Aku dan Jerawat (bagian 3)

Oke, sekarang masuk ke bagian 3. Buset dah ya, cerita jerawatnya kok jadi panjang gini -_-”

Setelah browsing-browsing, dapetlah aku info kalo cara untuk mempercepat menghilangkan bekas jerawat or bekas luka adalah dengan cara mikrodermabrasi, chemical peeling, ataupun laser. Semuanya bisa dilakukan di klinik kecantikan atau dokter spesialis kulit. Meskipun gaktau kapan bekas luka ini akan hilang (perkiraanku sih perlu waktu bertahun-tahun, mengingat betapa parahnya kondisi saat itu).

Browsing-browsing lagi, dapetlah aku sebuah klinik kecantikan yang bagus dan salah satu yang termahal di Indonesia, yaitu Miracle Aesthetic Clinic. Waktu itu tahun 2010. Demi kecantikanku (*halah), aku bela-belain tiap sebulan sekali menempuh perjalanan 3 jam pergi ke kota lain (karena pada saat itu aku tinggal di kota kecil yang gak ada Miraclenya) untuk perawatan MDPP (Micro Diamond Peel Plus). Jadi kayak semacam pengelupasan kulit mati gitu pake diamond tip. Gunanya untuk mempercepat pertumbuhan sel kulit baru, yang artinya mempercepat hilangnya bekas lukaku juga. Sekali perawatan menghabiskan Rp. 700ribu, tambah lagi 100ribu kalo mau menggunakan masker (bisa milih masker buat acne atau buat whitening). Plus topi cream (krim anti-iritasi) seharga 100ribu. Topi cream ini dioleskan ke wajah 2 kali sehari, selama 3 hari pasca MDPP. Topi cream ini bisa dipake sampe dengan 4 kali MDPP.

Selain itu, di Miracle aku dikasi cream perawatan berupa acne base gel dan acne sunscreen (untuk dipake di pagi hari), differin gel untuk malam hari, serta sabun TDF yang varian neutral cleansing bar. Yang krim-krim pagi itu adalah racikan dari apotek Miracle, sedangkan yang krim malam dan sabunnya adalah produk keluaran luar negeri. Krim paginya total sekitar 150ribu. Krim malam yang mahalan, 400ribu kalo gak salah. Sabunnya 150ribu. Forgive me kalo aku gak bisa menyebutkan harganya dengan tepat. Aku nulis seingatku aja. Maklum, udah lama cuy. Udah 5 tahun yang lalu coba! Rangkaian skincare ini bisa dibilang murah sebenernya, soalnya lumayan awet. Untuk krim pagi, satu potnya bisa untuk pemakaian 2 bulan. Differin gel bisa dipake sampai dengan 4 bulan. Sabun wajahnya bisa dipake buat 3 bulan.

Selama pemakaian itu, aku merasa mengalami improve yang lumayan signifikan (setidaknya menurutku). Meskipun menurut temenku Si Wati, dia tidak melihat perubahan di wajahku (ya iyalah, baru juga sebulan. Gak mungkin langsung kinclong kayak mukanya Syahrini). Tapi aku, sebagai empunya muka, merasakan perubahan. Pelan tapi pasti, noda-noda di wajahku semakin menipis. Taunya darimana? dari dempulan cuy. Seperti yang kuceritakan sebelumnya, aku memakai bedak two way cake untuk menyamarkan noda-noda, supaya tampilan wajahku gak parah-parah amat. Dan bagian yang memerlukan ekstra dempul tentu saja tompelku (baca post sebelumnya untuk tau asal mula ‘tompel’ ini). Tapi setelah aku perawatan di miracle dan rajin pake krim-krimnya itu, semakin hari semakin tipis dempul yang kuperlukan untuk menutupi si tompel. Tapi bukan berarti tompelnya ilang lho ya. No… masi lamaaaa keles! Jadi singkatnya gini: misal biasanya aku perlu 5 sapuan spons two way cake buat ngecover tompelku (tebel? ya emang, soalnya item banget tu tompel), trus setelah sekian lama perawatan, aku gak butuh sapuan sebanyak itu. Jumlah sapuan yang kupelukan menurun bertahap: 4 sapuan, trus jadi 3 sapuan, trus jadi 2 sapuan, dan lama2 jadi 1 sapuan, dan lama-lama bekas itu sangat-sangat tipis sampe aku cukup pede gak sapuan, eh gak bedakan lagi maksudku. Dan semua proses dari tompel yang tebal sampai berhasil menjadi bekas yang sangat tipis itu makan waktu 1,5 taun. Yah, lama ya.

