Buat pria kecilku

1. saat pusernya ngintip dari balik baju yang dipakenya sejak newborn.

2. saat popok kainnya (yang bertali), sering terlepas/terbuka dengan sendirinya.

3. saat menggendongnya tak se-ringan dulu lagi.

4. saat ia tak lagi setenang dulu saat kumandikan. Kakinya mulai menendang-nendang kecil di air bak mandi.

5. saat aku memasukkan lubang celana ke kakinya, sering luput karena kakinya sibuk bergerak-gerak

6. saat aku bangun tidur, menemukannya berubah posisi tidur. Kadang kepalanya melorot dari bantal, kadang posisi badannya jadi agak melintang.

7. saat kepalanya mengikutiku setiap aku bergerak/pindah tempat

8. saat ia melakukan kontak mata denganku dan tertawa ketika dikudang.

9. saat melihatnya memiring-miringkan badan
dan berusaha keras untuk tengkurap

10. saat ia menjambak rambutku dan kadang mencakarku

11. saat tangannya menarik-narik baju yang dipakainya sampe terangkat ke atas

12. saat melihatnya mengoceh-ngoceh sendiri dengan kata-kata yang gak bisa kumengerti.

Saat itulah aku sadar kalo kamu bertambah besar. Sehat ya Nak. Mama sayang kamu :*

image

Ceritaku melahirkan (bagian 2)

Sesaat kemudian, datanglah Bu Bidan Yanah dan satu orang bidan pembantu (? Entah dia siapa. Pokoknya dia ikut bantuin. Atau sebut aja dia ‘asisten’ juga deh). Dan mbak asisten tadi juga ada. Jadi, total ada 3 orang yang bantuin lahiranku.

Sementara aku terus menerus meratap. Bu Bidan Yanah menenangkanku, ngelus-ngelus dan bilang,”memang rasa sakitnya ini yang dicari mbak. Kalo nggak sakit, ya bayinya gak bisa keluar.”

Rasa sakit terus bertambah. Aku sampe mengangkat-angkat kaki kananku dan menaikkannya ke tembok sebagai pelampiasan rasa sakit. Dan terus menerus teriak “sakiiit….!” Kepalaku posisi mendongak ke atas sambil memejamkan mata.

“Mbak… jangan teriak-teriak. Nanti tenaganya habis. Simpan tenaganya buat ngeden nanti. Dan kakinya jangan diangkat-angkat. Kepalanya juga jangan mendongak ke atas gitu, nunduk aja!”

Pertama sih aku turutin semua instruksi bidan. Tapi ketika rasa sakit mendera lagi… lupa deh sama tuh instruksi, dan ngulangi lagi teriak-angkat kaki-kepala mendongak. Terus sama bidannya diingetin lagi. Terus aku lupa lagi. Gitu aja terus sampai Harry Styles jatuh cinta padaku ๐Ÿ˜

Lama-lama bidannya bosen kayaknya ngingetin aku, jadi aku dibiarin aja pas teriak-angkat kaki-kepala mendongak. Lha abis gimana lagi? Hanya dengan seperti itulah rasa sakitku lumayan teralihkan.

Proses persalinan ini melelahkan. Aku harus mengeluarkan banyak tenaga untuk mengejan dan menahan rasa sakit. Mana aku belum sempat makan lagi sebelum berangkat tadi. Dan itu sudah malam. Warung ato kios makanan dah pada tutup.

Bidan dan asisten-asistennya terus mengistruksikan aku supaya mengejan,”ayo mbak. Mengejan. Biar bayinya cepet keluar.”

Kemudian akupun mengejan sekuat tenaga yang aku bisa.

Bidan,”Aduh… bukan gitu cara ngejannya mbak. Salah.”

Kemudian aku mengejan lagi sampe mulutku berbunyi, untuk membuktikan ke bidan kalo aku bener-bener mengejan.

Bidan,”Bukan gitu mbak ngejannya.”

Kemudian aku mengejan lagi. Dan bidan bilang kalo cara mengejanku salah lagi. Gitu aja terus sampe Harry Styles jatuh cinta padaku.  Aaaggrhh… sebenernya cara ngejan yang bener kayak apa seh ๐Ÿ˜

Bidan,”ayo mbak bayangkan kalo kamu udah berhari-hari sembelit dan sekarang di dalem perut kamu ada e’ek yang sangat besar. Dan kamu sedang berusaha mengeluarkannya.”

Aku:”eeekkkk……!” Sambil mengejan.

Capek. Berhenti dulu mengejannya. Kemudian beberapa menit kemudian dilanjut lagi. Kalo capek lagi ya berhenti lagi, kemudian dilanjut lagi. Gitu terus deh.

Bu bidan terus menyemangati:”ayo, e’ek besar!”

Akupun berusaha mengejan. Dengan variasi gerakan angkat kaki-kepala mendongak-teriak *tetep ya*

Oh iya, aku sempat juga mencoba posisi jongkok, yang dibilang di artikel-artikel di internet sebagai posisi alami orang melahirkan (karena mirip posisi BAB). Tapi tetep aja tuh, gak ngaruh. Gak bikin lebih mudah juga. Yang ada, aku malah keder ngliat darahku yang berceceran di kasur. Balik lagi ke posisi tiduran jadinya.

Lelah dan kesakitan, aku bertanya-tanya dalam hati, sampe kapan seperti ini? Kapan sih, bayi ini akan keluar? Kok nggak keluar-keluar sih?

Setelah sekian banyak kalinya mengejan, tiba-tiba bidan dan dua asistennya pindah posisi ke sampingku. Bertiga mereka menekan dan mendorong perutku. Sesaat kemudian aku merasa perutku ringan. Kuberanikan diri membuka mata (yang selama proses persalinan tadi refleks memejam). Ternyata bayiku sudah keluar! Tapi loh… kok gak ada suara tangisan?

Asisten kemudian membawa bayiku ke kasur yang lain (masih di ruangan yang sama). Setelah diapain gitu (aku juga gaktau, soalnya posisi asisten membelakangiku), bayiku menangis dengan nyaring,”owaaa… owaaa…!”

Aku hanya bisa mengucap: alhamdulillah… alhamdulillah..

Aku bener-bener takjub, akhirnya bayi ini keluar juga. Waktu itu jam 02.10 di jam dinding di kamar itu. Entah jamnya presisi pa nggak. Yah, kurang lebih 6 jam berarti ya proses persalinanku.

Ibuku tergopoh-gopoh masuk ruangan ketika mendengar bayiku menangis. Dan kemudian berkata dengan suara keras dan bernada kaget,”loh, kok kepalanya gini?!”

Deg… aku langsung kaget. Kenapa dengan kepala bayiku? Jangan-jangan bayiku ada cacat.

Asisten menjawab:”tidak apa-apa Bu. Ini kepala bayinya lonjong karena mbaknya tadi kelamaan ngejannya. Beberapa hari lagi juga akan bundar dengan sendirinya kok.”

Owalah… bikin panik aja ibuku -_-

Oh ya, ada yang belum kuceritakan. Tadi selama proses persalinan… mulut vaginaku digunting, atau dalam bahasa medisnya disebut episiotomi. Mau tau gimana rasanya? Gak kerasa apa-apa. Ya, saking sakitnya kontraksi, sampe-sampe kulit diguntingpun gak kerasa apa-apa. Udah kalah sama rasa sakit kontraksi.

Dan yang paling menyakitkan adalah proses penjaitan. Aku gaktau aku dibius pa nggak (kayaknya enggak deh. Atau dibius tapi dikit? Entah). Pertama sih aku masih bisa tegar. Mulutku bisa tetap mingkem. Eh… tapi makin lama kok makin sakit. Akhirnya keluar juga tangisanku,”sakiit.. sakit…. whuaa… whuaaa.”

Setiap tunjesan jarum terasa bener di bawah sana. Jrus.. jrus.. jrus… Beh, mantap bener deh rasanya.

Setiap bertanya ke dua asisten yang sedang menjahit,”masih lama nggak mbak?”
Selalu mereka menjawab,”bentar lagi kok mbak.”

Dan ternyata proses penjahitan itu berlangsung lumayan lama. Setelah sekitar 45 menit, akhirnya selesai juga. Selama penjaitan itu, sempat-sempatnya dua asisten itu ngobrol-ngobrol cantik, mereka ngomongin aku.
Asisten 1,”kulitnya mbak ini putih banget ya. Jadinya gampang merah.”

Asisten 2,”iya, kulitnya sensitif juga kayaknya.”

Sementara itu, orang yang diomongin lagi teriak-teriak sambil nangis.

