Aku dan Jerawat (bagian 5) ~Tamat deh~

Oke! Sudah kuputuskan. Hari itu bulan Januari 2012. Aku bertekad berhenti menggunakan krim-krim Miracle. Aku langsung ganti ke rangkaian Ponds, krim yang dulu setia menemaniku sebelum aku kenal Miracle. Waktu itu aku menggunakan Ponds Flawless White.

Satu hari setelah lepas, wajahku masih bagus.
Dua hari, masih bagus juga.
Tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, kulitku tidak sehalus dulu lagi ketika disentuh. Terasanya setiap kali cuci muka, tekstur kulit mulai berubah agak-agak kasar. Ya, tapi secara keseluruhan kondisi kulitku masih bisa dibilang baik. Aku berusaha menerima keadaan ini sebagai sesuatu yang wajar, sebagai konsekuensi karena lepas dari krim klinik.

Hari demi hari berlalu. Dan semakin hari kulitku semakin jelek. Setelah tekstur kulit berubah kasar kemudian suatu hari aku baru menyadari kalo di wajahku tiba-tiba banyak bintik-bintik hitamnya, kayak flek gitu. Awalnya pas aku ngaca, aku kira itu hanya perasaanku saja. Tapi kemudian, pas aku makan bareng temenku, temenku komentar,”ih, mukamu kenapa tuh kok jadi bintik-bintik.” Kaget, seumur-umur aku gak pernah ada flek-flek/bintik-bintik, dan gak ada bakat flek juga.

Belum selesai sampai disitu, lama-lama muncul brintil-brintil jerawat. Awal-awal aku masih bisa nahan diri untuk gak ngusik-ngusik itu jerawat. Tapi lama-lama jerawat itu semakin banyak, semakin mengganggu. Tiap kali cuci muka, yang kesentuh tanganku adalah kulit yang kasar dan berjerawat. Arrgghh….!
Kejadian selanjutnya, bisa ditebak. Aku kembali ke kebiasaan yang lama: ngaca sambil mencet-mencet jerawat. Kadang saking kesalnya, aku kerok pake kuku permukaan jerawatnya, sehingga dagingnya terbuka dan menjadi kayak luka gitu. Dan kemudian bekas pencet-pencet dan kerok-kerok itu berubah warna menjadi hitam. Dan itu jumlahnya banyak di wajahku. Jadi bisa dibayangkan gimana jeleknya wajahku: banyak totol totol hitam bekas luka jerawat.

Meskipun aku sudah berhenti memakai krim-krim Miracle, tapi selama tahun 2012 aku masih menjalani MDPP rutin tiap bulan, dengan harapan totol-totol hitam ini segera enyah. Emang sih kalo abis MDPP, totol-totol hitamnya lekas memudar. Tapi masalahnya, jerawat-jerawatku belum berhenti tumbuh. Jerawat-jerawat itu tetap tumbuh lagi, tetep aku kerok-kerok dan pencet-pencet, dan tadaaa… jadilah bekas totol-totol hitam lagi.

Lama-lama aku nyadar, percuma saja aku MDPP tiap bulan. Selama aku belum bisa mengatasi jerawatku, totol-totol itu akan terus ada, lagi dan lagi. Jadi kayak buang-buang duit aja aku tiap bulan. Jadi kuputuskan: sementara aku belum bisa mengatasi jerawatku, aku gak akan MDPP dulu.

Aku mencoba ganti krim lain. Dari Ponds Flawless White aku ganti ke Ponds Clear Solution. Ponds Clear Solution ini = Ponds warna ijo, alias krim yang kupake jaman kuliah dulu, dan waktu itu aku cocok pake ini.

Tapi sayangnya kali ini aku kurang beruntung. Ponds ijo itu sudah gak lagi cocok sama kulitku. Dan aku tetep aja jerawatan.

Oke kita coba krim lain yang katanya bahannya alami: Gizi super cream. Sama juga, gak cocok.

Kulitku kayak nolak semua krim. Yang dulunya sebelum kenal krim Miracle, kulitku cocok sama semua krim itu, sekarang tidak. Capek, akhirnya aku berhenti saja pake krim-krim apapun. Mungkin kulitku harus puasa dulu. Mungkin harus ada jeda dulu untuk membersihkan kulitku dari krim-krim Miracle, barulah kulitku mau menerima krim baru. Oke, akupun menjalani apa yang kusebut sebagai bare face regimen . Bare face regimen ini maksudnya membiarkan kulitku polosan tanpa memakai krim-krim apapun. Hanya pake facial wash Viva/Viva Clean and Mask buat cuci muka (karena dia formulanya lembut dan PH balance). Selain itu, aku rutin menggunakan masker homemade alias bikinan sendiri (masker kunyit dan masker tepung beras).

Mungkin kalian beratanya,”apa gak kusem tuh muka dibiarin polosan?”

Emang kusem, tapi aku gak peduli. Yang jadi fokusku saat itu hanyalah bagaimana supaya aku gak jerawatan.

Sepertinya bare face regimen ini merupakan langkah yang tepat, karena semakin hari, perlahan tapi pasti, kulitku semakin membaik. Jerawat udah jarang muncul (tetep sih muncul, tapi udah jarang). Trus PR nya ganti lagi dong: bukan lagi gimana mengatasi jerawat, tapi gimana mengatasi komedo. Ya, wajahku jadi sering dihinggapi komedo (baik komedo whitehead maupun blackhead). Tapi kurasa itu karena aku gak pake krim apapun, jadi kulitku kering (dehidrasi), sehingga memicu tumbuhnya komedo.

