Oke… sekarang kita lanjut lagi ceritanya.

Di tengah-tengah cerita tentang mulusnya wajahku, terbersit pikiran: bagaimana jika aku berhenti perawatan dan berhenti pake krim-krim ini? apakah wajahku akan tetap baik-baik saja? tetap semulus inikah? karena aku pernah dengar kalo krim-krim klinik kecantikan itu bisa bikin ketergantungan. Kalo berhenti make, wajah kita kondisinya akan jadi lebih buruk dari sebelum pake.

Mungkin ada yang bilang: ah, itu mah bukan ketergantungan. Sama aja kalo kamu rutin cuci muka tiap hari, wajah jadi bersih. Tapi kalo kamu berhenti cuci muka, ya jelaslah bakal kusem. Lawong dari dirawat menjadi gak dirawat. Sama aja kalo kamu punya muka kinclong karena kamu rawat dengan menggunakan krim-krim klinik sehingga kinclong. Kalo kamu gak pake krim itu lagi, ya wajarlah mukamu jadi kusem dan jerawatan lagi karena gak kamu rawat lagi pake krim-krim itu.

Gaess…. bukan seperti itu yang aku sebut ketergantungan. Coba kita bikin perbandingan kayak gini:
1. Si A adalah pecandu narkoba. Udah pake narkoba rutin dalam jangka waktu lama. Kalo dia gak pake narkoba, dia bisa sakaw berat. Dan narkoba ini bagi dia gak bisa diganti dengan apapun. Misalnya: ah, aku mau berhenti pake narkoba ah. Mau kuganti rokok aja. Toh rokok sama narkoba sama-sama punya efek menenangkan.
No, no… gak semudah itu keles.
Tapi masa’ Si A gak bisa berhenti dari narkoba? bisa, tapi butuh usaha yang gigih dan waktu yang tidak sebentar.
2. Si B suka banget ma sushi. Selama ini dia sering banget makan sushi. Suatu hari si B hamil, dan dokter melarangnya mengkonsumsi sushi selama dia hamil, karena makanan yang tidak matang bisa berefek tidak baik bagi janin. Trus gimana dong nasib Si B? Ya gak gimana-gimana. Dia toh tetep bisa makan makanan yang lain. Masih bisa makan bakso, soto, gado-gado, dll. Efek sampingnya palingan dia cuma ngences kalo ngliat gambar sushi. Di luar itu, dia tetap hidup dan sehat-sehat saja.

Jadi kesimpulannya?
Krim klinik mungkin bisa diibaratkan kayak narkoba. Susah banget lepasnya. Gak semudah sekedar lepas, trus ganti pakai krim bebas di pasaran, kemudian wajah kita tetap kinclong. Nggak, nggak semudah itu. Ntar aku ceritain gimana selama 4 tahun ini aku berjuang melawan ketergantungan terhadap krim klinik, sampe akhirnya kulit wajahku bisa balik normal lagi.

Kalo krim klinik ibarat sushi, tentu akan mudah mencari penggantinya. Tinggal ganti aja pake soto, ups pake Ponds atau Garnier maksudku. Toh intinya kita tetap merawat kulit, hanya saja pake krim lain. Tapi kenyataannya gak semudah itu loh.

Ini aku screenshoot salah satunya, dari Forum Femaledaily. Disana buanyaaak yang share pengalaman gimana ‘perjuangan’ mereka untuk berhenti menggunakan krim klinik/krim dokter. Kalo kamu pengen tau lebih banyak cerita mereka, search aja di google dengan kata kunci: femaledaily forum+melepaskan ketergantungan pengobatan dokter kulit.

image

Ada lagi ini cerita yang lebih ekstrim, ini aku screenshoot dari blog Moodymoodpecker-nya Pratiwi Wijayanti. Jadi inget dulu waktu dulu pertama kali aku baca cerita ini, rasanya pengen nangis. Rasanya ‘perjuanganku’ gak ada apa-apanya dibandingkan orang dalam cerita ini:

image

image

image

Hal lain yang membuatku berfikir untuk berhenti pakai krim klinik ini adalah: bagaimana kalau aku nanti menikah dan hamil (ya, waktu itu tahun 2011, aku belum nikah). Seperti kita tau, wanita hamil mempunyai pantangan-pantangan terhadap bahan-bahan tertentu yang ada pada krim wajah, seperti retinoid, BHA, Hidroquinone (apa lagi ya?). Nah, masalahnya, krim wajah klinik yang aku pake tidak mencantumkan bahan-bahannya apa aja.

Pernah aku bertanya pada dokternya:”Dokter, krim malam ini bahannya apa ya?”
Dia jawab:”itu whitening.”
Aku.           :”whiteningnya apa dok?”
(maksud aku, whitening agent kan banyak macemnya, ada niacinamide, arbutin, kojic acid, AHA, licorice, dll. Nah, ada whitening yang boleh digunakan untuk ibu hamil, dan ada yang tidak)
Dokter       :”ya, macem-macem whitening.”

*jiahh… glodak!
*pingsan

Pernah juga waktu itu aku treatment MDPP disana. Waktu itu tahun 2014, menjelang nikah, aku pengen wajahku bersihan. Iya, memang sih aku dah lama berhenti pake krim-krimnya pada waktu itu, tapi untuk tritmennya aku masih kadang-kadang kesana. Untuk perawatan wajah, baik facial maupun tindakan medis… aku akuin memang Miracle Aesthetic Clinic ini top banget. Higienis, steril, dan langsung menunjukkan hasil yang nyata. Recommended dah pokoknya. Tapi kalo untuk pake krim-krim racikannya dalam jangka panjang, I say: no, thanx.

Nah, yang bikin aku ‘takjub’, dokternya bilang gini:”mbak, kalo mau lebih cepet kinclongnya, pake aja topi krim tiap malem sampe nanti hari-H.” Aku iya-iyain aja, padahal dalam hati aku bilang gini:”hadeh gimana sih dok. Ni topi cream/krim anti iritasi, kan isinya kortikosteroid, yang gak boleh dipake jangka waktu lama. Maksimal 5 hari aja.”

Mau tau akibatnya kalo kita memakai krim bersteroid dalam jangka waktu panjang? Sok atuh baca:

image

image

Menurutku sayang sekali kalau klinik sekelas Miracle, product knowledge dokternya kurang joss.

Oh ya, kalau kalian baca postinganku yang berjudul “Aku dan Jerawat (bagian 3)”, kalian akan tau kalau aku sehari-hari menggunakan krim racikan bernama acne base gel. Dan ternyata di kemudian hari aku baru mengetahui kalau di dalam krim acne base gel itu ada antibiotik clindamycin. Mungkin ada yang udah tau, ada yang belum; bahwa antibiotik itu gak boleh dipake dalam jangka waktu lama karena bisa menyebabkan resistensi/kebal. Dan aku sudah menggunakan krim itu selama 2 taun -_- . Padahal waktu itu aku rutin tiap bulan kontrol dan perawatan disana, tapi dokter gak menjelaskan apa-apa soal ini. Tiap kali kontrol hanya ditanya apakah krimku masih atau dah habis. Kalau habis diresepin lagi untuk di-repurchase. Dah, gitu aja.

Bagaimana kondisi wajahku setelah lepas dari krim klinik? Baca di postingan berikutnya yaa…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s