Oh ya, setelah proses penjaitan selesai, aku ngobrol-ngobrol juga sama mereka. Kata mereka, robekanku lumayan banyak karena aku gak begitu bisa mengejan. Makanya aku tadi dijaitnya lama. Sebagai gambaran, kalo orang-orang lain pada umumnya cuma abis benang 1/2 meter, lha aku sampe abis 2 meter. Hiks…
Trus ada kata-kata salah satu asisten yang masih kuinget,”kalo sakit kontraksi itu, rasa sakitnya akan terbayar ketika bayinya lahir. Ada imbal baliknya lah. Lha kalo rasa sakit dijahit? Nggak ada imbal baliknya.”
Betul juga sih.

Pas ngecek hp, ada beberapa sms dan misscall dari suamiku. Kukabarkan kalau aku dah lahiran. Dan kemudian dia dan keluarganya nyampe disini jam 10 pagi.

Fiuh… akhirnya selesai juga. Penantianku selama 9 bulanan ๐Ÿ™‚

Mau tau nggak, komentar para tetangga ketika tau aku dah lairan? Gini,”wah… mbak putri lairannya gampang ya.”

Gampang gundulmu! Proses melahirkan yang sakit dan berdarah-darah itu dibilang gampang! *gak trima. Hahaha.

Tapi ternyata di kemudian hari, aku tau, bahwa proses lairanku termasuk cepat, cuma 6 jam. Teman-temanku yang lain ada yang 12 jam, 36 jam, 38 jam, bahkan ada yang 48 jam!
Aku gak bisa bayangin gimana sakitnya. Aku aja yang ‘cuma’ 6 jam, rasanya kayak setengah hidup.

Bagaimana kehidupanku pasca melahirkan? Nano nano rasanya. Yah, aku sempat ngalami yang namanya baby blues syndrome. Nti kucritain di bagian lain. Oke, sampai jumpa di lain waktu ya. Mwah mwah.

Andai…

Kadang aku mikir,
Alangkah enaknya jadi sebutir pasir.
Tidak punya pikiran,
Tidak punya perasaan,
Tidak punya kenangan buruk,
Tidak punya trauma,
Tidak punya rasa sakit hati dan terluka….

Ah, andai aku cuma sebutir pasir

Ceritaku melahirkan (bagian 1)

Hari Perkiraan Lahir bayiku 7 April 2016. Namun, sampe minggu-minggu terakhir menjelang tanggal itu, tetap saja gak ada tanda-tanda apa-apa. Kan kalo menjelang lahiran akan ada tanda-tanda yang dirasakan bumil, kayak kontraksi palsu, atau keluar lendir darah. Nah, itu sama sekali gak ada.

Trus…

Suatu sore, keluar air netes-netes dari vagina. Dikit sih. Sempat curiga kalo itu air ketuban. Tapi karena gak pernah tau air ketuban tuh kayak apa, jadi aku mikirnya bisa jadi itu keputihan.

Trus agak maleman, keluar lagi tuh tetes-tetes air. Masih dikit juga.

Waktu itu aku lagi santai-santai. Mainan hp sambil tidur-tiduran di kasur. Saat itu menjelang jam 8 malam, aku bangkit dari kasur. Pas berdiri, tiba-tiba byurr…. kali ini bukan tetes-tetes lagi, tapi banjir! Air berwarna bening dengan tekstur cenderung cair membasahi lantai, keluar begitu saja tanpa bisa ditahan. Yakinlah aku kalau itu air ketuban.

Aku langsung heboh, manggil-manggil Ibu:”Buuu… aku mau lahiran.” Excited campur deg-degan. Inilah saat yang kutunggu-tunggu.

Ibu tergopoh-gopoh masuk kamar, dan bilang,”yawes cepet ganti baju. Ibu panggilin becaknya Pakdhe Seger dulu.”
Pakdhe Seger adalah tetangga dekat rumah yang sudah tandatangan kontrak *halah pret* dengan ibuku buat sewaktu-waktu nganterin aku lahiran.

“Keset mana Bu? Ini lantainya basah semua,”kataku sambil nunjuk lantai. Kalo dipikir-pikir, konyol juga. Sempat-sempatnya mikirin bersihin lantai. Wkkk…

“Udaaah… itu nanti saja diurusin. Sekarang yang penting kita berangkat ke Bu Yanah sekarang.” Kata Ibu. Bu Yanah adalah bidan yang sudah kurencanakan untuk membantu kelahiranku.

Oh ya, kenapa aku milih lahiran di bidan yang praktek di rumah? Kenapa tidak di RS aja? Ya, aku emang udah bertekad, selama gak ada masalah apa-apa dengan kehamilanku, aku tidak ingin melahirkan di RS, soalnya aku takut. Takut dengan suasana RS yang ramai. Takut kalo bakal down duluan karena denger suara jerit-jerit dari ibu-ibu lain yang lagi melahirkan.

Kalo di rumah bu bidan kan suasananya tenang. Cuma aku sendirian aja yang melahirkan. Yah, beda-beda tipislah sama homebirth. Ya nggak? Wkwkwk…

Soal biaya, meskipun tidak terlalu jadi pertimbanganku.. di bidan lebih murah. Cuma 1,5 juta. Kalo di RS 4jutaan.

Okw kembali lagi ke cerita. Dengan naik becak bersama ibu, aku menuju rumah Bu Yanah yang berjarak 2 gang dari rumahku. Di jalan aku sms suamiku. Ya, posisi suamiku di kota lain (Kota S): “piy ketubanku dah pecah. Ini aku dah mau ke bidan.”

Tidak ada balasan.

Sampe di tempat Bu Yanah, aku disambut asistennya yang lagi jaga. Aku disuruh berbaring di kasur yang tinggi. Disuruh naikin rok dan ngangkang buat ngecek bukaan.

“Bu… hapeku lowbat. Tolong dicas dulu.” Kataku ke Ibu.”ada colokan dimana mbak?”tanyaku ke mbak asisten.

“Aduuh… nanti aja ngurusin hapenya. Sekarang yang penting dicek dulu ini bukaannya.”kata mbak asisten.

Dicek bukaan. Aku gak yakin prosesnya gimana.. soalnya aku dalam kondisi berbaring dan gak ngliat ke bawah. Tapi kayaknya jarinya mbak asisten dimasukin ke vaginaku. Entah, pokoknya rasanya kayak vaginaku diobok-obok.

“Masih bukaan satu.”kata mbak asisten.

Aku sedikit kecewa. Yah, masih lama dong. Secara untuk melahirkan kan bukaannya sampe sepuluh.
Sementara itu, air ketuban terus mengocor.

Sama mbak asisten aku diajak pindah ruangan. Ke ruangan sebelah. Kali ini kasur biasa, bukan kasur tinggi. Ada 3 kasur disana. Aku berbaring di kasur 1, sementara ibuku duduk-duduk di kasur 2.

“Ini masih bukaan satu mbak. Ntar mungkin lahirannya tengah malam. Saya tinggal dulu ke kamar saya ya. Nti kalo mbak udah ngerasa mules kayak kebelet be’ol, panggil saya ya.”

Tinggallah aku di ruangan itu berdua dengan ibuku. Aku sms suamiku lagi,”piy. Nanti katanya aku lahiran tengah malam.”

Masih tidak ada balasan.

Perutku terasa sedikit sakit. Oh, kayak gini aja toh ternyata rasanya kontraksi. Cemen ah. Kupikir sakit kayak apa, ternyata biasa aja. Huahaha… *pongah

Ehlahdalah… ternyata semakin lama semakin sakit. Tapi masih bisa kutahan, aku masih bisa tenang. Kusambi hapean untuk mengalihkan perhatianku. Browsing-browsing: bagaimana mengatasi sakit kontraksi, bagaimana pernapasan waktu persalinan.
Hari gini baru browsing gituan. Kemana aja selama ini coy?

Aku sms suamiku lagi:”piy… kesinio. Aku pengen ditemeni kamu.”

Masih tidak ada balasan.

Kutelpon, tidak diangkat. Ah, sial. Pasti dia lagi tidur. Dan dia memang selalu silent HP nya. *sampe sekarang sebenernya aku masih marah dan kecewa kalo inget hal ini. Grrrr…..

Semakin lama rasa sakitnya semakin kuat. Aku dah gak sanggup hapean lagi karena sudah fokus dengan rasa sakitku. Cuma bisa menarik napas dan menghembuskannya keras-keras dengan harapan bisa mengurangi rasa sakit (hasil browsing. Ekekek).

“Aduuh… aduuh…,”begitu rintihku.

Eh, ibuku tiba-tiba nimbrung,”mbokyo jangan aduh. Astagfirullah haladzim… gitu lho.”

Sebenernya nasehat ibuku baik. Tapi saat itu aku sedang sangat kesakitan, kujawab:”aahh… biarin aja. Orang lagi sakit juga. Plis jangan berdebat sekarang.”
Tapi kalo dipikir-pikir, kata ‘astagfirullah hal adzim’ kan lumayan panjang. Masa’ orang yang lagi kesakitan disuruh ngucap kata sepanjang itu. Mending ngucap ‘ya Allah’ saja kan ya.