Sekitar tahun 2013 akhir, aku memberanikan diri memakai Ponds Flawless White lagi, lengkap 1 rangkaian: facial wash, day cream, dan night cream. Sempat cocok pada awalnya. Kulitku jadi tampak cerah merona, dan sempat dikomen temen-temen kantor kalo mukaku cerahan. Tapi semakin lama, kulitku kayak iritasi. Perih tiap kali cuci muka. Mungkin Ponds sekarang formulanya lebih keras, atau bisa jadi juga kulitku yang udah terlanjur ‘tipis’ sehingga jadi sensitif.

Oke… stop lagi deh Pondsnya. Balik lagi ke Viva, sampe kulitku gak iritasi lagi.

Meskipun cocok, lama-lama aku bosan juga pake Viva terus. Dia emang bener-bener cuma buat bersihin wajah aja dari debu/kotoran, tapi gak ada efek mencerahkan, dan tidak bisa menghalau kulit kusam. Mulailah aku hunting-hunting lagi, nyari ‘selingkuhan’, dan ketemulah sama HadaLabo Tamahohada facial wash. Awal-awal pake Hadalabo, kulitku tampaknya menyukainya, karena tidak ada reaksi aneh-aneh seperti jerawat atau iritasi. Oke, aku terusin. Dan ternyata emang cocok: tidak menimbulkan jerawat (karena mengandung BHA yang membersihkan pori-pori), dan ada efek mencerahkan (karena mengandung AHA). Sampe sekarangpun aku masih pake facial wash ini. Udah gak pengen ganti lagi. Entah udah berapa botol aku repurchase. Meskipun bisa dibilang cocok, tapi tetep aja loh, komedo blackhead menghampiri. Sekali lagi, itu karena aku belum juga make pelembab apapun. Tapi biarin deh, yang penting mukaku udah mendingan. Oh ya, waktu itu tahun 2014.

Akhir tahun 2014 aku menikah, pertengahan tahun 2015 aku hamil. Semenjak hamil, entah kenapa kulitku terasa lebih halus dan bersih. Sepertinya hormonku sedang baik. Karena kurasa kondisi kulitku sedang stabil, maka aku mulai berani memikirkan untuk menggunakan rangkaian skincare lengkap. Setelah browsing-browsing dan merenungkan bibit bebet bobotnya (*halah), akhirnya inilah rangkaian skincare ku sekarang. Aku menggunakannya mulai tanggal 31 Oktober sampai dengan sekarang (selain Tosowoong ya, karena tosowoong aku baru pake beberapa hari ini):

image

image

Step-step skincare-ku, itu yang di foto udah aku susun berurutan (yang foto sebelah atas):
1. Cuci tangan dulu pake sabun dettol. Ya, iya dong, masa’ mau bersihin muka, tapi tangannya masih belum bersih.
2. Ambil Hadalabo facial wash, tuang di telapak tangan. Busakan. Kemudian baru oles-oles dan ratakan di wajah.
3. Pake Tosowoong 4D cleansing brush, sebagai alat bantu membersihkan wajah. Kalo dah selesai, basuh wajah sampe sisa-sisa busa ilang, dan wajah bersih.
4. Ambil kapas, tuang Viva Face Tonic Greentea. Kemudian usap-usapkan ke wajah, untuk mengangkat residu facial wash yang mungkin masih tersisa.
5. Ambil kapas lagi, tuang air mineral. Usap-usapkan di wajah. (Itu yang botol Viva Face Tonic, yang warnanya bening, itu isinya air mineral). Kenapa aku perlu membersihkan wajah pake kapas sampe 2 kali gitu? selain untuk membersihkan residu facial wash, juga untuk membersihkan residu dari air keran yang tadi kupake basuh muka. Ya, air keranku emang gak gitu bersih. Kalo diendapkan di ember beberapa hari, akan timbul endapan lumut berwarna hitam.
6. Kalo pagi dan siang, setelahnya aku oleskan Ultra Light Hydrator TDF sebagai pelembab. Ini pelembab ringan banget, gak nutup pori-pori dan gak bikin komedo atau jerawat. Akhirnya, nemuin juga pelembab yang cocok.
7. Kalo malam, yang aku olesin beda lagi, yaitu TDF C Scape Serum. Ni serum Vitamin C mampu mencerahkan wajah. Dan aku cocok dengan ini.

Gambar bawahnya: Itu masker-masker bubuk. Aku pake setiap 2-3 hari sekali, tergantung mood. Pernah nyoba mask sheet, tapi aku gak gitu suka. Lebih mantap pake masker bubuk rasanya. Kalo masker-masker bubuk ini kurasa lebih berfungsi sebagai pengurang minyak di wajah sih. Jadi pas hari gerah wajahku gak terlalu yang oily gitu.

Alhamdulillah sampe saat ini kulitku sehat sentosa. Perasaan ini yang dah lama kurindukan. Perasaan lega karena wajahku gak lagi dicermati teman karena jerawatku dan luka-luka bekas jerawatku kemudian ditanyain:”kok sekarang jerawatan sih?”
Perasaan lega karena sudah berani melihat wajahku sendiri lagi di cermin.
Perasaan lega karena gak lagi minder tiap bercakap-cakap dengan orang.
Perasaan lega karena tidak malu lagi menunjukkan wajah telanjangku yang tanpa make up.