Kalo menurutku ya, yang ngefek banget ngilangin tompel, eh bekas lukaku itu adalah differin gel. Tuh obat mengandung adapalene (turunan vitamin A). Dan memang tokcer banget mempercepat regenerasi kulit. Progresnya kurasakan hari demi hari setiap kali ngaca dan nyentuh kulit. Dan hanya perlu satu tube aja (habis dalam waktu 4 bulan), sampai kondisi wajahku jadi acceptable (setidaknya acceptable menurutku). Efek sampingnya? ada sih, tapi gak begitu ganggu: cuma stinging sensation aja di kulit wajah ketika diusap handuk seusai cuci muka, dan gampang merah kulitku kalo lagi gerah. Tapi toh biarin aja, namanya juga lagi dalam masa pengobatan.

Differin ini buatan Jerman, gak ada di Indonesia. Miracle Aesthetic mengimpornya untuk pengobatan jerawat dan bekas jerawat. Dan sayangnya, belakangan ini differin gel sudah discontinue, karena mereka sudah menggantikannya dengan krim racikan mereka yang bernama SBM. Aku dah pernah merasakan SBM juga, tapi ya sori to be honest… jauhlah kalo dibandingkan differin gel hasilnya. Yang penasaran penampakan differin gel…. this is it:

image

Bisa dikatakan perawatanku di Miracle ini berhasil. Setelah beberapa bulan berjalan, wajahku lambat laun jadi mulus, flawless. Noda-noda, tompel, dan segala macem item-item ilang semua. Ah, jadi bening pokoknya kulitku. Suatu hari pernah masuk ke sub bagian umum di kantorku. Sekretaris kantor yang namanya Sari ngliatin aku terus, and komen:”kamu bening banget sih sekarang.”

Oh really? Aku aja gak sadar kalo kulitku secantik itu.

Trus pernah juga pas renang, temenku Si Tuti ngliatin mukaku, dan dia bilang,”kamu pake bedak apa sih, kok gak luntur kena air?”
Aku: “haah….aku gak pake bedak kok hari ini.”

Well, saking ratanya warna kulit wajahku, saking flawlessnya, sampe-sampe dikira pake make up. Lol!

Dan sudah berapa orang yang nanyain aku:”kulit kamu bagus banget, perawatan dimana?”
Kujawab di Miracle, dan kemudian orang-orang yang bertanya itu pada ngikutin jejakku, perawatan disana.

Ya, masa-masa indah itu, masa-masa aku kenyang pujian, sampe suatu hari aku memutuskan untuk berhenti perawatan disana. Loh, kenapaaaa?

Penasaran?

Tunggu di postinganku selanjutnya eaah….

Aku dan Jerawat (bagian 2)

Gila, semangat banget aku nulis blog malam ini. Mungkin karena tadi seharian aku bobo’ mulu, jadinya sekarang melek terus.

Oke, bagian 2 ini adalah masa-masa selepas aku lulus kuliah. Kemudian aku bekerja sebagai PNS dengan gaji yang lumayan cukuplah. Wajahku masih aja jerawatan, masih aja item-item. Suatu hari, pas jalan-jalan ke sebuah mall… aku dan temanku mampir ke counter The Body Shop. Terpesona sama produknya yang packagingnya cantik dan keliatan mahal (emang mahal keles). Kemudian dengan polosnya aku membeli rangkaian seri vitamin E (warna pink): krim siang, krim malam, facial wash, exfoliator cream. Total Rp. 700ribuan. Ah, kecil. (Songong, mentang-mentang baru ngrasain punya gaji). Sampe di kosan, kupake secara teratur rangkaian perawatan itu (dan bedak two way cake tetep dong). Lama-lama kulitku makin sering jerawatan. (Ternyata, di kemudian hari, barulah aku tau kalo seri vitamin E itu untuk kulit kering. Pantes aja!).

Berhubung aku sekarang udah kerja kantoran, akses internet di kantor tanpa batas…. kemudian jari-jariku yang kreatif ini mulai menuliskan sesuatu di google: cara menghilangkan jerawat. Voila… ketemulah aku sebuah artikel tentang bahan-bahan alami untuk mengatasi jerawat. Salah satu yang bisa digunakan adalah bawang putih. Caranya: tumbuk bawang putih, tempelkan di jerawat Anda, maka jerawat akan segera mengempis.

Oke! Kebetulan di kamar kosku ada cobek dan bawang putih.
Tumbuk-tumbuk, tempel-tempel.
Dua puluh menit kemudian, area yang ditempel bawang putih itu terasa panas. Pas ngliat kaca, aku langsung pengen menjerit. Kulit itu jadi merah sekali, kayak melepuh, luka bakar. Luasnya sebesar uang koin 500 an (lebar ya T.T). Aku buru-buru ke kamar mandi cuci muka. Berharap ini hanyalah reaksi sementara. Berharap abis itu kulitku berangsur-angsur normal kembali. Tapi harapanku gak terkabul. Kulit itu semakin terasa menebal dan mengeras, kemudian menjadi keropeng. Bisa kamu bayangin betapa paniknya aku waktu itu? Aku dah cukup jelek dengan item-item bekas jerawatku, sekarang ditambah lagi luka keropeng sebesar koin 500an ini, yang terpampang nyata di pipiku. Terkutuklah yang menulis artikel sesat itu!