Semakin lama semakin kuat rasa sakitnya. Pernah sakit perut saat mens? Nah, sakitnya mirip itu, tapi dalam kadar berkali-kali lipat. Ibarat kripik Maicih, sakit perut saat mens itu adalah kripik Maicih level 3. Sedangkan kontraksi itu sampe level 10. Kali-lipatin sendiri aja dah.

Lama-lama aku gak kuat. Aku bilang ke Ibu,”panggilin mbak asisten Buuuu…. sakiiit.”

Ibu:”lha kamu udah ngrasa mules kayak kebelet beol gak?”

Aku:”belum. Tapi ini udah sakit banget.”

Ratapanku semakin keras. Ibu bergegas ngetuk pintu kamar mbak asisten. Mbak asisten keluar dengan tergeragap, abis bangun tidur kayaknya. Katanya:”ya ampun mbak, aku kaget dengar suara sampeyan teriak-teriak.”

“Sa-kit ba-nget mbak,”kataku dengan terputus-putus.

Sama mbak asisten aku diajak pindah ruangan ke kasur tinggi lagi. Dicek bukaan. Masih bukaan 5 katanya. Hadooh… masih jauh ternyata.

~Bersambung dah, biar gak kepanjangan.

Skincare, Cowok, dan Kesetiaan

Beberapa hari ini aku iseng baca-baca thread skincare di Femaledaily Forum. Ada yang belum tau Femaledaily? Femaledaily adalah forum wanita terbesar di Indonesia. Jadi di forum itu, kita para wanita, bisa ngobrolin apa aja. Yup… tuh forum bener-bener lengkap. Mulai dari bahas make up, skincare, olshop, fashion, kesehatan, kehidupan rumah tangga, kehamilan, ngurus anak, bisnis, travelling, dll. Dan asiknya lagi, forumnya tertib, moderatornya tegas. Gak ada tuh komen iseng seperti ‘pertamax gan’ atau ‘ah yang boneng gan’ kayak di kaskus. Karena untuk posting ada aturannya. Bagusnya, jadi postingan para membernya bener-bener postingan yang memang bermanfaat untuk dibaca. Yang pengen tau silahkan buka aja http://forum.femaledaily.com . Sorry, aku terlalu malas buat screenshoot, jadi baca sendiri ajalah ya *blogger gak niat.

Hadeh, jadi ngelantur kemana-mana. Oke kembali lagi ke laptop.
Pas baca thread tentang Viva Skincare, aku nemuin postingan ini:

image

Aku langsung mupeng baca postingan ini, dan seketika itu langsung pengen beli juga pelembab Viva White Yoghurt. Membayangkan wajahku jadi kinclong kayak yang diceritain cewek di postingan itu. Alangkah indahnya dunia. *lebay. Apalagi Viva nih murah meriah. Apa lagi yang kita harapkan dari sebuah produk selain murah dan bagus?

Tapi beberapa lama kemudian, setelah rasa excited-ku mereda… aku kemudian mikir-mikir lagi.

Ya, mukaku emang gak kinclong-kinclong amat kayak perawatan dokter. Tapi mukaku sekarang bisa dibilang bersih. Udah gak jerawatan lagi. Udah gak gampang komedoan lagi. Udah gak totol totol itam bekas jerawat lagi. Udah gak sesensitif dulu lagi. Udah PD ketemu orang tanpa harus dempulan….

Dan semua itu gak kuperoleh dengan mudah. Aku harus trial and error dulu sampe nemuin skincare yang tepat buat aku. Aku harus ngalami up and down saat jerawat dan komedo tak henti-hentinya datang meskipun aku sudah berusaha sebersih dan sedisiplin mungkin merawat wajah. Harus ngalami masa-masa dimana aku sampe gakmau membuka pintu kamar kosku karena kondisi wajahku yang sedemikian jelek…. minder ketemu orang.
Sampai akhirnya sekarang aku sudah mendapatkan rangkaian skincare yang tepat, yang lambat namun pasti, membuat kulitku perlahan-lahan membaik seperti sekarang ini. Semua itu kulalui dengan proses yang panjang.

Ya, sempat tergoda untuk menggantikan posisi pelembab TDF yang selama ini kupake dengan pelembab Viva. Apalagi secara harga jauh banget ya. Viva cuma lima ribuan, pelembab TDF 250ribuan. Ya, dengan harga yang mahal, tentu saja ingredients Viva dan TDF beda. Viva ada mineral oil, dimethicone, dan perfume nya (yang mana ketiga ingredients itu tidak terlalu kusukai. Dimethicone, potensi bikin komedoan. Perfume, bisa bikin iritasi kalo gak cocok.Mineral oil, dalam kondisi tertentu bisa bikin jerawatan). Sedangkan di pelembab TDF, ketiga ingredients tersebut tidak ada.

Walaupun demikian, bagaimanapun, skincare adalah masalah cocok-cocokan. Seperti Si Cewek yang posting di Forum Femaledaily itu, nyatanya kulit dia cocok banget sama Pelembab Viva itu.

Oke, sekarang aku.
Tapi, gimana kalo ternyata aku gak cocok?
Gimana kalo ternyata wajahku jadi jerawatan/komedoan lagi?

Wajahku kalo udah terlanjur kena jerawat karena gak cocok produk, itu susah nyembuhinnya. Gak semudah berhenti pake, kemudian kembali lagi pake skincare yang lama (dulu pernah ngalamin waktu nyobain pake Facial Wash Himalaya yang ijo).

Sanggupkah aku jerawatan kayak dulu lagi?
Gak.Aku gak sanggup.
Oke, bye Pelembab Viva, aku gak jadi nyobain kamu.
Pelembab TDF, maafkan aku yang sempat terfikir untuk mengkhianatimu.
*mulai ngaco.

——————–

Semua ini mengingatkanku pada kejadian dua tahun lalu. Ini soal cowok. Loh, apa hubungannya? Hush, duduk manis dan baca dulu ya ๐Ÿ™‚

Waktu itu tahun 2014. Aku punya TTM-an namanya Ryan. Meskipun status hubungan kami gak jelas (gak pernah ada kata cinta, gak pernah tembak-tembakan), tapi dia serius sama aku. Dia berusaha dekat sama aku dan keluargaku, dan dia berusaha mendekatkan aku dengan keluarganya. Meskipun dia tidak pernah berjanji apa-apa terhadapku.
Dan benar saja. Dia memang serius, dan berencana melamarku beberapa bulan lagi *cihuy.

Dia ganteng, baik, mapan, gak neko-neko, royal. Apa lagi yang kuharapkan dari seorang pria?

Kemudian, selama masa menunggu dilamar itu, yang kurang beberapa bulan lagi, eh… tiba-tiba datang ke hidupku *halah* seorang cowok bernama Ari. Orangnya asik, hobi travelling dan naik gunung. Suka ngajak aku jalan-jalan dan menjelajahi kota pake motornya yang keren. Pas weekend, beberapa kali ngajak aku jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di luar kota. Tentu saja aku mau, secara aku suka banget jalan-jalan. Apalagi Si Ari ini juga manis *opss

Aku mulai takut, jangan-jangan aku jatuh cinta sama Ari.
Hal ini sempat membuatku galau. Resah. Gelisah. Malam susah tidur. Merasa bersalah karena merasa telah berkhianat sama Ryan.

Kemudian, aku curhat sama temanku yang kupikir akan bisa ngasi nasehat aku. Namanya mbak Wirta. Mbak Wirta bilang gini:”Eh, tau nggak. Kamu ini kan orangnya labil, gampang emosian, gampang marah. Nah, Si Ryan ini kan kenal sama kamu udah lumayan lama, udah 2 taun kan ya. Dia udah tau gimana kamu kalo lagi marah, lagi emosi…. tapi dia tetep mau kan sama kamu? Dia mau nerima kamu apa adanya. Sedangkan Si Ari, kamu kan baru kenal, baru juga 2 bulan. Dia gak tau kamu aslinya kayak apa. Belum tentu loh dia mau sama kamu setelah dia tau kamu kalo lagi marah kayak apa. Lagipula, Si Ryan kan bentar lagi udah mau nglamar kamu. Kamu tega ta, menghancurkan rencana-rencana yang sudah disusunnya? Kamu tega ta kalo nyakitin hati dia dan keluarganya? Dia gak salah apa-apa lho.”

Hiks… bener juga. Maafkan aku Ryan, yang sempat terpikir untuk mengkhianatimu buat sesuatu yang belum jelas ๐Ÿ˜ฆ

Kemudian, aku mulai berpikir jernih, dan mencoba menganalisa kelebihan dan kekurangan kedua cowok itu.