Kulitku emang gak kinclong moblong-moblong. Tapi aku sudah cukup bersyukur. Untuk orang yang kulitnya pernah bermasalah sepertiku, have normal skin is more than enough ūüôā

Oh ya, menurut analisis (*pret) sotoy-ku, kemungkinan di antara krim harian rutin yang kupake dari Miracle itu ada yang mengandung kortikosteroid dan hidroquinone.
Kenapa?
Seperti yang aku bilang di awal tadi, wajahku tiba-tiba timbul flek-flek bintik hitam pasca berhenti pake krim klinik. Kayak semua noda-noda wajah tiba-tiba muncul ke permukaan. Pernah baca, kalo itu adalah efek yang terjadi ketika kita menghentikan pemakaian hidroquinone. Semakin lama kita pake hidroquinone, maka akan semakin parah efeknya ketika kita berhenti. Efek samping pemakaian hidroquinone dalam jangka waktu lama adalah ochronosis, yaitu kondisi dimana kulit akan berubah warna menjadi abu-abu,

image

Untung flek-flek hitam di wajahku lambat laun bisa hilang. Mungkin karena aku belum terlalu lama juga pakenya (2 taun), jadi gak berefek parah.

Sedangkan untuk jerawat yang terus bermunculan setelah berhenti pake krim klinik, itu bisa jadi karena efek kortikosteroid. Jadi gini, sebenernya kortikosteroid itu fungsinya adalah meredakan peradangan/iritasi pada kulit, dan dia mempunyai efek samping memutihkan. Jadi, kadang ada klinik-klinik yang mencampurkan kortikosteroid di krim harian mereka dengan tujuan supaya pasien mendapatkan hasil kulit yang cerah dalam waktu yang relatif tidak lama. Padahal sejatinya, bukan untuk itu penggunaan kortikosteroid. Dan penggunaan dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan penipisan kulit, karena steroid mempunyai efek mengikis kulit.

Sedangkan untuk jerawat, kortikosteroid mempunya efek ‘meredam’ jerawat. Jadi sebenarnya, penggunaan krim bersteroid hanya membuat jerawatmu dipendam di bawah kulit. Jadi kalo kamu yang asalnya berjerawat, terus pake krim bersteroid, kemudian jerawatmu tampak hilang dan wajahmu jadi mulus…. jangan senang dulu. Ingat, jerawat itu hanya sedang ‘bersembunyi’, bukan sudah sembuh/hilang. Begitu kamu menghentikan penggunaan steroid…. boom! semua jerawat-jerawat yang selama ini bersembunyi itu akan ngamuk dan keluar semua.

Correct me if I wrong ya….

Aku masih cukup beruntung bisa normal lagi wajahku, walaupun perlu waktu lama. Ya, 4 taun.

Temanku Si Wati, teman yang sama-sama perawatan di Miracle dulu, dia lepas dari krim Miracle tahun 2012 akhir. Dan sampe sekarang wajahnya masih rutin dihinggapi jerawat, dan bekas-bekas hitamnya bertotol-totol menghiasi wajahnya. Nampaknya dia belum menemukan regimen skincare yang pas untuk kulitnya. Padahal, sebelum pake Miracle dulu, dia wajahnya baik-baik saja, pake Ponds. Emang gak kinclong atau bening, tapi cukup enak dilihat. Yah, just normal. Semoga dia segera sembuh, soalnya kadang kasian liatnya.

Mungkin ada di antara kalian yang lepas dari krim klinik tapi muka tetap baik-baik saja? ya, daya tahan kulit dan tubuh orang itu beda-beda.
Contoh perbandingannya, gini:
Dulu aku pernah beli ikan di pasar tradisional. Ternyata ikan itu bukan ikan segar, sehingga setelah dimasak dan aku memakannya…. aku keracunan. (Bah, itulah seumur-umur aku punya pengalaman keracunan).
Sementara temanku, yang juga makan ikan itu, gak kenapa-kenapa alias baik-baik saja. Ya, karena daya tahan tubuh kami beda.
Tapi bukan berarti dong, trus temanku lempeng aja nerusin makan tuh ikan sampe habis. Meskipun pencernaannya tahan terhadap bakteri dari ikan itu… tapi sejatinya kan ikan itu sebenarnya bukan bahan konsumsi yang baik, karena tidak segar. Atau bisa jadi juga dia baru akan kena efek keracunan setelah makan tiga ekor ikan misalnya. Bisa juga gitu.

Jadi, itulah kenapa ada orang yang dalam tempo 1 taun udah merasakan efek samping krim klinik. Ada yang baru merasakan 3 tahun kemudian. Ada juga yang baru merasakan 5 taun kemudian. Ya, karena daya tahan kulitnya beda-beda cuy…

Hmm… apa lagi ya? Udah itu aja kayaknya.

The end. Bhay!

Advertisements

Aku dan Jerawat (bagian 4)

Oke… sekarang kita lanjut lagi ceritanya.

Di tengah-tengah cerita tentang mulusnya wajahku, terbersit pikiran: bagaimana jika aku berhenti perawatan dan berhenti pake krim-krim ini? apakah wajahku akan tetap baik-baik saja? tetap semulus inikah? karena aku pernah dengar kalo krim-krim klinik kecantikan itu bisa bikin ketergantungan. Kalo berhenti make, wajah kita kondisinya akan jadi lebih buruk dari sebelum pake.

