Fiksi Horor yang kusukai: Goosebumps

Ada yang tau Goosebumps? Mungkin hanya generasi 90-an yang tau ya, karena buku-buku Goosebumps tidak akan pernah kamu temui di toko buku manapun sekarang. Kalo kamu mau ngubek-ngubek tempat buku loakan, baru akan nemu deh (kalau beruntung).

Goosebumps adalah seri cerita horor yang ditulis oleh R.L. Stine. Setiap serinya mempunyai tokoh, judul, dan jalan cerita yang berbeda-beda. Jadi bukan semacam cerita bersambung yang kamu harus baca dengan seri yang berurutan. Satu buku = satu cerita.

Pertama kali aku baca Goosebumps adalah waktu kelas 4 SD, yang judulnya: Selamat Datang di Rumah Mati.
Aku dapet buku itu karena dipinjemi oleh teman sekelasku waktu itu, yang bernama Wicak. Aku masih inget banget, waktu itu aku bacanya malam-malam, sendirian, di ruang depan. Dan merasa merinding ketika membaca ceritanya. Jadi ceritanya, Josh dan Amanda pindah ke rumah baru mereka di kota Dark Falls. Kota ini agak aneh, dan merekapun mengalami beberapa peristiwa ganjil disini. Salah satunya adalah ketika mereka tanpa sengaja menuju kuburan, mereka menemukan nama-nama teman dan tetangga mereka di nisan, dengan tahun lahir dan kematian yang sudah lama sekali. Kemudian pada akhirnya mereka tau, kalo kota itu adalah kota mati. Dulu pernah ada kecelakaan yang menyebabkan meledaknya cairan kimia yang mengenai seluruh kota, sehingga seluruh penduduknya mati. Jadi, selama ini… mereka berteman dengan orang-orang yang sudah mati. Hiii….

Ada lagi cerita Goosebumps yang aku baca waktu masih remaja dulu. Aku lupa judulnya (Kalo gak salah sih, Napas Vampir), tapi aku masih ingat jalan ceritanya. Jadi ada dua bersaudara, suatu hari ketika orangtua mereka sedang tidak ada di rumah, tanpa sengaja mereka menemukan ruang rahasia di balik dinding rumah mereka. Ruang rahasia itu ternyata sangat luas dan berlorong-lorong. Merekapun kemudian menjelajahi ruangan itu. Sialnya, di ruang rahasia itu ternyata adalah tempat istirahat seorang vampir. Kemudian, vampir itu mengejar mereka karena ia menginginkan darah mereka untuk dihisap. Pengejaran yang berlangsung sangat seru. Mereka berusaha berlari, sembunyi disana-sini, demi menghindari Si Vampir. Seperti permainan petak umpet. Aku yang membacanya ikut deg deg plas, takut kalo mereka ketangkap.

Akhirnya mereka berhasil meloloskan diri, keluar dari ruang rahasia, dan kembali ke rumah mereka. Celakanya, Si Vampir ikut mengejar sampai ke dalam rumah juga. Di dalam rumah itu, terjadi kejar-kejaran lagi. Di saat mereka hampir tertangkap, pintu rumah terbuka, rupanya orangtua mereka sudah datang. Merekapun berteriak,”Mom, Dad, untunglah kalian datang. Cepat selamatkan kami dari vampir ini!”

Di luar dugaan, Si Mom malah menghampiri Si Vampir dan memeluknya,”Kakek sudah bangun. Bagaimana tidurnya, nyenyak? Kalian, kenalkan ini Buyut kalian.”

Dan ternyata mereka adalah keluarga vampir. Namun dua bersaudara itu belum tumbuh taringnya karena mereka berdua masih kecil. What a shocking ending.

————–

Yang kusuka dari cerita-cerita Goosebumps adalah, pengarangnya mahir sekali bertutur cerita. Begitu membacanya, lambat laun aku tenggelam dalam cerita, dan merasa bahwa aku adalah tokoh utama yang sedang ada dalam cerita itu. Sehingga ketika Si Tokoh mengalami peristiwa yang menegangkan dan menakutkan, akupun ikut tegang dan takut.
Hal lain yang kusuka, endingnya seringkali mengejutkan, dan di luar dugaan, dan membuatku berkata,”haah…” ketika selesai membaca.

Goosebumps dulu juga pernah difilmkan dan ditayangkan di Trans Tivi setiap seminggu sekali. Meskipun filmnya juga bagus, tapi tetep aja lebih terasa horornya ketika membaca bukunya. Oh, ya, ini aku pengen pamer koleksi buku-buku Goosebumpsku. Aku cukup beruntung bisa mendapatkan buku langka ini dengan harga murah (Rp. 12.000/buku) dari penjual buku online. Temanku Si Tuti, yang juga penyuka Goosebumps, mupeng dengan koleksiku, sementara ia harus cukup puas membaca e-book Goosebumps yang terjemahannya agak kacau. Hahaha.

image

image

image

image

image