Ari, kelebihannya:
1. sehobi sama aku. Suka jalan-jalan.
2. aku tau dia kerja dimana. Yang aku tau, kerja disana emang gajinya lumayan gede, tapi aku gak tau dia pegawai tetap apa pegawai kontrak. So,aku belum bisa menilai dia mapan apa nggak. Bukannya matre ya, tapi hidup itu emang butuh uang. Kita beli apa-apa pake duit. Realistis aja.
3. manis
4. berada di kota yang sama denganku, yaitu Kota D.

Kekurangannya:
1. He’s a morning person, alias suka beraktivitas di pagi hari. Kalo aku, suka males-malesan di pagi hari. Aku bisa masak jam satu malam, tapi kalo disuruh masak jam lima pagi? I’m not sure.
2. Dia gak suka candaan-candaan yang kasar dan jorok. Sedangkan aku, emang agak urakan dan biasa aja sama candaan yang model begitu.
3. Aku belum terlalu kenal, jadi jelek-jeleknya dia aku belom tau.

Sekarang Ryan, kelebihannya:
1. ganteng
2. baik
3. gak neko-neko
4. gak pelit alias royal. Gak perhitungan soal uang
5. gak pernah janji-janji manis, langsung serius menjalin hubungan
6. keluarganya baik sama aku
7. mapan
8. Sudah terbukti mau nerima aku yang emosional ini.
9. sabar (hanya orang sabar yang bisa tahan sama aku)
10. sama-sama bukan morning person. Asik dah kalo pagi kelonan bareng. Wkwkwk…

Kekurangannya:
1. Dia gak bisa naik motor (tapi kan kita masih bisa naik taksi atau angkot)
2. Gak terlalu suka jalan-jalan (tapi dia gak pernah nolak nemani aku jalan-jalan, bahkan kalo jalan-jalannya ke mall sampe berjam-jam sekalipun)
3. Tinggal di Kota yang jauuh dari aku (kota T, itu 4 jam naek pesawat dari kotaku). Jarang bisa ketemu. Tapi sekarang syukurlah dia dah dipindahtugaskan ke Kota S yang cuma 1/2 jam naek pesawat.

Akhirnya aku pilih Ryan, dan dialah yang jadi suamiku sekarang. Ari, aku dah putusin untuk tidak kontak lagi dengan dia, setelah aku memajang foto pertunanganku dengan Ryan sebagai foto profil di Facebook ๐Ÿ™‚ . Ya, kalo dah tunangan kan artinya aku udah terikat, dah gak boleh lagi flirting sama cowok lain.

—————

Mungkin kedengaran konyol, tapi kurasa dua peristiwa di atas (milih skincare dan milih cowok), kurasa mirip.

Yah, aku silau sama review di Forum soal pelembab Viva yang bisa bikin kinclong itu. Tapi kan itu bikin kinclong di kulit dia, di kulit aku kan belum tentu bikin kinclong juga. Belum tentu cocok. Cocok di dia bukan berarti cocok di aku.
Dan lagi, haruskah aku meninggalkan pelembab TDF ku yang dah terbukti berjasa memperbaiki kondisi kulitku, hanya demi pelembab Viva yang belum pasti?
Kemudian aku mengingat masa-masa pedihnya ketika berjerawat. Jangan sok deh mentang-mentang sekarang udah gak jerawatan trus jadi lupa diri dan centil nyobain ini-itu.

Soal cowok.
Ya, Ari memang mendatangkan warna berbeda di hari-hariku. Aku jadi semangat karena ada yang ngajak jalan-jalan. Itu. Ya, memang itu aja sih. Lainnya aku gaktau. Aku gaktau apa dia sabar pa gak. Aku gaktau apa dia masih mau sama aku kalo ngliat betapa seremnya aku ketika ngamuk.

Sedangkan Ryan, dia mau nerima jelek-jeleknya aku. Dia udah tau aku kalo ngamuk-ngamuk kayak apa, dan dia tetep mau.

Haruskah aku meninggalkan Ryan untuk Ari yang belum jelas? tidak, bodoh sekali kalo aku sampe melakukannya.

Kemudian aku inget pas masa-masa jomblo. Galau-galaunya karena gak punya cowok. Tiap malem berdoa supaya dikasi cowok yang ganteng, baik, perhatian, bla bla bla. Dan begitu udah dapet cowok yang seperti itu, kemudian karena ada opsi cowok lain, aku hampir saja melepaskan cowok baik itu. Gak usah sok kecantikan dah lu. *Plak! *tampar pipi sendiri.

Yah, untuk setia emang banyak godaannya. Kita perlu banyak-banyak bersyukur, dan gak lupa sama masa lalu kita. Ingat-ingat jaman susah dulu deh.

image

Sedih…

Sedih banget ketika apa yang udah kita rencanakan dan impikan jauh-jauh hari ternyata gak sesuai dengan kenyataan.

Aku sengaja ngambil cuti bersalin jauh-jauh hari, satu bulan sebelumnya, supaya bisa menghabiskan banyak waktu dengan suamiku. Ya, kami adalah pasangan LDR. Bagiku, kebersamaan adalah hal yang istimewa.

Aku ambil cuti. Kemudian aku terbang ke Kota S, ke tempat dimana suamiku dan orangtuanya tinggal. Dan di sinilah masalahnya terjadi.

Suamiku orang yang sangat baik. Mertuaku juga baik, baik sekali malah. Tapi masalahnya, rumah yang aku tempati betul-betul gak nyaman: berantakan, kotor, penuh dengan barang-barang yang digeletakkan begitu saja.

Aku tidak akan bercerita rinci keadaan rumah itu, karena aku menghormati suamiku. Aku gak tega kalo harus menceritakannya. Walaupun kalian tidak tau siapa aku ๐Ÿ™‚

Ya, intinya bayangkan saja rumah yang saking penuhnya dengan barang, sampe gak menyisakan space kosong kecuali tempat untuk kita berjalan saja.

Bayangkan saja rumah yang saking penuhnya bahkan tidak bisa digunakan untuk menerima tamu. Ya, mertuaku kalau menerima tamu menumpang di rumah saudaranya.

Bayangkan saja rumah yang saking penuhnya, satu-satunya tempat yang bisa digunakan untuk duduk hanyalah di ranjang masing2. Bahkan untuk makanpun harus duduk di ranjang karena tidak ada tempat lain di rumah itu yang bisa digunakan untuk duduk. (Lantai kamar suamiku yang sempit itu bahkan penuh dengan barang-barang mamanya).

Ironisnya, barang-barang yang bikin rumah penuh itu sepertinya barang-barang yang tidak terpakai, yang harusnya dibuang saja. Beberapa barang (eh, banyak ding) malah udah jelas-jelas kalau itu sampah yang seharusnya memang dibuang ke tempat sampah. Sungguh aku gak ngerti. Barang-barang itu benar-benar gak ada fungsinya selain sebagai penadah debu.

Tak ada yang bisa kulakukan disitu.
Mau nyapu juga gak bisa. Apanya yang disapu? Lawong semua lantai penuh barang. Ngepel apalagi. Banyak debu dan kotoran disana, karena rumah itu bahkan tidak bisa dibersihkan.

Mau nyuci piring juga males, karena tempat nyuci piringnya juga gak nyaman.

Mau masak juga males, karena dapurnya juga gak nyaman.
Gak nyaman gimana? Yah, secara singkat bisa kukatakan kotor dan berantakan. Maaf aku gak mau menceritakan secara rinci ๐Ÿ™‚

Mau nyuci baju juga males… karena yah alasannya sama kayak di atas deh.

Yups… aku tipe orang yang perlu tempat yang tepat untuk melakukan sesuatu.

Setiap habis mandi aku juga bukannya seger dan rileks, tapi malah cemberut dan bad mood. Yah.. alasannya sama kayak di atas.
Apalagi pas hamil tua gini, sering beser, membuatku harus sering bolak balik kamar mandi. Dengan keadaan kamar mandi yang tidak nyaman, membuatku stress juga.

Semua itu, ditambah ventilasi yang buruk (panas, pengap)… membuatku tertekan.
Aku jadi susah tidur. Mataku ngantuk, tubuhku lelah, tapi aku tidak bisa tidur. Kadang saking stressnya aku nangis-nangis sendiri, sambil berbicara pada janinku supaya dia cepat lair, supaya aku bisa segera keluar dari situ. Yah, tentu saja pas suamiku lagi kerja.

Oh ya… dulu rencananya seminggu setelah lairan aku akan tetap berada disitu, baru kemudian pulang ke rumah ortuku. Tapi, kemudian aku membayangkan kalo aku gak akan tega kalo bayiku berada disitu. Dengan kondisi rumah yang tidak sehat seperti itu. Ini juga jadi beban pikiranku.

Lama-lama suamiku bisa membaca kalo aku stress. Dia menanyakan kenapa? Awalnya aku gakmau terus terang… takut dia tersinggung. Tapi akhirnya aku gak kuat juga, kuceritakan semuanya. Kuceritakan bahwa aku gak betah di rumah ini karena bla bla bla.