Mungkin ada yang bilang: ah, itu mah bukan ketergantungan. Sama aja kalo kamu rutin cuci muka tiap hari, wajah jadi bersih. Tapi kalo kamu berhenti cuci muka, ya jelaslah bakal kusem. Lawong dari dirawat menjadi gak dirawat. Sama aja kalo kamu punya muka kinclong karena kamu rawat dengan menggunakan krim-krim klinik sehingga kinclong. Kalo kamu gak pake krim itu lagi, ya wajarlah mukamu jadi kusem dan jerawatan lagi karena gak kamu rawat lagi pake krim-krim itu.

Gaess…. bukan seperti itu yang aku sebut ketergantungan. Coba kita bikin perbandingan kayak gini:
1. Si A adalah pecandu narkoba. Udah pake narkoba rutin dalam jangka waktu lama. Kalo dia gak pake narkoba, dia bisa sakaw berat. Dan narkoba ini bagi dia gak bisa diganti dengan apapun. Misalnya: ah, aku mau berhenti pake narkoba ah. Mau kuganti rokok aja. Toh rokok sama narkoba sama-sama punya efek menenangkan.
No, no… gak semudah itu keles.
Tapi masa’ Si A gak bisa berhenti dari narkoba? bisa, tapi butuh usaha yang gigih dan waktu yang tidak sebentar.
2. Si B suka banget ma sushi. Selama ini dia sering banget makan sushi. Suatu hari si B hamil, dan dokter melarangnya mengkonsumsi sushi selama dia hamil, karena makanan yang tidak matang bisa berefek tidak baik bagi janin. Trus gimana dong nasib Si B? Ya gak gimana-gimana. Dia toh tetep bisa makan makanan yang lain. Masih bisa makan bakso, soto, gado-gado, dll. Efek sampingnya palingan dia cuma ngences kalo ngliat gambar sushi. Di luar itu, dia tetap hidup dan sehat-sehat saja.

Jadi kesimpulannya?
Krim klinik mungkin bisa diibaratkan kayak narkoba. Susah banget lepasnya. Gak semudah sekedar lepas, trus ganti pakai krim bebas di pasaran, kemudian wajah kita tetap kinclong. Nggak, nggak semudah itu. Ntar aku ceritain gimana selama 4 tahun ini aku berjuang melawan ketergantungan terhadap krim klinik, sampe akhirnya kulit wajahku bisa balik normal lagi.

Kalo krim klinik ibarat sushi, tentu akan mudah mencari penggantinya. Tinggal ganti aja pake soto, ups pake Ponds atau Garnier maksudku. Toh intinya kita tetap merawat kulit, hanya saja pake krim lain. Tapi kenyataannya gak semudah itu loh.

Ini aku screenshoot salah satunya, dari Forum Femaledaily. Disana buanyaaak yang share pengalaman gimana ‘perjuangan’ mereka untuk berhenti menggunakan krim klinik/krim dokter. Kalo kamu pengen tau lebih banyak cerita mereka, search aja di google dengan kata kunci: femaledaily forum+melepaskan ketergantungan pengobatan dokter kulit.

image

Ada lagi ini cerita yang lebih ekstrim, ini aku screenshoot dari blog Moodymoodpecker-nya Pratiwi Wijayanti. Jadi inget dulu waktu dulu pertama kali aku baca cerita ini, rasanya pengen nangis. Rasanya ‘perjuanganku’ gak ada apa-apanya dibandingkan orang dalam cerita ini:

image

image

image

Hal lain yang membuatku berfikir untuk berhenti pakai krim klinik ini adalah: bagaimana kalau aku nanti menikah dan hamil (ya, waktu itu tahun 2011, aku belum nikah). Seperti kita tau, wanita hamil mempunyai pantangan-pantangan terhadap bahan-bahan tertentu yang ada pada krim wajah, seperti retinoid, BHA, Hidroquinone (apa lagi ya?). Nah, masalahnya, krim wajah klinik yang aku pake tidak mencantumkan bahan-bahannya apa aja.

Pernah aku bertanya pada dokternya:”Dokter, krim malam ini bahannya apa ya?”
Dia jawab:”itu whitening.”
Aku.¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† :”whiteningnya apa dok?”
(maksud aku, whitening agent kan banyak macemnya, ada niacinamide, arbutin, kojic acid, AHA, licorice, dll. Nah, ada whitening yang boleh digunakan untuk ibu hamil, dan ada yang tidak)
Dokter¬†¬†¬†¬†¬†¬† :”ya, macem-macem whitening.”

*jiahh… glodak!
*pingsan

Pernah juga waktu itu aku treatment MDPP disana. Waktu itu tahun 2014, menjelang nikah, aku pengen wajahku bersihan. Iya, memang sih aku dah lama berhenti pake krim-krimnya pada waktu itu, tapi untuk tritmennya aku masih kadang-kadang kesana. Untuk perawatan wajah, baik facial maupun tindakan medis… aku akuin memang Miracle Aesthetic Clinic ini top banget. Higienis, steril, dan langsung menunjukkan hasil yang nyata. Recommended dah pokoknya. Tapi kalo untuk pake krim-krim racikannya dalam jangka panjang, I say: no, thanx.