Esoknya ketika masuk kerja, aku mengaku ke orang-orang kantor kalo luka itu kudapat karena aku kecipratan minyak pas menggoreng telur. Soalnya aku malu kalo mesti cerita sebab yang sebenarnya, karena kupikir konyol dan bodoh banget. Selama beberapa hari itu aku disibukkan oleh usaha-usahaku menyembuhkan luka. Mulai dari ke klinik A, kemudian ke rumah sakit B, ke klinik C yang di luar kota, kemudian ke rumah sakit D. Panjanglah pokoknya perjalanan. Luka itu lama keringnya. Entah karena infeksi atau apa. Setiap aku keluar dan kena angin rasanya perih dan nyeri. Tapi syukurlah obat pengering luka dari rumah sakit D manjur, sebulan kemudian luka itu akhirnya kering, meninggalkan bekas yang lebar, sangat hitam, dan cekung (karena kulit terkikis). Aku sadar kalo itu akan butuh lama sekali untuk bekas luka itu supaya hilang, dan aku pasrah aja. Tiap hari kuoleskan salep Nutrimoist dengan sabar. Sambil aku browsing-browsing tentang cara untuk mempercepat menghilangkan bekas itu. Tapi kali ini aku gakmau gegabah, aku gakmau lagi pake cara-cara yang gak jelas.

Perasaanku selama mempunyai luka itu? Bayangin sendiri deh, mulai dari dipanggil Tompel atau Tembong oleh teman kantor, sampe 3 kali batal dilamar oleh 3 pria yang berbeda karena luka sialan itu 🙂 . Mana alasannya mengada-ada lagi. Tiba-tiba bilang belum siap nikahlah, tiba-tiba putus kontak tanpa kabarlah, tiba-tiba udah punya pacar barulah. Tapi gakpapa sih, yang penting sekarang aku dah punya suami yang baik dan ganteng 😀

(Bersambung ke bagian 3 ya, supaya gak pening yang baca).

Oh ya, ada yang ketinggalan nih, aku dapet browsing-browsing tentang apakah ada orang yang mengalami seperti yang aku alami: melepuh karena bawang putih. Ternyata ada, banyak. Bener-bener deh gak habis fikir, kenapa sih orang-orang pada tega memberikan tips sesat kayak gitu. Jahat deh.

image

image

image

Aku dan Jerawat (bagian 1)

This will be a long post. Brace yourself 😀

Dari dulu aku gak pernah bermasalah sama jerawat. SD, SMP, SMA… mukaku bersih. Gak pernah jerawatan. Masa puber yang kata orang sering nimbulin jerawat, aku gak ngalami tuh. Padahal aku gak pernah pake perawatan kulit apa-apa. Kulit wajahku benar-benar polos. Ke sekolah cuma pake bedak tabur aja. Baru waktu kelas 3 SMA aku mulai berkenalan dengan skincare. Aku pake pelembab Ponds yang ijo aja buat ke sekolah. Bedak gak kupake lagi. Cuci muka tetep pake air aja (belum kenal namanya sabun wajah, facial wash, dll).

Pas SMP aku pulang-pergi sekolah naik sepeda kayuh. Lumayan jauh perjalanan (15-20 menit). Kulit terpapar matahari dan polusi… tapi tetep aja gak jerawatan. Gosong sih iya, tapi jerawat? no, gak ada blas!
Pas SMA juga, aku pulang pergi naik motor. Pake helm yang tanpa kaca… dan wajahku tetep terpapar matahari dan polusi. Dan tetep aja wajahku tidak pernah dihinggapi jerawat (cuma jadi item aja. Hehe..).

Oke! Sekarang kita beralih ke bangku kuliah. Sekarang saatnya aku jadi mahasiswi. Ritual kecantikanku kutambah satu: yaitu mulai menggunakan facial wash (seri Ponds juga, yang ijo juga). Entah karena Ponds, entah karena aku jarang terpapar matahari (kosanku ke kampus deket, dan aku jalan kaki. Sepanjang jalan juga gak banyak kena matahari)… maka kulit wajahku lama2 menjadi cerah lagi, kembali ke warna asli. Pernah ada satu kejadian, waktu itu bulan puasa, aku tidur-tiduran di depan tivi di ruang tengah kosan, trus ada temenku, namanya Mbak Dinda, datang.
Sama Mbak Dinda ditanyai:”kamu lagi gak puasa ya?”
Aku:”Haah… puasa kok. Emang kenapa?”
Mbak Dinda:”kok wajahmu berseri-seri. Gak kaya orang lagi puasa.”
Wahaha baru sadar aku kalo kulitku kuning langsat semu kemerah-merahan _ _”