Suamiku menghela napas, dan berkata,”ya, semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Dan inilah salah satu kekuranganku: rumahku berantakan. Tapi aku juga gak mungkin bilang ke mama (ibunya, maksudnya), karena mama bisa sakit hati. Mama gak boleh stress, Dik.”

Aku jawab:”tapi aku gak tahan Mas. Keadaan rumah ini bener-bener bikin aku stress. Ijinkan aku pulang saja ke rumah ortuku, daripada aku stress disini, kamu juga yang kena.”

Suamiku sepertinya emosi mendengar perkataanku, karena setelah itu dia berkata dengan nada keras,”kalau kamu pulang, aku akan tersinggung. Mama dan ayahku juga!”

Aku hanya bisa nangis.

Setelah itu hubungan kami makin memburuk. Aku semakin malas berbicara dengannya. Diapun juga sudah malas membujukku. Dua hari kemudian, aku benar-benar pergi dari rumahnya. Dan dia tampak marah sekali.

Saat itu aku hanya memikirkan aku dan bayiku. Aku takut kalo aku terus-terusan stress gitu, akan berpengaruh buruk terhadap janinku.

Sekarang, sudah hampir 2 minggu sejak aku pergi dari rumahnya. Gak bisa kupungkiri kalo aku kangen dia. Aku sudah mengirim pesan, tapi gak ada yang dibalasnya. Mungkin dia masih marah.

Kadang aku mikir, apa aku dah salah ngambil keputusan? Lalu aku harus gimana?

Kadang juga merasa bersalah sama mertua. Mereka sangat baik terhadapku. Sampe-sampe semua perlengkapan bayiku mereka semua yang beliin. Kapan hari mereka juga memberiku kejutan dengan membawaku ke rumahku tanpa sepengetahuanku… karena aku pernah bilang ke suamiku karena aku kangen ibuku. Ah… orang-orang baik itu. Kalau inget begitu, aku merasa bersalah sekali.

Andai saja rumah mereka nyaman dihuni… alangkah sempurnanya semuanya. Bukan mauku juga kalo aku gak tahan berada di rumah itu.

Ya, semua rumahtangga punya ujiannya sendiri-sendiri. Dan mungkin inilah ujianku kali ini.

Suamiku…. I miss you.

Ibu Hamil Jaman Dulu vs Ibu Hamil Jaman Sekarang

image

Sebagai ibu hamil yang berada di jaman serba internet ini (yup… sekarang aku lagi hamil 38 minggu), gak heran kalo aku rajin-rajin cari info soal kehamilan, baik dari forum maupun dari artikel. Informasi benar-benar tak terbatas, kita bisa cari apapun yang kita mau di internet.

Dunia maya yang tanpa batas ini seperti ini ada baiknya tapi juga ada jeleknya. Di satu sisi kita bisa mendapatkan info yang bermanfaat. Tapi di sisi lain, terlalu banyak info juga bisa bikin kita paranoid berlebihan. Padahal, info dari internet belum tentu benar juga.

Okey, sesuai dengan judul, yuk kita bahas santai, bedanya ibu hamil dulu dan sekarang.

1. Pas awal-awal tau kalo aku hamil, aku excited , gembira, tapi sekaligus bingung cemas. Secara aku tinggal sendiri di rantau. Jauh dari ortu dan suami. What I should do? Aku harus ngapain nih? Oh, aku harus cari dokter kandungan buat ngecek kandunganku tiap bulan. Cari dokter kandungan yang bagus, aku tanya teman-teman kantor. Teman-teman banyak yang merekomendasikan Dokter Z. Gak cukup dengan rekomendasi teman-teman, sebelum memutuskan untuk menjadikan Dokter Z sebagai dokterku… terlebih dulu aku cari di internet review soal Dokter ini. Setelah yakin kalo beliau kayaknya emang bagus, barulah aku kesana.

Sementara ibuku? ketika kutanya, gimana dulu waktu beliau hamil. Katanya sih cuma periksa aja di puskesmas. Dah gitu aja. So simple. Lairannya? di dukun beranak pernah, di bidan juga pernah.

Ibu juga pernah cerita kalo dulu pas hamil aku, beliau gak nyadar kalo lagi hamil. Yang ibu tau, beliau telat mens. Kemudian pergilah beliau ke bidan biar disuntik supaya mens nya lancar.

Trus aku protes,”lah… kenapa kok gak tes dulu hamil pa nggaknya. Kenapa buru-buru suntik mens?”

Jawab ibu:”yaaa… gak kepikiran. Jaman dulu mah kalo orang telat mens ya ke bidan aja buat suntik supaya mens nya lancar. Eh… tapi setelah suntik itu, bulan berikutnya ibu tetap gak mens. Ternyata ibu lagi hamil kamu. Berarti memang kamunya yang bandel, disuntik gak mempan.”

Hahaha… sial -_-

2. Soal skincare dan kosmetik.
Pada umumnya, ibu hamil jaman sekarang banyak yang berpendapat kalo menggunakan skincare dan kosmetik selama hamil itu hukumnya haram. Setidaknya itu yang kuliat pada teman-temanku, yang rela berkusam-kusam ria selama hamil.

Kalo browsing-browsing di internet, memang ada daftar panjang bahan-bahan/ingredients kosmetik yang dilarang digunakan oleh ibu hamil. Kategorinya pun macam-macam. Ada yang benar-benar tidak boleh digunakan karena terbukti bisa membahayakan janin pada manusia (seperti retinoid acid). Nah kalo ini gak usah dibantah lagi karena buktinya juga memang udah ada. Merkuri juga, bahaya buat ibu hamil. Tapi jaman sekarang, bodoh aja kalo masih ada yang mau pake skincare abal-abal yang terduga mengandung merkuri.

Ada yang kategorinya masih abu-abu alias belum terbukti pada manusia, seperti BHA/salicylic acid dan paraben.

Celakanya, jaman sekarang dua ingredients itu banyak terdapat di produk-produk yang beredar di pasaran. Setidaknya ada dua produk skincare harian yang kupakai yang mengandung BHA, yaitu Hadalabo Tamagohada Facial Wash, dan sabun dettol buat cuci tangan.

Sementara paraben? ya, itu bahan pengawet yang ada di hampir setiap kosmetik. Coba deh cek skincare/kalian, pasti ada parabennya (methylparaben).

Awalnya baca info itu, aku jadi takut pake skincare ku. Takut bayiku kenapa-kenapa, takut ngaruh ke janin. Aku beralih ikut aliran naturalis (halah), pake blenderan oatmeal buat cuci muka, pengganti facial wash. Aku cocok-cocok aja sih pake oatmeal, kulitku gak bereaksi aneh-aneh (jerawatan misalnya). Tapiii masalahnya, kamar mandiku jadi rusuh, gampang kotor dan licin lantainya oleh bekas-bekas oatmeal. Mana agak ribet pula pakenya. Disendok dulu ke telapak tangan, campur air dikit, bejek-bejek pake ujung-ujung jari sampe keluar ‘milk’ nya. Baru dipake buat cuci muka. Arrrgghh… rempong!

Gak tahan, akhirnya kembali lagi aku pake facial wash tamagohada. Awalnya sih takut-takut, tapi setelah kupikir dengan jernih:
* itu kan produk yang wash off. Yang cuma mampir sebentar di kulit kita, kemudian dibilas.
* pada produk pasaran (produk yang bukan produk dokter), pada umumnya gak ada yang mengandung ingredients yang ekstrim. Misalnya BHA pada Hadalabo, presentasenya dalam produk pastilah kecil.

Bismillah aja, akhirnya aku kembali pake skincare seperti biasa.

Pas aku tanya ke ibuku, gimana waktu beliau hamil dulu. Pake kosmetik-kosmetikan gitu gak. Ibuku jawab iya. “Tetep lah dandan seperti biasa.”

Hahaha… oke deh. Enaknya jadi ibu hamil jaman dulu, gak mikir ingredients segala -_-

3. Soal makan
Pas awal-awal hamil, aku rajin cari info makanan apa yang gak boleh dimakan sama ibu hamil. Mau makan rambutan, googling dulu boleh gak nya. Mau makan coklat, googling dulu. Mau mamam kepiting, googling dulu. Mau ngeteh, googling dulu. Capek sih, apalagi kadang informasi yang kita dapet simpang siur. Di artikel yang ini bilang boleh, di artikel yang lain bilang gak boleh. Pusing gak tuh!

Aku sempat ‘mengharamkan’ beberapa makanan:
* sate! takut dagingnya gak mateng bener. Tiap kali lewat warung sate favoritku, cuma bisa glek aja nyium aromanya.
* teh dan kopi, karena mengandung kafein. Katanya gak baik buat kalsium bayi dan ibu.
* ikan laut. Ikan laut emang bisa bikin cerdas bayi. Tapi jeleknya, ikan di lautan kita yang kotor ini resiko terpapar merkuri. Tau efek merkuri buat janin kan? bisa bikin autis.