Nah, yang bikin aku ‘takjub’, dokternya bilang gini:”mbak, kalo mau lebih cepet kinclongnya, pake aja topi krim tiap malem sampe nanti hari-H.” Aku iya-iyain aja, padahal dalam hati aku bilang gini:”hadeh gimana sih dok. Ni topi cream/krim anti iritasi, kan isinya kortikosteroid, yang gak boleh dipake jangka waktu lama. Maksimal 5 hari aja.”

Mau tau akibatnya kalo kita memakai krim bersteroid dalam jangka waktu panjang? Sok atuh baca:

image

image

Menurutku sayang sekali kalau klinik sekelas Miracle, product knowledge dokternya kurang joss.

Oh ya, kalau kalian baca postinganku yang berjudul “Aku dan Jerawat (bagian 3)”, kalian akan tau kalau aku sehari-hari menggunakan krim racikan bernama acne base gel. Dan ternyata di kemudian hari aku baru mengetahui kalau di dalam krim acne base gel itu ada antibiotik clindamycin. Mungkin ada yang udah tau, ada yang belum; bahwa antibiotik itu gak boleh dipake dalam jangka waktu lama karena bisa menyebabkan resistensi/kebal. Dan aku sudah menggunakan krim itu selama 2 taun -_- . Padahal waktu itu aku rutin tiap bulan kontrol dan perawatan disana, tapi dokter gak menjelaskan apa-apa soal ini. Tiap kali kontrol hanya ditanya apakah krimku masih atau dah habis. Kalau habis diresepin lagi untuk di-repurchase. Dah, gitu aja.

Bagaimana kondisi wajahku setelah lepas dari krim klinik? Baca di postingan berikutnya yaa…

Pengalaman belanja online dari Korea (+ sekilas tentang barang yang aku beli)

Berawal dari membaca review di sebuah blog tentang cleansing brush bermerk Tosowoong. Mungkin ada yang belum tau, cleansing brush adalah alat bantu buat cuci muka. Jadi kalo kita biasanya cuci muka dengan facial wash menggunakan telapak tangan aja, tapi dengan cleansing brush kita membersihkan wajah menggunakan sikat mikro yang lembut dan halus yang mampu membersihkan sampe ke dalam pori-pori. Dengan begitu, wajah kita menjadi lebih bersih dari debu-debu dan kotoran-kotoran. Si empunya blog melakukan review terhadap pemakaian cleansing brush ini selama beberapa lama pemakaian, dan foto before-after wajahnya memang menunjukkan hasil kulitnya menjadi lebih halus dan bersih. Kalo penasaran, googling aja dengan keyword: buleipotan blog+tosowoong. Bener-bener bikin mupeng pengen beli juga. Ini penampakan cleansing brush tersebut:

image

Di blog tersebut, Si Empunya blog menunjukkan link langsung ke online shop dimana bisa membeli Tosowoong brush itu. Namun ketika aku klik link-nya, menunjukkan halaman error. Setelah aku konfirm ke si empunya blog, ternyata memang online shop tersebut udah tutup alias gak jualan lagi.

Karena udah terlanjur naksir berat sama tuh Tosowoong Cleansing Brush, aku browsing-browsing lagi buat nyari mana yang jual. Entah aku yang kurang teliti atau gimana, tapi aku gak nemu online shop yang trusted di Indonesia. Ada sih yang jual di lapak-lapak online seperti tokopedia, lazada, dan semacam itu. Tapi terus terang aku gak berani beli disana, karena tidak ada jaminan itu barang asli. Kalau baju atau sepatu KW masih gakpapa ya, tapi kalo sikat wajah, sikat buat muka dapet yang KW… trus muka kita kenapa-kenapa… ih, gakmaulah. Punya muka bermasalah itu gak nyaman tau. Bikin minder, bad mood, cenderung males ketemu orang, dll (kalo aku sih gitu, dulu, waktu mukaku bermasalah).

Akhirnya nemu juga situs online yang kunilai trusted, yaitu http://www.wishtrend.com . Wishtrend tuh jual kosmetik dan skincare dari Korea, lokasinyapun di Korea. Jadi, barang yang kita beli ya dikirimnya dari sana. Kalo kepo, silahkan aja cuss ke websitenya. Yang pertama-tama perlu kita lakukan ya sign up dulu. Masukkan data-data diri kita. Setelah itu, sok atuh pilih apa aja yang mau dibeli, tambahkan aja ke keranjang belanjaan. Kalo udah selesai pilih-pilihnya, silahkan pilih metode pembayaran. Aku sih pake kartu kredit, soalnya gak ngerti soal paypal-paypalan.

Dari website wishtrend, baru aku tau kalo tosowoong brush yang ada di blog tadi itu ternyata sekarang ada versi barunya yaitu Tosowoong 4D Cleansing Brush:

image

Apa bedanya Tosowoong 4D brush ini dengan Tosowoong yang di blog tadi? Kalo yang di blog tadi, dia tuh gak ada mesinnya, jadi bener-bener cuma sikat yang kita gerak-gerakin menyapu wajah dengan menggunakan ‘tenaga’ tangan. Tapi kalo yang versi 4D ini, dia pake baterei AAA, ada tombol on-off nya. Jadi kalo mau pake, simply tinggal tekan tombolnya, dan bzzzzz…. sikat akan bergerak dengan circular motion. Tinggal tempelin dan gerak-gerakin deh di wajah. Karena fiturnya lebih canggih, tentu saja harganya juga lebih mahal. Nih perbandingan harganya, 2 kali lipat lebih kan:

image

Aku memutuskan buat beli yang versi 4D. Oh ya, disini bisa milih mau pengiriman cepat (5 hari nyampe), atau yang biasa aja (3-4 minggu nyampe). Karena ongkos yang pengiriman cepat cukup mahal, aku pilih yang pengiriman biasa aja, yaitu dengan ongkos 9 USD. Aku beli waktu itu tanggal 9 Januari 2016, dan barangku dimasukkan ke Kantor Pos Korea tanggal 13 Januari.

