang-barang itu benar-benar gak ada fungsinya selain sebagai penadah debu.

Tak ada yang bisa kulakukan disitu.
Mau nyapu juga gak bisa. Apanya yang disapu? Lawong semua lantai penuh barang. Ngepel apalagi. Banyak debu dan kotoran disana, karena rumah itu bahkan tidak bisa dibersihkan.

Mau nyuci piring juga males, karena tempat nyuci piringnya juga gak nyaman.

Mau masak juga males, karena dapurnya juga gak nyaman.
Gak nyaman gimana? Yah, secara singkat bisa kukatakan kotor dan berantakan. Maaf aku gak mau menceritakan secara rinci 🙂

Mau nyuci baju juga males… karena yah alasannya sama kayak di atas deh.

Yups… aku tipe orang yang perlu tempat yang tepat untuk melakukan sesuatu.

Setiap habis mandi aku juga bukannya seger dan rileks, tapi malah cemberut dan bad mood. Yah.. alasannya sama kayak di atas.
Apalagi pas hamil tua gini, sering beser, membuatku harus sering bolak balik kamar mandi. Dengan keadaan kamar mandi yang tidak nyaman, membuatku stress juga.

Semua itu, ditambah ventilasi yang buruk (panas, pengap)… membuatku tertekan.
Aku jadi susah tidur. Mataku ngantuk, tubuhku lelah, tapi aku tidak bisa tidur. Kadang saking stressnya aku nangis-nangis sendiri, sambil berbicara pada janinku supaya dia cepat lair, supaya aku bisa segera keluar dari situ. Yah, tentu saja pas suamiku lagi kerja.

Oh ya… dulu rencananya seminggu setelah lairan aku akan tetap berada disitu, baru kemudian pulang ke rumah ortuku. Tapi, kemudian aku membayangkan kalo aku gak akan tega kalo bayiku berada disitu. Dengan kondisi rumah yang tidak sehat seperti itu. Ini juga jadi beban pikiranku.

Lama-lama suamiku bisa membaca kalo aku stress. Dia menanyakan kenapa? Awalnya aku gakmau terus terang… takut dia tersinggung. Tapi akhirnya aku gak kuat juga, kuceritakan semuanya. Kuceritakan bahwa aku gak betah di rumah ini karena bla bla bla.

Suamiku menghela napas, dan berkata,”ya, semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Dan inilah salah satu kekuranganku: rumahku berantakan. Tapi aku juga gak mungkin bilang ke mama (ibunya, maksudnya), karena mama bisa sakit hati. Mama gak boleh stress, Dik.”

Aku jawab:”tapi aku gak tahan Mas. Keadaan rumah ini bener-bener bikin aku stress. Ijinkan aku pulang saja ke rumah ortuku, daripada aku stress disini, kamu juga yang kena.”

Suamiku sepertinya emosi mendengar perkataanku, karena setelah itu dia berkata dengan nada keras,”kalau kamu pulang, aku akan tersinggung. Mama dan ayahku juga!”

Aku hanya bisa nangis.

Setelah itu hubungan kami makin memburuk. Aku semakin malas berbicara dengannya. Diapun juga sudah malas membujukku. Dua hari kemudian, aku benar-benar pergi dari rumahnya. Dan dia tampak marah sekali.

Saat itu aku hanya memikirkan aku dan bayiku. Aku takut kalo aku terus-terusan stress gitu, akan berpengaruh buruk terhadap janinku.

Sekarang, sudah hampir 2 minggu sejak aku pergi dari rumahnya. Gak bisa kupungkiri kalo aku kangen dia. Aku sudah mengirim pesan, tapi gak ada yang dibalasnya. Mungkin dia masih marah.

Kadang aku mikir, apa aku dah salah ngambil keputusan? Lalu aku harus gimana?

Kadang juga merasa bersalah sama mertua. Mereka sangat baik terhadapku. Sampe-sampe semua perlengkapan bayiku mereka semua yang beliin. Kapan hari mereka juga memberiku kejutan dengan membawaku ke rumahku tanpa sepengetahuanku… karena aku pernah bilang ke suamiku karena aku kangen ibuku. Ah… orang-orang baik itu. Kalau inget begitu, aku merasa bersalah sekali.

Andai saja rumah mereka nyaman dihuni… alangkah sempurnanya semuanya. Bukan mauku juga kalo aku gak tahan berada di rumah itu.

Ya, semua rumahtangga punya ujiannya sendiri-sendiri. Dan mungkin inilah ujianku kali ini.

Suamiku…. I miss you.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s