Pas aku nanya ke ibuku, dulu pas hamil beliau ada pantangan makanan gak? jawabnya cuma hindari aja yang panas-panas, kayak durian dan tape. Dah, itu aja. Guampang ya -_-

Tapi aku pernah ngobrol sama temen, dan dia ngasi nasehat yang menurutku bijak. Gini katanya,”gak usah terlalu paranoid mbak. Dilogika aja kan bisa. Yang penting, kalo makan sesuatu jangan berlebihan aja. Duren, sepotong dua potong, bolehlah. Hamil gak hamil, kan sesuatu yang berlebihan emang gak baik.”

Alhasil, trimester ketiga ini aku mulai agak-agak ‘nakal’. Mulai berani incip-incip durian. Beberapa kali makan sate kambing, sering minum teh anget tiap pagi (aah… ini surga banget dah), dan sesekali minum kopi. Dan alhamdulillah kayaknya semuanya baik-baik aja. Tiap kontrol ke dokter hasilnya bagus, dan aku juga gak pernah flek.

4. soal melahirkan.
Menjelang HPL, aku mulai gelisah. Mikir, gimana ya lairanku nanti? gimana caranya untuk tau kalo emang udah waktunya melahirkan?
Yuk mare kita browsing-browsing lageee…
Kalo mau melahirkan, biasanya akan mengalami salah satu dari 3 ciri ini
* keluar lendir bercampur darah dari vagina
* pecah ketuban, ditandai dengan rembesan air yang mengalir tanpa bisa ditahan
* kontraksi yang intens

Trus, posisi janin juga bakal menentukan persalinan. Kalopun gak sungsang, bukan berarti aman-aman aja. Masih ada lagi namanya posisi janin anterior dan posterior. Kalo anterior akan lebih mudah nglairinnya, sedangkan kalo posterior agak susah. Kata artikelnya sih gituu. Nih, perbandingan posisi anterior dan posterior.

image
posterior
image
anterior

Jadi galau, janinku anterior apa posterior ya?

Trus galau juga, ketika baca kalo kita waktu lairannya udah lewat HPL, apalagi sampe lewat dari 42 minggu, bisa bahaya. Karena janin yang terlalu lama di dalam perut bisa mengalami pengapuran plasenta.

Pas aku tanya ke ibuku soal pengalamannya waktu lairan dulu. Kurang lebih kayak gini dialognya:
Aku: Bu, dulu ibu lairannya di minggu keberapa?
Ibu : nggak tau. Nggak ngitung. Yaa… pokoknya sekitaran 9 apa 10 bulan gitu.
Aku: Trus waktu lairan dulu ibu tanda-tanda yang muncul apa dulu? pecah ketuban, kontraksi, apa keluar lendir darah?
Ibu : mbuh, pokoknya kalo udah krasa perut sakit banget ya ibu naek becak ke bidan. Trus lairan deh.

Hadeeh… -_-
Jawaban ibu emang gak banyak membantu, tapi lumayan bikin aku agak nyantai. Sesantai ibuku menghadapi kehamilan dan persalinannya. Wkwkwk…

Gak mikir browsing dulu sebelum makan.
Gak mikir ingredients kosmetik.
Gak mikir HPL.
Gak mikir anterior posterior.
Indahnya dunia. Huehehe…

FYI, ibuku dulu nglairin aku dalam keadaan sungsang, di bidan. Kalo jaman sekarang, mungkin udah di-sesar kali ya.

Aku dan Jerawat (bagian 5) ~Tamat deh~

Oke! Sudah kuputuskan. Hari itu bulan Januari 2012. Aku bertekad berhenti menggunakan krim-krim Miracle. Aku langsung ganti ke rangkaian Ponds, krim yang dulu setia menemaniku sebelum aku kenal Miracle. Waktu itu aku menggunakan Ponds Flawless White.

Satu hari setelah lepas, wajahku masih bagus.
Dua hari, masih bagus juga.
Tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, kulitku tidak sehalus dulu lagi ketika disentuh. Terasanya setiap kali cuci muka, tekstur kulit mulai berubah agak-agak kasar. Ya, tapi secara keseluruhan kondisi kulitku masih bisa dibilang baik. Aku berusaha menerima keadaan ini sebagai sesuatu yang wajar, sebagai konsekuensi karena lepas dari krim klinik.

Hari demi hari berlalu. Dan semakin hari kulitku semakin jelek. Setelah tekstur kulit berubah kasar kemudian suatu hari aku baru menyadari kalo di wajahku tiba-tiba banyak bintik-bintik hitamnya, kayak flek gitu. Awalnya pas aku ngaca, aku kira itu hanya perasaanku saja. Tapi kemudian, pas aku makan bareng temenku, temenku komentar,”ih, mukamu kenapa tuh kok jadi bintik-bintik.” Kaget, seumur-umur aku gak pernah ada flek-flek/bintik-bintik, dan gak ada bakat flek juga.

Belum selesai sampai disitu, lama-lama muncul brintil-brintil jerawat. Awal-awal aku masih bisa nahan diri untuk gak ngusik-ngusik itu jerawat. Tapi lama-lama jerawat itu semakin banyak, semakin mengganggu. Tiap kali cuci muka, yang kesentuh tanganku adalah kulit yang kasar dan berjerawat. Arrgghh….!
Kejadian selanjutnya, bisa ditebak. Aku kembali ke kebiasaan yang lama: ngaca sambil mencet-mencet jerawat. Kadang saking kesalnya, aku kerok pake kuku permukaan jerawatnya, sehingga dagingnya terbuka dan menjadi kayak luka gitu. Dan kemudian bekas pencet-pencet dan kerok-kerok itu berubah warna menjadi hitam. Dan itu jumlahnya banyak di wajahku. Jadi bisa dibayangkan gimana jeleknya wajahku: banyak totol totol hitam bekas luka jerawat.

Meskipun aku sudah berhenti memakai krim-krim Miracle, tapi selama tahun 2012 aku masih menjalani MDPP rutin tiap bulan, dengan harapan totol-totol hitam ini segera enyah. Emang sih kalo abis MDPP, totol-totol hitamnya lekas memudar. Tapi masalahnya, jerawat-jerawatku belum berhenti tumbuh. Jerawat-jerawat itu tetap tumbuh lagi, tetep aku kerok-kerok dan pencet-pencet, dan tadaaa… jadilah bekas totol-totol hitam lagi.

Lama-lama aku nyadar, percuma saja aku MDPP tiap bulan. Selama aku belum bisa mengatasi jerawatku, totol-totol itu akan terus ada, lagi dan lagi. Jadi kayak buang-buang duit aja aku tiap bulan. Jadi kuputuskan: sementara aku belum bisa mengatasi jerawatku, aku gak akan MDPP dulu.

Aku mencoba ganti krim lain. Dari Ponds Flawless White aku ganti ke Ponds Clear Solution. Ponds Clear Solution ini = Ponds warna ijo, alias krim yang kupake jaman kuliah dulu, dan waktu itu aku cocok pake ini.

Tapi sayangnya kali ini aku kurang beruntung. Ponds ijo itu sudah gak lagi cocok sama kulitku. Dan aku tetep aja jerawatan.

Oke kita coba krim lain yang katanya bahannya alami: Gizi super cream. Sama juga, gak cocok.

Kulitku kayak nolak semua krim. Yang dulunya sebelum kenal krim Miracle, kulitku cocok sama semua krim itu, sekarang tidak. Capek, akhirnya aku berhenti saja pake krim-krim apapun. Mungkin kulitku harus puasa dulu. Mungkin harus ada jeda dulu untuk membersihkan kulitku dari krim-krim Miracle, barulah kulitku mau menerima krim baru. Oke, akupun menjalani apa yang kusebut sebagai bare face regimen . Bare face regimen ini maksudnya membiarkan kulitku polosan tanpa memakai krim-krim apapun. Hanya pake facial wash Viva/Viva Clean and Mask buat cuci muka (karena dia formulanya lembut dan PH balance). Selain itu, aku rutin menggunakan masker homemade alias bikinan sendiri (masker kunyit dan masker tepung beras).

Mungkin kalian beratanya,”apa gak kusem tuh muka dibiarin polosan?”

Emang kusem, tapi aku gak peduli. Yang jadi fokusku saat itu hanyalah bagaimana supaya aku gak jerawatan.

Sepertinya bare face regimen ini merupakan langkah yang tepat, karena semakin hari, perlahan tapi pasti, kulitku semakin membaik. Jerawat udah jarang muncul (tetep sih muncul, tapi udah jarang). Trus PR nya ganti lagi dong: bukan lagi gimana mengatasi jerawat, tapi gimana mengatasi komedo. Ya, wajahku jadi sering dihinggapi komedo (baik komedo whitehead maupun blackhead). Tapi kurasa itu karena aku gak pake krim apapun, jadi kulitku kering (dehidrasi), sehingga memicu tumbuhnya komedo.