Karena ini pertama kalinya aku pesen barang dari luar negeri, makanya excited banget (norak ya? ya biarinlah. Namanya juga baru pertama. Wkwkwk…). Kan setelah kita melakukan pembayaran, maka kita akan mendapat email yang isinya link tracking Korea Post atas pengiriman barang. Ya, saking semangatnya, hampir tiap hari aku cek, sampe mana progressnya:

image

Coba cermati gambar di atas. Setelah tanggal 18 Januari, tracking itu tampak berhenti. Aku cek besok, besok, dan besoknya lagi, masih saja belum ada progress. Kayak mandeg sampe disitu. Lama-lama resah juga. Akhirnya pada tanggal 2 Pebruari aku pergi ke kantor pos besar di daerahku untuk menanyakan hal ini. Di Kantor Pos, aku gak tau mau nanya ke siapa (waku itu sudah jam 6 sore. Customer Service sudah tidak ada. FYI, Kantor Pos besar disini buka sampe jam 8 malam). Akhirnya aku ambil aja antrian ‘kiriman barang’. Ketika antrianku dipanggil, aku bertanya ke Petugas Loket, dimana aku bisa mendapat info tentang pengiriman barang dari luar negeri?

Oleh Petugas Loket, aku diminta ke gedung belakang Kantor Pos, karena disanalah tempat barang-barang dari luar negeri berada. Oke, akupun cuss kesana. Aku bertanya pada petugas disana, dengan menunjukkan tracking numberku yang dari Korea Post. Dan yang bikin shock, petugas berkata bahwa hasil pencariannya nihil. Barangku bahkan belum tiba di Jakarta, begitu katanya.

Sesampai di kosan, aku masih kepikiran. Akhirnya aku browsing-browsing sendiri bagaimana cara melacak kiriman dari luar negeri. Ketemu! Aku disarankan supaya ngecek di web EMS Indonesia. (Oh ya, yang di gambar tracking Korea Pos di atas itu, meski nampaknya mereka menulis tracking tanggal demi tanggal dengan runtut, tapi sebenarnya mereka tidak real time menulisnya, alias tidak pada saat itu juga. Karena waktu itu aku cek tiap hari juga tetap mandeg di tanggal 18 Januari. Kurasa yang status setelah tanggal 18 Januari itu, mereka baru mengupdatenya sekarang-sekarang ini. Karena mandeg itulah, makanya aku mencari second opinion di EMS).

image

Ternyata ada! Horray… barangku gak jadi ilang \(^_^)/

Apa yang bisa kita simpulkan disini? Jadi gini: ketika tracking dari Korea Post (18 Januari) menunjukkan status Departure from outward office of exchange , itu artinya barang sudah tidak berada di Korea, sehingga lebih baik kita trackingnya di web EMS Indonesia saja. Barang itu sudah berada di Indonesia, jadi yang lebih akurat update-nya adalah EMS Indonesia.

Dengan semangat baru, aku terus pantengin EMS tiap hari. Dan akhirnya, tanggal 9 Pebruari kemaren barang dinyatakan sudah sampai di Kantor Pos sini. Yay! Tapi karena ada libur Galungan 3 hari, aku gak bisa ngambil paket itu. Hari ini, 12 Pebruari sudah bukan hari libur lagi, alias hari kerja. Aku tadi berencana akan ke Kantor Pos pada jam istirahat kantor untuk mengambil paket. Eh… ternyata pagi-pagi, sekretaris kantor menelpon ruanganku dan bilang kalo ada paket untukku. Dan supaya aku mengambilnya di ruangannya dan membayar ongkos Rp 3 ribu untuk pos. (Ya, aku pernah baca kalo pengiriman dari luar negeri kan biasanya bungkusnya dibongkar-bongkar dulu sama bea cukai. Trus Kantor Pos mempacking ulang paket tersebut. Dan biaya Rp. 3 ribu itu ya ongkos untuk packing tadi).

Akhirnyaa… sampe juga deh barangku. Setelah satu bulanan menunggu. Muahaha….

image

Karena Wanita Ingin Terlihat Cantik di Depan Lelakinya

Mungkin beritanya udah agak basi, tapi gak basi untuk dibahas sih.

Beberapa bulan yang lalu, dunia perseleban (?) Indonesia sempat dihebohkan dengan perubahan wajah yang cukup drastis dari artis dangdut Nita Thalia. Ya, wajah manis nan bulat khas Indonesia itu tiba-tiba berubah drastis menjadi ramping dan tirus seperti wanita Korea.

image

Konon katanya, operasi plastik itu dilakukan dalam 5 tahap dan menghabiskan biaya sampai 1 M, walau di beberapa berita Nita sempat membantah bahwa jumlah itu tidak benar. Yang menarik, ketika ditanya mengenai alasannya ‘merombak’ total wajah dan tubuhnya, Nita menjawab,”Karena niat saya melakukan ini murni untuk membahagiakan suami, untuk mempertahankan keharmonisan rumah tangga saya,” (dikutip dari wawancara GO SPOT RCTI).