Selama kuliah itu, aku setia sama Ponds, dan kulitku tetep baik-baik saja. Lalu tiba-tiba bencana itu terjadi. Di tahun ke-tiga kuliahku, alias tingkat akhir (yups, aku D-3). Suatu pagi aku terkaget-kaget karena pas mandi aku menemukan tiga biji jerawat di wajahku. Bukan, bukan jerawat unyu yang cuma berupa noktah kecil imut kayak di iklan-iklan skincare di tivi.

image

Seumur-umur gak pernah jerawatan, eh ini sekalinya jerawatan langsung 3. Jerawat yang gede, bengkak, merah, dan tanpa mata. Sakit! Baik temen-temen di kos, maupun temen-temen kuliah yang papasan di jalan, pada ngomentarin jerawatku. Mereka pada nanya, kenapa kok tiba-tiba jerawatan? Meneketehe! begitu jawabku dalem ati. Aku gak makan aneh-aneh atau nyobain skincare baru. Aku tetep setia dengan Pondsku, dan aku gak pernah melakukan eksperimen aneh-aneh terhadap wajahku. Kenapa tiba-tiba kondisi wajahku berubah? masih tetap misteri sampe sekarang.

Panik, tiba-tiba gak pede, malu. Itulah yang kurasakan saat itu. Sepulang kuliah, dengan memandang kaca aku tekan-tekan jerawat besar itu berharap dia akan kempes. Yang ada malah makin membesar dan meradang. Kesal, kukopek-kopek daging jerawat itu, sampe akhirnya dia kemudian berubah menjadi luka, dengan kemudian dia lambat laun menjadi bekas yang mengitam yang lumayan lebar ketika sudah kering. Wajahku saat itu jadi cemong-cemong banyak bekas luka jerawat. Bekas-bekas luka itu memang bisa hilang dengan salep Nutrimoist (produk CNI) yang kubeli. Aku inget betul, waktu itu harganya masih Rp. 60.000,-. Ya, bisa hilang walaupun perlu waktu lama, sekitar 3 bulan. Waktu itu, waktu bekas lukanya lagi item-itemnya, aku inget juga budeku pernah berkata padaku,”kenapa nduk pipimu kok jadi rusak?” T.T

Bekas luka emang berhasil hilang, tapi jerawat tetap saja datang. Dan lagi-lagi aku kopek-kopek jerawat itu sampe jadi luka. Kemudian item-item lagi bekasnya. Yah, kayak lingkaran setan aja. Waktu itu kebetulan aku lagi punya gebetan. Malu dong kalo muka item-item gitu. Gak ada jalan lain selain mendempulnya. Kalo bedak tabur, jelas gak mungkin bisa nutupin item-item sialan ini. Jadi, aku beli bedak Caring Colour Sariayu, two way cake. Yah, bedak ini cukup lumayan menyamarkan bekas lukaku. Setidaknya gak terlalu kelihatan mengerikan.

Waktu itu aku masih bodoh, belum mengenal serba-serbi skincare. Belum jamannya ‘dikit-dikit googling’. Ya, maklum pada masa itu internet masih belum terlalu booming. HP boro-boro android, belum ada cuy! Bisa buat dengerin radio aja udah lumayan canggih. Ke warnet palingan cuma buat friendsteran. Ya begitulah, karena aku bodoh, gak gitu kenal internet, gak baca forum-forum kecantikan, jadi gaktau kalo abis pake bedak two way cake itu harusnya dibersihin dulu pake milk cleanser, kemudian cuci muka pake facial wash, kemudian usap pake toner… supaya residu bedak benar-benar hilang. Ya, aku cuma cuci muka pake facial wash doang. Panteslah kemudian aku jerawatan mulu, gak sembuh-sembuh, lawong pori2nya masih ketutup sama sisa-sisa bedak. Jerawatnya aku kopek-kopek, kumudian item lagi. Gitu aja terus.

Lama-lama aku mulai terbiasa dengan wajahku yang penuh item-item ini. Aku gak menganggapnya lagi sebagai sesuatu yang mengganggu. Ya tetap mengganggu sih (bagaimanapun aku masih merindukan wajah mulus berseri-seriku dulu T.T), tapi karena udah biasa, lama-lama bisa agak cuek. Cukup tutupi pake bedak two way cake biar gak keliatan parah-parah amat.

(Bersambung ke bagian 2, biar gak terlalu panjang. Gak jadi long post deh….)