Sekitar tahun 2013 akhir, aku memberanikan diri memakai Ponds Flawless White lagi, lengkap 1 rangkaian: facial wash, day cream, dan night cream. Sempat cocok pada awalnya. Kulitku jadi tampak cerah merona, dan sempat dikomen temen-temen kantor kalo mukaku cerahan. Tapi semakin lama, kulitku kayak iritasi. Perih tiap kali cuci muka. Mungkin Ponds sekarang formulanya lebih keras, atau bisa jadi juga kulitku yang udah terlanjur ‘tipis’ sehingga jadi sensitif.

Oke… stop lagi deh Pondsnya. Balik lagi ke Viva, sampe kulitku gak iritasi lagi.

Meskipun cocok, lama-lama aku bosan juga pake Viva terus. Dia emang bener-bener cuma buat bersihin wajah aja dari debu/kotoran, tapi gak ada efek mencerahkan, dan tidak bisa menghalau kulit kusam. Mulailah aku hunting-hunting lagi, nyari ‘selingkuhan’, dan ketemulah sama HadaLabo Tamahohada facial wash. Awal-awal pake Hadalabo, kulitku tampaknya menyukainya, karena tidak ada reaksi aneh-aneh seperti jerawat atau iritasi. Oke, aku terusin. Dan ternyata emang cocok: tidak menimbulkan jerawat (karena mengandung BHA yang membersihkan pori-pori), dan ada efek mencerahkan (karena mengandung AHA). Sampe sekarangpun aku masih pake facial wash ini. Udah gak pengen ganti lagi. Entah udah berapa botol aku repurchase. Meskipun bisa dibilang cocok, tapi tetep aja loh, komedo blackhead menghampiri. Sekali lagi, itu karena aku belum juga make pelembab apapun. Tapi biarin deh, yang penting mukaku udah mendingan. Oh ya, waktu itu tahun 2014.

Akhir tahun 2014 aku menikah, pertengahan tahun 2015 aku hamil. Semenjak hamil, entah kenapa kulitku terasa lebih halus dan bersih. Sepertinya hormonku sedang baik. Karena kurasa kondisi kulitku sedang stabil, maka aku mulai berani memikirkan untuk menggunakan rangkaian skincare lengkap. Setelah browsing-browsing dan merenungkan bibit bebet bobotnya (*halah), akhirnya inilah rangkaian skincare ku sekarang. Aku menggunakannya mulai tanggal 31 Oktober sampai dengan sekarang (selain Tosowoong ya, karena tosowoong aku baru pake beberapa hari ini):

image

image

Step-step skincare-ku, itu yang di foto udah aku susun berurutan (yang foto sebelah atas):
1. Cuci tangan dulu pake sabun dettol. Ya, iya dong, masa’ mau bersihin muka, tapi tangannya masih belum bersih.
2. Ambil Hadalabo facial wash, tuang di telapak tangan. Busakan. Kemudian baru oles-oles dan ratakan di wajah.
3. Pake Tosowoong 4D cleansing brush, sebagai alat bantu membersihkan wajah. Kalo dah selesai, basuh wajah sampe sisa-sisa busa ilang, dan wajah bersih.
4. Ambil kapas, tuang Viva Face Tonic Greentea. Kemudian usap-usapkan ke wajah, untuk mengangkat residu facial wash yang mungkin masih tersisa.
5. Ambil kapas lagi, tuang air mineral. Usap-usapkan di wajah. (Itu yang botol Viva Face Tonic, yang warnanya bening, itu isinya air mineral). Kenapa aku perlu membersihkan wajah pake kapas sampe 2 kali gitu? selain untuk membersihkan residu facial wash, juga untuk membersihkan residu dari air keran yang tadi kupake basuh muka. Ya, air keranku emang gak gitu bersih. Kalo diendapkan di ember beberapa hari, akan timbul endapan lumut berwarna hitam.
6. Kalo pagi dan siang, setelahnya aku oleskan Ultra Light Hydrator TDF sebagai pelembab. Ini pelembab ringan banget, gak nutup pori-pori dan gak bikin komedo atau jerawat. Akhirnya, nemuin juga pelembab yang cocok.
7. Kalo malam, yang aku olesin beda lagi, yaitu TDF C Scape Serum. Ni serum Vitamin C mampu mencerahkan wajah. Dan aku cocok dengan ini.

Gambar bawahnya: Itu masker-masker bubuk. Aku pake setiap 2-3 hari sekali, tergantung mood. Pernah nyoba mask sheet, tapi aku gak gitu suka. Lebih mantap pake masker bubuk rasanya. Kalo masker-masker bubuk ini kurasa lebih berfungsi sebagai pengurang minyak di wajah sih. Jadi pas hari gerah wajahku gak terlalu yang oily gitu.

Alhamdulillah sampe saat ini kulitku sehat sentosa. Perasaan ini yang dah lama kurindukan. Perasaan lega karena wajahku gak lagi dicermati teman karena jerawatku dan luka-luka bekas jerawatku kemudian ditanyain:”kok sekarang jerawatan sih?”
Perasaan lega karena sudah berani melihat wajahku sendiri lagi di cermin.
Perasaan lega karena gak lagi minder tiap bercakap-cakap dengan orang.
Perasaan lega karena tidak malu lagi menunjukkan wajah telanjangku yang tanpa make up.

Kulitku emang gak kinclong moblong-moblong. Tapi aku sudah cukup bersyukur. Untuk orang yang kulitnya pernah bermasalah sepertiku, have normal skin is more than enough ๐Ÿ™‚

Oh ya, menurut analisis (*pret) sotoy-ku, kemungkinan di antara krim harian rutin yang kupake dari Miracle itu ada yang mengandung kortikosteroid dan hidroquinone.
Kenapa?
Seperti yang aku bilang di awal tadi, wajahku tiba-tiba timbul flek-flek bintik hitam pasca berhenti pake krim klinik. Kayak semua noda-noda wajah tiba-tiba muncul ke permukaan. Pernah baca, kalo itu adalah efek yang terjadi ketika kita menghentikan pemakaian hidroquinone. Semakin lama kita pake hidroquinone, maka akan semakin parah efeknya ketika kita berhenti. Efek samping pemakaian hidroquinone dalam jangka waktu lama adalah ochronosis, yaitu kondisi dimana kulit akan berubah warna menjadi abu-abu,

image

Untung flek-flek hitam di wajahku lambat laun bisa hilang. Mungkin karena aku belum terlalu lama juga pakenya (2 taun), jadi gak berefek parah.

Sedangkan untuk jerawat yang terus bermunculan setelah berhenti pake krim klinik, itu bisa jadi karena efek kortikosteroid. Jadi gini, sebenernya kortikosteroid itu fungsinya adalah meredakan peradangan/iritasi pada kulit, dan dia mempunyai efek samping memutihkan. Jadi, kadang ada klinik-klinik yang mencampurkan kortikosteroid di krim harian mereka dengan tujuan supaya pasien mendapatkan hasil kulit yang cerah dalam waktu yang relatif tidak lama. Padahal sejatinya, bukan untuk itu penggunaan kortikosteroid. Dan penggunaan dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan penipisan kulit, karena steroid mempunyai efek mengikis kulit.

Sedangkan untuk jerawat, kortikosteroid mempunya efek ‘meredam’ jerawat. Jadi sebenarnya, penggunaan krim bersteroid hanya membuat jerawatmu dipendam di bawah kulit. Jadi kalo kamu yang asalnya berjerawat, terus pake krim bersteroid, kemudian jerawatmu tampak hilang dan wajahmu jadi mulus…. jangan senang dulu. Ingat, jerawat itu hanya sedang ‘bersembunyi’, bukan sudah sembuh/hilang. Begitu kamu menghentikan penggunaan steroid…. boom! semua jerawat-jerawat yang selama ini bersembunyi itu akan ngamuk dan keluar semua.

Correct me if I wrong ya….

Aku masih cukup beruntung bisa normal lagi wajahku, walaupun perlu waktu lama. Ya, 4 taun.

Temanku Si Wati, teman yang sama-sama perawatan di Miracle dulu, dia lepas dari krim Miracle tahun 2012 akhir. Dan sampe sekarang wajahnya masih rutin dihinggapi jerawat, dan bekas-bekas hitamnya bertotol-totol menghiasi wajahnya. Nampaknya dia belum menemukan regimen skincare yang pas untuk kulitnya. Padahal, sebelum pake Miracle dulu, dia wajahnya baik-baik saja, pake Ponds. Emang gak kinclong atau bening, tapi cukup enak dilihat. Yah, just normal. Semoga dia segera sembuh, soalnya kadang kasian liatnya.