Seperti biasa, hal-hal yang belum lazim di Indonesia pasti akan menimbulkan pro-kontra, termasuk berita Nita Thalia ini. Tapi aku tidak ingin membahas itu. Aku ingin membahas alasan Nita Thalia, yang ingin tampil cantik di depan suaminya. Cerita ini mengingatkan aku pada cerita Jocelyn Wildenstein.

Jocelyn adalah seorang sosialita di New York, istri seorang milyuner bernama Alec Wildenstein. Suatu hari Jocelyn memergoki perselingkuhan suaminya dengan seorang model muda berusia 19 tahun. Alih-alih menceraikan suaminya, Jocelyn justru berusaha merebut cinta suaminya kembali, dengan melakukan operasi plastik. Jocelyn mengubah wajahnya melalui pisau operasi, sehingga menjadi mirip kucing. Operasi itupun menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Ia berpikir bahwa dengan mengubah wajahnya mirip hewan kesayangan suaminya, maka suaminya akan mencintainya lagi. Namun sayangnya operasi wajahnya gagal, sehingga hasilnya mengerikan. Pada akhirnya, Alecpun menceraikan Jocelyn.

image

Mungkin beberapa dari kita menganggap mereka berlebihan. Ngapain sih sampe segitunya, terima diri sendiri apa adanya aja kenapa. Kita kan udah terlahir sempurna. Bla bla bla. Yah, yang menganggap kayak gitu gak salah juga sih. Tapi aku gak hendak membahas itu. Aku hanya ingin melihat dari sisi lain, dari sisi upaya seorang wanita. Bagaimana kerasnya usaha seorang wanita untuk dicintai suaminya. Bagaimana kerasnya upaya wanita untuk mendapatkan predikat cantik di hadapan suaminya.

Aku tau rasanya. Karena aku pernah merasakan itu.

Aku pernah merasakan sakitnya saat tanpa sengaja mengetahui suamiku menyimpan banyak foto cewek seksi dan cantik antah berantah yang diperolehnya dari facebook. Di hapenya dan di laptopnya. Dia simpan banyak. Dan dia mengakui kalau dia seringkali berfantasi dengan foto-foto itu, dan bahwa itu adalah kebiasaannya sejak dari lama.

Aku sungguh sakit ketika mengetahui itu. Rasanya harga diriku sebagai wanita langsung terhempas. Aku merasa buruk, tidak menarik. Sejelek itukah aku sampai suamiku bahkan harus repot-repot mencari bahan untuk fantasinya?

Saking sakitnya aku, aku sampe bilang ke suami waktu itu,”silahkan kamu cari wanita yang sesuai fantasimu itu untuk kamu nikahi. Yang seperti di foto-foto itu. Biar kamu gak perlu repot-repot nyari bahan untuk berfantasi kayak gitu.”

Suamiku memang sudah meminta maaf, dan berjanji untuk menghapus semua foto-foto itu dan tidak akan mencari lagi. Yah, entahlah. Aku juga tidak tau apa aku harus percaya padanya atau tidak, mengingat bahwa mengubah kebiasan adalah bukan hal yang mudah.

Mungkin kalian menganggapku berlebihan. Wajar kok laki-laki nyimpen foto kayak gitu. Begitu mungkin yang ingin kalian bilang. Tapi salahkah aku kalau aku ingin menjadi satu-satunya wanita yang menarik bagi suamiku? menjadi satu-satunya fantasinya?

Salahkah?

 

Pengalaman Mengurus Kartu BPJS untuk PNS

Sebenarnya udah dari kapan dulu Ibuku ngoprak-ngoprak aku buat ngurus BPJS.
“BPJS tuh penting. Bulik Is (saudara sekaligus tetangga sebelah), kemaren aja pas berobat buat sakit kuningnya cuma bayar dikit, karena dia punya BPJS. Kalo dia gakpunya BPJS, bakal puluh-puluhan juta bayarnya,”begitulah Ibuku panjang-lebar mempromosikan BPJS. Aku iya-iyain aja, dan masih belum kuurus karena malas.

Sekarang aku sedang hamil 8 bulan. Ibuku gak bosan-bosannya ‘menterorku’. Setiap sms/telfon selalu ngingetin,”buruan ngurus BPJS. Bentar lagi kamu kan lairan.”
Hadeeh.. iya deh, daripada terus-menerus diteror Ibunda, akhirnya hari ini aku ke Kantor BPJS Denpasar. Lucky me, hari ini adalah Hari Raya Galungan, yang artinya adalah libur fakultatif di Instansi-Instansi Pemerintah. Artinya lagi, Kantor BPJS alamat bakal sepi, jadi aku akan ngantri gak terlalu lama. Yay!

Sekedar info, dulu aku sebenernya udah pernah dateng ke Kantor BPJS, nanya ke bagian informasinya, gimana cara supaya aku dapat Kartu BPJS. Kata teman-teman kantor sih, karena aku PNS, jadi sebenernya aku udah otomatis terdaftar sebagai peserta BPJS. Cuma belum dapat kartunya ajaa gitu. Trus Si Petugas ngasih aku selembar kertas kecil yang isinya adalah daftar berkas yang harus dilampirkan:

20160211_120056.jpg

BPJS di hari normal gitu antriannya sak-hohah. Kayak satu kampung tumplek blek disana. Karena udah pusing duluan liat antriannya, makanya waktu itu aku males ngurusnya.