Mungkin ada di antara kalian yang lepas dari krim klinik tapi muka tetap baik-baik saja? ya, daya tahan kulit dan tubuh orang itu beda-beda.
Contoh perbandingannya, gini:
Dulu aku pernah beli ikan di pasar tradisional. Ternyata ikan itu bukan ikan segar, sehingga setelah dimasak dan aku memakannya…. aku keracunan. (Bah, itulah seumur-umur aku punya pengalaman keracunan).
Sementara temanku, yang juga makan ikan itu, gak kenapa-kenapa alias baik-baik saja. Ya, karena daya tahan tubuh kami beda.
Tapi bukan berarti dong, trus temanku lempeng aja nerusin makan tuh ikan sampe habis. Meskipun pencernaannya tahan terhadap bakteri dari ikan itu… tapi sejatinya kan ikan itu sebenarnya bukan bahan konsumsi yang baik, karena tidak segar. Atau bisa jadi juga dia baru akan kena efek keracunan setelah makan tiga ekor ikan misalnya. Bisa juga gitu.

Jadi, itulah kenapa ada orang yang dalam tempo 1 taun udah merasakan efek samping krim klinik. Ada yang baru merasakan 3 tahun kemudian. Ada juga yang baru merasakan 5 taun kemudian. Ya, karena daya tahan kulitnya beda-beda cuy…

Hmm… apa lagi ya? Udah itu aja kayaknya.

The end. Bhay!

Aku dan Jerawat (bagian 4)

Oke… sekarang kita lanjut lagi ceritanya.

Di tengah-tengah cerita tentang mulusnya wajahku, terbersit pikiran: bagaimana jika aku berhenti perawatan dan berhenti pake krim-krim ini? apakah wajahku akan tetap baik-baik saja? tetap semulus inikah? karena aku pernah dengar kalo krim-krim klinik kecantikan itu bisa bikin ketergantungan. Kalo berhenti make, wajah kita kondisinya akan jadi lebih buruk dari sebelum pake.

Mungkin ada yang bilang: ah, itu mah bukan ketergantungan. Sama aja kalo kamu rutin cuci muka tiap hari, wajah jadi bersih. Tapi kalo kamu berhenti cuci muka, ya jelaslah bakal kusem. Lawong dari dirawat menjadi gak dirawat. Sama aja kalo kamu punya muka kinclong karena kamu rawat dengan menggunakan krim-krim klinik sehingga kinclong. Kalo kamu gak pake krim itu lagi, ya wajarlah mukamu jadi kusem dan jerawatan lagi karena gak kamu rawat lagi pake krim-krim itu.

Gaess…. bukan seperti itu yang aku sebut ketergantungan. Coba kita bikin perbandingan kayak gini:
1. Si A adalah pecandu narkoba. Udah pake narkoba rutin dalam jangka waktu lama. Kalo dia gak pake narkoba, dia bisa sakaw berat. Dan narkoba ini bagi dia gak bisa diganti dengan apapun. Misalnya: ah, aku mau berhenti pake narkoba ah. Mau kuganti rokok aja. Toh rokok sama narkoba sama-sama punya efek menenangkan.
No, no… gak semudah itu keles.
Tapi masa’ Si A gak bisa berhenti dari narkoba? bisa, tapi butuh usaha yang gigih dan waktu yang tidak sebentar.
2. Si B suka banget ma sushi. Selama ini dia sering banget makan sushi. Suatu hari si B hamil, dan dokter melarangnya mengkonsumsi sushi selama dia hamil, karena makanan yang tidak matang bisa berefek tidak baik bagi janin. Trus gimana dong nasib Si B? Ya gak gimana-gimana. Dia toh tetep bisa makan makanan yang lain. Masih bisa makan bakso, soto, gado-gado, dll. Efek sampingnya palingan dia cuma ngences kalo ngliat gambar sushi. Di luar itu, dia tetap hidup dan sehat-sehat saja.

Jadi kesimpulannya?
Krim klinik mungkin bisa diibaratkan kayak narkoba. Susah banget lepasnya. Gak semudah sekedar lepas, trus ganti pakai krim bebas di pasaran, kemudian wajah kita tetap kinclong. Nggak, nggak semudah itu. Ntar aku ceritain gimana selama 4 tahun ini aku berjuang melawan ketergantungan terhadap krim klinik, sampe akhirnya kulit wajahku bisa balik normal lagi.

Kalo krim klinik ibarat sushi, tentu akan mudah mencari penggantinya. Tinggal ganti aja pake soto, ups pake Ponds atau Garnier maksudku. Toh intinya kita tetap merawat kulit, hanya saja pake krim lain. Tapi kenyataannya gak semudah itu loh.

Ini aku screenshoot salah satunya, dari Forum Femaledaily. Disana buanyaaak yang share pengalaman gimana ‘perjuangan’ mereka untuk berhenti menggunakan krim klinik/krim dokter. Kalo kamu pengen tau lebih banyak cerita mereka, search aja di google dengan kata kunci: femaledaily forum+melepaskan ketergantungan pengobatan dokter kulit.

image

Ada lagi ini cerita yang lebih ekstrim, ini aku screenshoot dari blog Moodymoodpecker-nya Pratiwi Wijayanti. Jadi inget dulu waktu dulu pertama kali aku baca cerita ini, rasanya pengen nangis. Rasanya ‘perjuanganku’ gak ada apa-apanya dibandingkan orang dalam cerita ini:

image

image

image

Hal lain yang membuatku berfikir untuk berhenti pakai krim klinik ini adalah: bagaimana kalau aku nanti menikah dan hamil (ya, waktu itu tahun 2011, aku belum nikah). Seperti kita tau, wanita hamil mempunyai pantangan-pantangan terhadap bahan-bahan tertentu yang ada pada krim wajah, seperti retinoid, BHA, Hidroquinone (apa lagi ya?). Nah, masalahnya, krim wajah klinik yang aku pake tidak mencantumkan bahan-bahannya apa aja.

Pernah aku bertanya pada dokternya:”Dokter, krim malam ini bahannya apa ya?”
Dia jawab:”itu whitening.”
Aku.ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย  :”whiteningnya apa dok?”
(maksud aku, whitening agent kan banyak macemnya, ada niacinamide, arbutin, kojic acid, AHA, licorice, dll. Nah, ada whitening yang boleh digunakan untuk ibu hamil, dan ada yang tidak)
Dokterย ย ย ย ย ย  :”ya, macem-macem whitening.”

*jiahh… glodak!
*pingsan

Pernah juga waktu itu aku treatment MDPP disana. Waktu itu tahun 2014, menjelang nikah, aku pengen wajahku bersihan. Iya, memang sih aku dah lama berhenti pake krim-krimnya pada waktu itu, tapi untuk tritmennya aku masih kadang-kadang kesana. Untuk perawatan wajah, baik facial maupun tindakan medis… aku akuin memang Miracle Aesthetic Clinic ini top banget. Higienis, steril, dan langsung menunjukkan hasil yang nyata. Recommended dah pokoknya. Tapi kalo untuk pake krim-krim racikannya dalam jangka panjang, I say: no, thanx.

Nah, yang bikin aku ‘takjub’, dokternya bilang gini:”mbak, kalo mau lebih cepet kinclongnya, pake aja topi krim tiap malem sampe nanti hari-H.” Aku iya-iyain aja, padahal dalam hati aku bilang gini:”hadeh gimana sih dok. Ni topi cream/krim anti iritasi, kan isinya kortikosteroid, yang gak boleh dipake jangka waktu lama. Maksimal 5 hari aja.”

Mau tau akibatnya kalo kita memakai krim bersteroid dalam jangka waktu panjang? Sok atuh baca:

image

image

Menurutku sayang sekali kalau klinik sekelas Miracle, product knowledge dokternya kurang joss.

Oh ya, kalau kalian baca postinganku yang berjudul “Aku dan Jerawat (bagian 3)”, kalian akan tau kalau aku sehari-hari menggunakan krim racikan bernama acne base gel. Dan ternyata di kemudian hari aku baru mengetahui kalau di dalam krim acne base gel itu ada antibiotik clindamycin. Mungkin ada yang udah tau, ada yang belum; bahwa antibiotik itu gak boleh dipake dalam jangka waktu lama karena bisa menyebabkan resistensi/kebal. Dan aku sudah menggunakan krim itu selama 2 taun -_- . Padahal waktu itu aku rutin tiap bulan kontrol dan perawatan disana, tapi dokter gak menjelaskan apa-apa soal ini. Tiap kali kontrol hanya ditanya apakah krimku masih atau dah habis. Kalau habis diresepin lagi untuk di-repurchase. Dah, gitu aja.

Bagaimana kondisi wajahku setelah lepas dari krim klinik? Baca di postingan berikutnya yaa…