Ini mumpung lagi Hari Raya Galungan, libur fakultatif selama 3 hari (Selasa, Rabu, Kamis/9, 10, 11 Februari), maka perkiraanku Kantor BPJS akan sepi. Kesempatan nih, biar gak ngantri lama. Karena sekarang Hari Kamis, hari terakhir libur fakultatif, semalam aku bela-belain keliling nyari cetak foto yang buka (yah, banyak yang tutup). Akhirnya dapet juga. Walaupun ternyata keesokan harinya aku tau kalo perjuanganku sia-sia karena ternyata foto 3×4 yang tercantum di persyaratan itu gak diminta saat di Kantor BPJS.

Tadi pagi, sebelum berangkat ke BPJS, sempat terjadi kehebohan kecil karena aku baru nyadar kalo aku gak punya fotokopi KTP dan fotokopi KK. Mau memfotokopi KTP juga gak bisa, karena KTP ku masih di Jawa, lagi dipake buat ngurus KK baru. Ya, KK ku masih KK lama, masih ngikut orangtua. Sementara aku udah menikah selama 1 taun lebih, dan bentar lagi melahirkan anak pertamaku. Mau gak mau kudu ngurus KK baru, soalnya perlu buat bikin akta kelahiran anakku nantinya.

Cek cek hardisk eksternal, seingetku aku punya softcopy scan KTP. Ada ternyata, yey!
Sayangnya, gak ada softcopy scan KK. Akupun pulang ke kosan. Di kamarku juga aku bongkar-bongkar map gak ada. Agak putus asa, aku sms Ibu:”kayaknya aku masih belum bisa ngurus BPJS, soalnya gakpunya fotokopi KK.”

Trus dibales sama Ibu:”mau ibu kirimi fotokopi KK dari sini?” Haduh ribet. FYI, ibuku tinggal di Jawa.

Oh ya, masih ada satu tempat yang belum kucari: di dozer kepegawaian kantor. Aku segera balik lagi ke kantor, ngacir ke bagian Umum/Kepegawaian, bongkar-bongkar dozer…. ternyata ada! Oke, persyaratan lengkap. Langsung cuss ke Kantor BPJS.

Sesampai disana, bener perkiraanku, kantornya sepi. Hanya ada beberapa motor yang parkir. Aku menuju bagian informasi, dan berkata ke Petugas:”Saya mau cetak kartu BPJS.”

Petugas:”sudah daftar atau belum.?”
Aku ¬† ¬† ¬†:”Saya sebenarnya sudah terdaftar dari dulu, karena saya PNS. Tapi belum dapat kartu.”

Trus sama petugas aku dikasih antrian Cetak Kartu: nomor urut B-25. Waktu aku duduk di ruang tunggu, antriannya sudah sampai nomor B-20. Aku nunggu gak terlalu lama, sekitar setengah jam kayaknya. Pas lagi nunggu itu aku diajak ngobrol seorang ibu yang juga sedang mendaftar BPJS,”bayinya gak sekalian didaftarin mbak?” tanya Si Ibu sambil melirik perutku.

Aku:”emang bisa Bu? kan masih di dalem perut.”

SI Ibu:”bisa kok.”

Aku:”Walah.. KK saya yang ngikut suami aja belum punya Bu. KK saya masih ngikut orangtua.”

Oke, kembali ke loket. Begitu antrianku dipanggil, aku langsung menuju loket. Kuberikan berkas-berkasku ke petugas. Petugas bertanya kepadaku:”ini Ibu terdaftarnya di Faskes Buleleng. Mau di-update datanya?” Memang sebelum di Denpasar, aku bertugas di Buleleng. Di kantor yang di Bulelenglah aku terdaftar BPJS.

Aku:”Oh iya, boleh. Bisa nggak di-update ke Surabaya aja?” soalnya nanti aku rencana lahiran dll di Surabaya, di tempat suami. Ya, aku dan suami memang pasangan LDR.

Petugas:”Bisa, Bu. Silahkan ambil formulir perubahan data dulu di meja informasi” Oke, formulir sudah kuambil, kuserahkan lagi ke Petugas Loket. Si Petugas loket yang ngisi, aku tinggal tandatangan sajo. hohoho.

Aku:”nah, misal nanti suatu hari saya mau mengganti jadi Faskes Denpasar lagi, bisa gak?”
Petugas:”Bisa Bu, nanti tinggal datang aja ke Kantor BPJS terdekat, minta di-update datanya. Tapi penggantian data baru boleh dilakukan paling cepat 3 bulan setelah update data terakhir ya Bu.”

Okay. Cukup jelas. Si Petugas kemudian menyerahkan selembar kertas print biasa padaku, print hitam putih. Isinya adalah e-ID BPJS ku. Dia minta maaf karena print kartu warnanya sedang habis. Agak kecewa karena kukira aku akan dapat kartu BPJS yang bagus dan berwarna. Tapi kata Si Petugas, itu sama aja fungsinya. Dengan print e-ID itu, itu aku bisa menggunakan layanan BPJS sebagaimana mestinya. Yah, mungkin ntar aku laminating aja kali ya biar gak rusak.

Huh, selesai. Gak lupa lapor ma Ibu biar hatinya lega karena aku dah punya kartu¬†BPJS. Hahaha…

Ini penampakan kartunya. Maap kalo data diri disensor.

bpjs paint.jpg
Tampak Depan
20160211_121105[1].jpg
Tampak Belakang